Afrika dan Sepak Bola Kompak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Ayu Ambong

    TEMPO/Ayu Ambong

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Waktu terasa kian cepat sekarang. Terutama buat orang yang hidup di kota-kota metropolis di dunia dan tak terasa putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan tinggal 10 hari. Untuk pertama kali puncak perhelatan cabang olahraga terpopuler di dunia itu berlangsung di Benua Afrika. Sebuah petualangan baru. Namun, hal yang bukan anyar adalah tempo dan ruang-ruang pemainan sepak bola di lapangan. Kian lama tambah cepat dan terasa sesak di lapangan.

    Pelatih Inggris, Fabio Capello, marah ketika para pemainnya terlalu lama membiarkan pemain Meksiko menguasai bola dan bergerak memasuki daerah pertahanan Inggris pada babak pertama dalam pertandingan persahabatan di Stadion Wembley, London, pekan lalu. Laga itu juga uji coba buat dua tim tersebut sebelum mereka tampil dalam putaran final Piala Dunia 2010.

    Pressing adalah salah satu kata yang sering disebut-sebut kalau kita berbicara mengenai pertandingan sepak bola sekarang. Dalam irama sepak bola yang kian bergegas itu. “Terus tekan pemain yang sedang membawa bola, persempit daerah permainan mereka.” Itu antara lain kata-kata yang biasa kita dengar dari seorang pelatih.

    Hal lain adalah efisiensi. Tak ada lagi pemain yang hanya berpatok pada satu tugas, menyerang atau bertahan saja dan tak terlibat dalam urusan pressing itu. Franz Beckenbauer mengeluh pada hari-hari terakhirnya sebagai pemain profesional di Liga Jerman pada 1982. Ia bermain dua tahun di Hamburg sebelum balik lagi ke New York Cosmos. Setahun kemudian ia gantung sepatu di New York.

    Di Hamburg itu, Beckenbauer mengeluh. “Sepak bola sekarang terlalu fisikal,” katanya. Sang Kaisar itu tidak bisa lagi berlama-lama dengan bola dan dengan anggunnya bergerak dari belakang ke depan. Pressing dan irama permainan kian lama tambah ketat dan cepat.

    Nyaris lenyap posisi libero yang anggun itu. Sang jenderal seperti Beckenbauer yang berdiri bebas di belakang empat bek sejajar. Saya masih ingat ketika Danurwindo menjadi pelatih tim nasional Indonesia 1995-1996 menerapkan apa yang didapatkannya dari Italia yaitu menggunakan pola empat bek sejajar. Sejumlah pemain mengeluh karena terbiasa bermain sebagai bek tengah yang bebas dan tak perlu harus mengawal lawan yang terdekat.

    Seorang bek sayap untuk terpilih masuk tim inti tak bisa hanya mengandalkan keliatannya menjaga lawan, tapi harus mengasah kemampuannya untuk menyambut umpan atau menggiring bola menembus pertahanan. Begitu juga sebaliknya, hanya tim-tim tertentu dan atas dasar pertimbangan matang yang membiarkan pemain sayapnya berkonsentrasi di depan. Pada umumnya sekarang seorang penyerang juga harus mundur ke belakang atau menekan lawan sejak kehilangan bola di depan.

    Irama pertandingan sepak bola sekarang seperti hidup di kota-kota metropolis itu. Orang-orang yang bergegas di terminal dan jalan-jalan protokoler dan bukan lagi mereka yang masih bisa berleha-leha di suatu siang di bawah pepohonan Kota Lawang atau Malang, misalnya.

    Sepak bola sekarang itu mengikuti zamannya, mengikuti kemasan yang kian kompak. Pentas wayang dari semalam suntuk menjadi cukup beberapa jam saja. Tak ada lagi yang berani menggelar pentas teater semalaman, tujuh jam, seperti mendiang Rendra ketika memanggungkan Panembahan Reso di Istana Olahraga Gelanggang Olahraga Bung Karno, Jakarta, 1986.

    Luas perumahan bagi kelas menengah dan kaum kebanyakan kian seperti kandang burung dara. Itu persis dengan presssing yang membuat ruang-ruang permainan dalam satu pertandingan sepak bola kian sempit saja dan hanya pemain sekelas Lionel Messi saja yang bisa tetap mempermainkan bola dengan indahnya.

    Zamannya terus bergegas dan perubahannya membuat orang terkaget-kaget untuk mengikuti dan menaklukannya. Jangan-jangan sepak bola Indonesia ketinggalan jauh
    karena tak terbiasa dengan irama yang serbabergegas itu.

    Di lorong bawah tanah Blok M, saya kesandung sepasang pemuda-pemudi yang dengan santainya menuruni tangga tanpa mempedulikan sekitar. Tapi, tahun lalu, di Berne, Swiss, sebaliknya, ketika keluar dari kereta bawah tanah ketika meliput Euro 2008. Orang dari belakang yang mendorong saya untuk cepat-cepat keluar dari pintu stasiun. PRASETYO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.