Jabulani, Bola yang Semakin Bulat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Kai Pfaffenbach

    REUTERS/Kai Pfaffenbach

    TEMPO Interaktif!-- @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } -->,Publik Inggris sempat dibikin ketar-ketir bulan lalu. Gara-garanya harian Daily Mail memberitakan bahwa Wayne Rooney cs di kamp latihannya di Austria kesulitan bermain menggunakan Jabulani. Bola resmi buatan Adidas itu sulit dikontrol dan menjadi mimpi buruk bagi penjaga gawang karena melesat terlalu cepat di udara, terutama dalam kondisi atmosfer dengan kadar udara yang tipis khas Afrika Selatan.

    Skuad The Three Lions juga mengeluh tidak punya banyak waktu untuk menjajalnya. Jerman, Daily Mail memprediksi, justru bisa meneguk keuntungan karena telah mencoba bola jenis itu di sepanjang musim Bundesliga yang lalu. Sebagai pembanding, Liga Primer Barclay di Inggris menggunakan bola buatan Nike. Dalam pertandingan skala internasional di tanah airnya, Inggris terikat kontrak menggunakan bola Umbro.

    Berharap saja Rooney cs hanya belum terbiasa karena Adidas mengklaim Jabulani justru bola paling sempurna yang pernah dibuatnya. Teknologi Grip and Groove yang diusungnya kali ini digadang-gadang mampu membuat Jabulani lebih stabil di udara ketimbang bola lainnya.

    Teknologi itu mencakup lapisan bertekstur mikro di permukaan terluarnya, yang memungkinkan para pemain dunia mengontrol bola sesuai dengan kehendak hatinya dengan mudah di segala kondisi cuaca. Klaim itu dibuktikan lewat uji di laboratorium independen di Loughborough University, Inggris, serta uji ribuan kali dalam wind tunnel dan laboratoriumnya sendiri di Scheinfeld, Jerman.

    Dengan hanya delapan panel dari material polyurethane dan ethylene vinyl asetat yang terekat oleh panas, Jabulani (yang dalam bahasa setempat berarti berpesta) tidak hanya menjadi bola paling sempurna bulatnya, tapi juga paling akurat yang pernah dibuat Adidas.

    "Kami memang terobsesi untuk membuat bola yang bentuk dan beratnya tidak berubah sejak menit pertama hingga ke-90," kata Antonio Zea, Direktur Adidas Soccer Amerika Utara. "Ini adalah tentang kemampuan membuat para pemain bisa menunjukkan kebolehannya mengolah dan mengontrol bola hingga di levelnya yang tertinggi."

    Bukan cuma memberi keseimbangan yang sempurna ketika melayang, Zea menambahkan bahwa bentuk Jabulani yang bulat sempurna juga mengurangi kemungkinan air meresap ke dalamnya. Zea membandingkannya dengan bola pemilik 32 panel, yang pelipitnya saling memotong pasti akan mempengaruhi setiap tendangan dan umpan yang dilepaskan pemain.

    "Jabulani menciptakan sebuah permukaan bidang tendang yang homogen," kata dia. "Kami percaya telah meningkatkan permukaan bidang tendang hingga 70 persen yang memungkinkan para pemain mentransfer seluruh kekuatannya ke bola yang hendak ditendangnya."

    Manajer Humas Adidas Zobuzwe Ngobese membenarkan bahwa pemain dalam tim yang disponsori Adidas sudah lebih dulu menjajal Jabulani. "Tapi kami hanya memberi mereka produk sampel untuk memancing masukan-masukan," ia menjelaskan.

    Para mitra Adidas itu, yakni AC Milan, FC Bayern Muenchen, Orlando Pirates, dan Ajax Cape Town, mencobanya pada 2008. Menurut Ngobese, para pemain tim itu menyumbang perbaikan dalam hal struktur permukaan dan komposisi material. Michael Ballack, misalnya, mengaku terpesona karena merasa bola Jabulani mau mengikuti apa yang diinginkannya.

    Jadi semoga saja Wayne Rooney cuma butuh waktu untuk terbiasa.

    WURAGIL l ENGINEERINGNEWS | NYTIMES | TELEGRAPH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Greysia / Apriyani, Dipasangkan pada 2017 hingga Juara Olimpade Tokyo 2020

    Greysia / Apriyani berhasil jadi pasangan pertama di ganda putri Indonesia yang merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang bulu tangkis.