Laporan Tempo dari Rusia: Menyesap Piala Dunia 2018 yang Hangat

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di tepi sungai Iset, Yekaterinburg, Sabtu 23 Juni 2018. Piala Dunia membuat kota ini lebih semarak. Tempo/Gabriel W Titiyoga

    Suasana di tepi sungai Iset, Yekaterinburg, Sabtu 23 Juni 2018. Piala Dunia membuat kota ini lebih semarak. Tempo/Gabriel W Titiyoga

    TEMPO.CO, JakartaPiala Dunia 2018 di Rusia berlangsung dalam musim panas yang hangat. Orang-orang menyimpan jaket mereka dan berkeliaran di jalan dengan busana yang lebih santai.

    Saya pun larut dalam kemeriahan Piala Dunia. Makan di kedai terbuka hingga menikmati keriuhan pesta para suporter di Fan Fest. Dengan 100 rubel atau sekitar Rp 23 ribu, saya bisa menikmati es krim atau arum manis sembari berjemur sejenak di kursi taman.

    Belakangan saya baru sadar bahwa kenikmatan musim panas ini membawa perubahan. Yang paling saya rasakan adalah durasi tidur yang memendek. Jam biologis saya rupanya sudah berubah.

    Matahari terbit lebih awal ketika musim panas. Sekitar pukul 3.30 pagi, langit sudah terang benderang. Matahari baru terbenam menjelang pukul 11 malam. Pada puncak musim panas di Rusia, ada kalanya tak ada gelap sama sekali karena waktu terbit dan terbenamnya matahari yang sangat mepet.

    ADVERTISEMENT

    Di Indonesia, pukul tujuh malam biasanya tubuh sudah memberi sinyal untuk istirahat karena hari telah gelap. Selama di Rusia, mata baru bisa terpejam selepas pukul 12 malam lalu terjaga tiga jam kemudian.

    Saya sebenarnya sudah berusaha untuk mengatur jadwal tidur. Juga menutup tirai rapat-rapat di kamar agar sinar matahari tak masuk. Toh, tetap saja durasi tidur saya agak kacau gara-gara terang yang berkepanjangan ini.

    Atraksi-atraksi dan pusat keramaian yang berkaitan dengan Piala Dunia juga membuat saya lebih asyik berkeliaran di luar. Ternyata saya melihat hal serupa dilakukan warga lokal. Banyak yang masih asyik jalan-jalan lewat dari pukul 10 malam. “Tidak seperti di negaramu, musim panas di sini pendek, jadi nikmatilah mataharinya selagi ada,” kata seorang kawan.

    Demi badan tak rontok gara-gara kurang tidur, akhirnya saya berkawan dengan selembar kain penutup mata yang saya dapat dari penerbangan. Lumayan ampuh ternyata. Durasi tidur membaik dan tubuh kembali segar.

    GABRIEL WAHYU TITIYOGA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.