Keajaiban 'Kapten' Madiba  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • imdb.com

    imdb.com

    TEMPO Interaktif, Johannesburg, Afrika Selatan, 24 Juni 1995. Bangku Stadion Ellis Park, yang berkapasitas 62 ribu orang, tak lagi berguna bila tuan rumah bergembira. Semua orang berdiri. Mereka berteriak, bertepuk tangan, dan bernyanyi Shosholoza. "Kegilaan" memuncak saat seorang kakek berkulit hitam menyerahkan piala kepada seorang pria berkulit putih di panggung kehormatan.

    "Saya selalu merinding mengingatnya, terutama ketika Madiba menyerahkan piala kepada Francois Pienaar dan orang-orang menyambutnya dengan riuh," kenang Steven Pienaar, gelandang tim nasional sepak bola Afrika Selatan. Dan setelah itu Afrika Selatan larut dalam pesta rakyat menyambut sukses tersebut: meraih gelar juara Piala Dunia rugbi untuk pertama kalinya.

    Steven Pienaar berkulit hitam. Dia tak memiliki hubungan darah dengan Francois Pienaar, atlet kulit putih yang menjadi kapten tim rugbi. Saat kegembiraan di Stadion Ellis itu berlangsung, Steven Pienaar baru berusia 13 tahun dan cuma menyaksikannya dari layar kaca. Rugbi bukan cabang olahraga favorit mayoritas masyarakat kulit hitam seperti dirinya.

    Steven merinding karena atmosfer persatuan yang demikian kuat muncul dari dalam stadion dan menyebar ke 1,2 juta kilometer persegi luas negaranya. Madiba-lah kuncinya. Dia adalah Nelson Mandela, pejuang persamaan hak ras dan saat itu menjadi Presiden Afrika Selatan. Madiba adalah panggilan kehormatan yang diambil dari nama marga leluhur Mandela. Kala itu dia  berusia 76 tahun.

    "Madiba Magic" (Keajaiban Mandela). Istilah itu menjadi populer setelah kemenangan Francois Pienaar pada final saat melawan tim rugbi Selandia Baru, yang sejatinya lebih diunggulkan. "Keajaiban" Mandela bukan melulu soal hasil di lapangan. Lebih jauh, ini menyangkut atmosfer persatuan yang terbangun menjelang dan sesudah final kejuaraan rugbi itu.

    ADVERTISEMENT

    Sutradara Hollywood, Clint Eastwood, mengangkat cerita perjuangan tim rugbi Afrika Selatan itu ke layar lebar pada 2009 dengan judul Invictus. Film tersebut dibintangi Morgan Freeman (yang berperan sebagai Mandela) dan Matt Damon (Francois Pienaar). Film ini didasarkan pada catatan Francois Pienaar.

    Afrika Selatan sebelumnya terbenam lama dalam politik pemisahan ras, apartheid, yang dibangun pemerintah berkuasa sejak 1950-an. Mayoritas warga kulit hitam, yang jumlahnya mencapai 80 persen, dibatasi haknya dalam banyak hal. Kulit putih menjadi superior.

    Karena perjuangan menuntut persamaan hak, Mandela harus mendekam di penjara selama 27 tahun, yang mayoritas dia habiskan di Pulau Robben. Berkat desakan luas dunia internasional, Presiden Willem de Klerk membuyarkan apartheid. Mandela dia bebaskan pada 1990. Empat tahun berikutnya, Mandela terpilih sebagai presiden--presiden kulit hitam pertama--dan dia mengangkat De Klerk sebagai wakilnya.

    Pengangkatan De Klerk adalah upaya Mandela menghapus batas pemisah warna kulit. "Sepanjang hidup, saya akan mendedikasikan diri untuk memperjuangkan rakyat Afrika. Saya menentang dominasi kulit putih, saya juga menentang dominasi kulit hitam. Saya memimpikan kehidupan demokratik ideal dan masyarakat bebas yang penuh harmoni dan keseimbangan. Bila perlu, saya mati untuk memperjuangkannya," kata pria kelahiran 18 Juli 1918 ini.

