Rabu, 19 September 2018

Laporan Tempo dari Rusia: Kemenangan dan Jeritan di Balkon

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suporter Rusia berpose sebelum pertandingan 16 besar Piala Dunia 2018 antara Spanyol dan Rusia di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, Ahad, 1 Juli 2018. Keduanya berebut tempat menuju perempat final Piala Dunia. REUTERS/Kai Pfaffenbach

    Suporter Rusia berpose sebelum pertandingan 16 besar Piala Dunia 2018 antara Spanyol dan Rusia di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, Ahad, 1 Juli 2018. Keduanya berebut tempat menuju perempat final Piala Dunia. REUTERS/Kai Pfaffenbach

    TEMPO.CO, Jakarta - Kemenangan Rusia atas Spanyol membuat ribuan warga Kazan yang menonton siaran pertandingan di fan fest Piala Dunia 2018 di Taman Keluarga bersukaria. Mereka tetap bertahan di arena itu merayakan kemenangan meski pertandingan sudah selesai.

    Taman yang dibangun pada 2013 di tepi Sungai Kazanka itu kerap dipakai sebagai lokasi pernikahan. Di tempat itu dipasang panggung observasi berbentuk mangkuk raksasa setinggi 32 meter.

    Patung-patung zylant, hewan legenda mirip naga bersayap, raksasa berdiri di masing-masing sudut panggung observasi itu. Zylant menjadi bagian dari kisah berdirinya kota pelabuhan berusia 1.013 tahun itu. Sejak 1730, zylant dijadikan sebagai lambang resmi Kota Kazan. Hewan mitos ini juga muncul dalam ilustrasi yang menghiasi dekorasi Piala Dunia.

    Taman Keluarga ini dijadikan fan fest karena areanya yang luas dan berada di pusat kota. Penyelenggara Piala Dunia di Kazan merancang tempat ini untuk bisa menampung 25 ribu penonton.

    Satu jam sebelum pertandingan Rusia melawan Spanyol di Stadion Luzhniki, Moskow, dimulai pada Minggu sore lalu, taman ini sudah dipenuhi penonton. Banyak suporter yang terlambat mengikuti jalannya pertandingan karena antrean panjang di pintu masuk fan fest. Namun penantian panjang mereka berbuah manis setelah Rusia sukses mengalahkan Spanyol 4-3 lewat adu penalti.

    Kegembiraan akan kemenangan Rusia menyebar. Di sekitar permukiman di kawasan Adoratskaya, sekitar 800 meter dari Stadion Kazan Arena, banyak penghuni apartemen yang merayakan kemenangan itu beramai-ramai di jalan dan taman.

    Sebagian lagi merayakannya dari balkon apartemen masing-masing. Mereka membuka jendela, melambaikan bendera, dan berteriak, “Rusia menang! Rusia menang!” Orang-orang di jalanan membalas teriakan mereka dengan lebih seru lagi. Suara trompet nyaring terdengar bersahutan.

    Perayaan berlangsung hingga lewat pukul sembilan malam. Di jalan-jalan banyak pengemudi yang membunyikan klakson berkali-kali merayakan sukacita mereka. Padahal biasanya suara klakson sangat jarang terdengar.

    Perayaan serupa terjadi di Ufa, ibu kota Republik Bashkortostan yang berjarak sekitar 1.300 kilometer dari Moskow. Pusat kota dipenuhi para suporter Rusia.

    “Mendadak ramai banget,” kata Sarah Edna Fadilah, mahasiswi Indonesia yang tengah menempuh studi kedokteran di Baskhir State Medical University.

    Di jalanan, ramai terdengar suara klakson mobil dan motor bersahutan. “Ada yang pasang kembang api di taman-taman kota,” kata Sarah.

    Asrama yang dihuni Sarah juga langsung ramai setelah Rusia menang. Padahal asrama itu dihuni banyak mahasiswa asing. “Bayangkan, asrama seperti mau pecah,” kata Sarah. “Semua lari-lari di koridor, teriak-teriak keluar jendela.”

    Berasal dari berbagai negara, seperti Nigeria, Ghana, India, Uganda, dan Vietnam, semua pelajar itu ternyata mendukung tim Rusia. “Yang dari Mesir pun mendukung Rusia. Mereka enggak sakit hati meski pernah dikalahkan” katanya.

    GABRIEL WAHYU TITIYOGA


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.