Krisis Sang Dewa Yunani

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP Photo/Thanassis Stavrakis

    AP Photo/Thanassis Stavrakis

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Alih-alih menjanjikan bonus, Presiden Federasi Sepak Bola Yunani (EPO) Sofoklis Pilavios malah memangkas sejumlah fasilitas yang biasanya diberikan kepada para pemain tim nasional. Krisis ekonomi di Yunani menjadi penyebabnya. Salah satu dampak terberatnya, Negeri Dewa berpotensi besar kehilangan Sang Rehakles, Otto Rehhagel.

    Pilavios telah menemui Rehhagel untuk membicarakan pemotongan gajinya sebesar 30 persen. Namun pelatih tim nasional asal Jerman tersebut menolak melanjutkan pembicaraan. Dia tak mengiyakan tapi juga belum menolak. "Saya cuma mau berfokus pada Piala Dunia, saya tak berniat membicarakan soal gaji," katanya akhir bulan lalu.

    Pada 2004, di Portugal, Rehhagel membuat keajaiban. Nama Yunani, yang sama sekali tak memiliki gema, dia bawa menjadi juara Piala Eropa. Tak tanggung-tanggung, Angelos Charisteas menundukkan tuan rumah pada partai final.

    Kesuksesan itu membuat Liga Super Yunani menjadi magnet baru bagi pihak sponsor. Guyuran uang datang bak air bah. Para pemain hebat pun berdatangan, terutama dari Amerika Selatan. Sepak bola Yunani bergelimang uang.

    Sekarang terbalik 180 derajat. Kebodohan pemerintah berdampak buruk. Utang Yunani melebihi pendapatan mereka. Krisis pun melanda negeri dengan luas sekitar 132 juta kilometer persegi itu. Beberapa negara Uni Eropa mengancam Yunani dikeluarkan dari keanggotaan karena dianggap menyalahi kesepakatan finansial, tak berutang melebihi pendapatan.

    Dunia olahraga langsung terkena imbasnya. "Para sponsor memotong besar-besaran budget untuk kami," teriak Direktur Eksekutif Liga Super Patrick Komninos. "Ini pukulan yang sangat berat, bisa mematikan sepak bola negeri ini."

    Dalam suasana itulah The Ethniki --julukan kesebelasan Yunani--berangkat ke Afrika Selatan. Giorgos Karagounis dan kawan-kawan lolos ke putaran final setelah menundukkan Ukraina 1-0 lewat dua pertandingan playoff Zona Eropa.

    "Orang-orang yang bertemu dengan saya di jalan mengatakan mereka tak sabar menunggu kami melakukan sesuatu di Piala Dunia," kata Karagounis, sang kapten tim berusia 33 tahun. "Kami harus menunjukkan hasil bagus untuk memberi mereka kegembiraan, untuk menghibur mereka setelah hal-hal yang terjadi di negeri kami sekarang (krisis finansial)."

    Gelandang senior itu percaya sepenuhnya kepada King Otto--julukan Rehhagel. "Dia seorang arsitek dari kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola kami, mungkin di semua olahraga," kata Karagounis. "Pelatih kami mungkin seorang yang keras kepala, tapi itu bisa menjadikan keunggulan tersendiri."

    Rehhagel lahir di Essen, Jerman, 9 Agustus 1938. Usianya sudah lewat 71 tahun. Tapi kelabu rambutnya belum penuh. Pada Piala Dunia ini, dia menjadi pelatih tertua. Pria bertinggi badan 177 sentimeter itu juga menjadi pelatih terlama yang menangani tim. Rehhagel sudah mengarsiteki Yunani sejak 2001--cuma kalah oleh Morten Olsen, yang menangani Denmark sejak 2000.

    Di negeri asalnya, Jerman, Rehhagel dijuluki Kind der Bundesliga (Anak Liga Jerman). Pasalnya, dia telah terlibat dalam seribu pertandingan Liga Jerman, sebagai pemain dan pelatih. Catatan rekornya unik: pemegang kemenangan terbanyak (387 kali), hasil seri terbanyak (205), kalah terbanyak (228), pemasukan terbanyak (sebagai tim, 1.473 gol), sekaligus kebobolan terbanyak (1.142).

    Otto Torhagel (Otto yang Terhujani Gol) adalah julukannya yang lain. Gara-garanya, saat menangani Kickers Offenbach pada 1974, klub itu dibungkam lawan 0-12. Julukan Otto II atau Vizeadmiral (Otto Kedua atau Wakil Laksamana) dia terima pada awal 1980-an karena tim-tim yang dia pimpin hampir selalu berada di posisi runner-up, nyaris juara. Setelah meraih banyak gelar bersama Werder Bremen, Bayern Muenchen, dan Kaiserslautern, julukan King Otto melekat padanya.

    Yunani menjadi tim nasional pertama yang ditangani suami Beate ini. Setelah membuat kejutan pada Euro 2004, Yunani tak lolos ke Piala Dunia 2006. Dan, pada Euro 2008, Karagounis dan kawan-kawan langsung terhenti di babak grup.

    Namun julukan Rehakles kadung disematkan pers dan rakyat Yunani kepadanya. Ini pelesetan dari Hercules, anak Dewa Zeus yang memiliki kekuatan melebihi gajah. Dan di Essen, seorang pemilik restoran masakan Yunani membuatkan patung mirip Rehhagel di ruang makan. "Rehhagel tetap Rehagel, dia salah satu dari 13 dewa Yunani," kata Ioannis Kokkinidis, si pemilik restoran.

    Di Portugal, Rehhagel menerapkan sepak bola negatif untuk menuju tangga juara. Begitu pula ketika menundukkan Ukraina pada playoff kualifikasi Piala Dunia. Bagaimana kali ini? Malam nanti di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth, polesan Rehhagel diuji Korea Selatan, tim dari salah satu negara berekonomi kuat dan memiliki pendapatan nasional tiga kali lebih banyak daripada Yunani.

    ANDY MARHAENDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.