    Sebagai sistem politik, apartheid memang sudah terhapus. Tapi belum sepenuhnya secara kultur, termasuk di olahraga. Masyarakat Afrika Selatan kadung tersekat dalam stereotip: rugbi dan kriket untuk kulit putih dan sepak bola untuk kulit hitam. Untuk pertandingan internasional pada masa apartheid, pemerintah mengirim tim nasional sepak bola kulit putih, meski tim kulit hitam lebih kuat.

    Saat bocah, Mandela selalu berlari bila berangkat ke sekolah. Pada usia belasan tahun, dia bergabung dengan satu sasana tinju amatir. Sebagai mantan petinju, Madiba tahu benar kekuatan olahraga untuk membangun bangsa. Piala Dunia rugbi 1995, yang digelar di Afrika Selatan, dia gunakan sebagai pijakan.

    "Suatu hari Madiba mengundang saya minum teh," ujar Francois Pienaar--Francois Pienaar sungguhan, bukan yang ada dalam film Invictus. "Beliau bertanya banyak hal, terutama sejarah kami (tim rugbi). Dan, sebaliknya, beliau bercerita soal Pulau Robben."

    Kehidupan penjara di pulau berkeliling karang itu tentu saja membosankan bagi sekitar 1.400 penghuninya. Berkat bantuan Palang Merah Internasional, para tahanan politik mendapat hiburan dari sepak bola. Mereka membuat semacam kompetisi di dalam penjara, lengkap dengan aturan, wasit, dan hukuman. Namanya Asosiasi Sepak Bola Makana.

    Mandela tak ikut bermain sepak bola, tapi dia menikmati kegembiraan rekan-rekannya. "Sepak bola menjaga mereka tetap ceria dan bersemangat," katanya. Dua puluh dua orang berebut bola dan sisanya bernyanyi Shosholoza di pinggir lapangan. Shosholoza adalah lagu rakyat kulit hitam dalam bahasa Zulu, yang bercerita soal cepatnya kereta api melintasi gunung-gunung. "Kereta api sebenarnya simbol dari beratnya kehidupan pada masa apartheid," kata Mandela.

    Dari Francois, Mandela mengerti sejarah tim nasional rugbi. Dari Mandela, kapten rugbi itu tahu beratnya kehidupan Pulau Robben. Dan, di Stadion Ellis pada 1995, kesalingpengertian itu menyatu. Semangatnya terasa di seluruh negeri.

    Mandela menyaksikan partai final dengan mengenakan seragam The Springboks--julukan tim nasional rugbi negeri itu--bernomor punggung 6, nomor milik Francois Pienaar. Mandela menyerahkan piala kejuaraan sambil berjabat tangan dengan seluruh anggota skuad, termasuk Chester Williams, satu-satunya pemain rugbi berkulit hitam di tim nasional.

    Setahun berikutnya, Mandela kembali menyalami pemain nasional karena keluar sebagai juara. Kali ini tim nasional sepak bola yang memenangi Piala Afrika 2006. Di final, mereka menundukkan Tunisia 2-0 di Stadion Soccer City, Johannesburg. Mandela tampil dengan berseragam Bafana Bafana--julukan tim sepak bola Afrika Selatan--bernomor punggung 9, nomor milik kapten tim, Neil Tovey. Di tim inti yang mayoritas berkulit hitam, terdapat tiga orang kulit putih: sang kapten Tovey, Mark Fish, dan Eric Tinkler.

    Pertengahan Juli nanti, usia Mandela 91 tahun. Setelah pensiun sebagai presiden, Madiba jarang tampil di muka umum karena tua dan sakit-sakitan. Meski FIFA berharap dia hadir pada upacara pembukaan Piala Dunia besok, keluarga Mandela belum bisa memastikan kedatangannya.

    Sepekan sebelum pembukaan berlangsung, sang bapak bangsa menyempatkan diri menerima kedatangan Bafana Bafana di kantor yayasannya di Johannesburg. Tak banyak bicara, Madiba memberikan semangat kepada tim dengan senyum dan genggaman erat tangannya. Kali ini dia mengenakan kostum bernomor punggung 4, nomor milik kapten tim, Aaron Mokoena. l BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.