Piala Dunia 2018: Jepang Kalah, tapi Tetap ke 16 Besar

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gelandang Jepang, Keisuke Honda, mencetak gol penyama kedudukan ke gawang Senegal dalam pertandingan Grup H Piala Dunia 2018 di Ekaterinburg Arena, Rusia, 24 Juni 2018. REUTERS/Marcos Brindicci

    Gelandang Jepang, Keisuke Honda, mencetak gol penyama kedudukan ke gawang Senegal dalam pertandingan Grup H Piala Dunia 2018 di Ekaterinburg Arena, Rusia, 24 Juni 2018. REUTERS/Marcos Brindicci

    TEMPO.CO, JakartaJepang dikalahkan Polandia 0-1 dalam pertandingan terakhir penyisihan Grup H, namun tim Samurai Biru tetap lolos ke babak 16 besar karena Kolombia berhasil mengalahkan Senegal 1-0, Kamis malam, 28 Juni 2018.

    Dengan demikian, Kolombia menjadi juara grup dengan nilai 6 dan Jepang sebagai runner-up dengan nilai 4. 

    Satu hal yang berbeda dari kesuksesan Jepang tahun ini dibandingkan sebelumnya adalah, mereka lolos lewat penilaian fair play. Jepang menyisihkan Senegal dalam persaingan di grup H, meskipun kedua tim memiliki nilai dan selisih gol yang sama.

    Baca juga: Piala Dunia 2018: Jadi Runner-up, Inggris Justru Lebih Untung

    Keunggulan Jepang adalah dari koleksi kartu kuning selama penyisihan grup. Tim yang dilatih Akira Nishino itu diganjar 4 kartu kuning dari 3 pertandingan, sementara Senegal yang dilatih Aliou Cisse punya koleksi 6 kartu kuning.

    Di perdelapan final, Jepang menghadapi juara Grup G,  Belgia, yang mengalahkan Inggris, Jumat dinihari. Inggris akan menghadapi Kolombia.

    Polandia berhasil mengalahkan Jepang 1-0 dalam pertandingan Grup H putaran final sepak bola Piala Dunia 2018 di Volgograd Arena, Volgograd, Rusia, Kamis.

    Gol tunggal kemenangan Polandia dicetak oleh Jan Bednarik pada menit ke-59. Sedangkan gol Kolombia dihasilkan Mina di menit ke-74.

    FIFA.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.