Amsterdam, Total, dan Michels

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rinus Michels

    Rinus Michels

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Apa yang dijanjikan skuad Belanda kepada dunia kali ini? "Kami akan memainkan sepak bola indah sekaligus meraih sukses," kata gelandang senior, Mark van Bommel, dua hari menjelang laga melawan Denmark yang berlangsung malam nanti. "Teman-teman selalu ingin menang. Bila digandakan dengan falsafah sepak bola indah Belanda, kombinasinya menghasilkan kemenangan."

    Di alam "sana" Rinus Michels pasti tersenyum mendengarnya. "Cucu-cucunya" ternyata masih mematuhi kaidah indahnya total voetbal alias total football temuannya, meski dari waktu ke waktu lebih kerap gagal mengangkat trofi.

    Sepanjang sejarah Piala Dunia, De Oranje--julukan Belanda--cuma meraih prestasi terbaik sebagai runner-up Piala Dunia 1974 dan 1978. Satu-satunya gelar bergengsi yang Belanda dapat adalah gelar juara Piala Eropa 1988. Namun, dunia selalu mengenang tim--terutama penampilan Johan Cruyff dan kawan-kawan pada Piala Dunia 1974--sebagai kesebelasan dengan pengusung sepak bola indah ala total football.

    Van Bommel tak mau berkhianat kepada Michels, pelatih legendaris yang meninggal lima tahun lalu pada usia 77 tahun. Lebih jauh, kapten klub Bayern Muenchen itu tak mau ingkar kepada tanah leluhurnya, Negeri Rendah, Netherland. Tanpa tanah sempit dan bumi rendah Netherland, Michels tak akan melahirkan total voetbal. Michels ibarat bidan. Ibu total football adalah tanah Belanda.

    Negeri Rendah itu memang bertanah rendah. Sekitar 20 persen dari tanahnya dan 21 persen populasi yang mendiaminya tinggal di tanah yang berada lebih rendah daripada permukaan laut. Sisanya, 50 persen wilayahnya cuma 1 meter lebih tinggi daripada permukaan laut.

    ADVERTISEMENT

    Dari sononya, Belanda memiliki masalah dalam hal mengatur permukiman. Merujuk pada perkiraan terakhir, jumlah penduduk Belanda mencapai lebih sedikit dari 16,5 juta jiwa. Mereka mendiami tanah seluas 41,562 kilometer persegi, masih di bawah luas wilayah Jawa Timur. Tingkat kepadatannya termasuk salah satu yang tertinggi di Eropa, 400,2 jiwa per kilometer persegi.

    Namun, penataan ruang di Belanda adalah salah satu yang terbaik di dunia. Pemerintah, para arsitek, dan ahli tata ruang Belanda memang jago. Dalam bukunya, Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football, penulis Inggris, David Winner, menghubungkan dengan cerdas bahwa kepintaran mengelola ruang itu berimbas pada sepak bola Belanda.

    Di dunia arsitek, muncullah aliran Amsterdam School. Meski kurun hidupnya sebentar (1915-1930), pengaruhnya melampaui beberapa dekade. Tokohnya bernama Michels de Klerk dan H.P. Berlage. Mereka merancang bangunan-bangunan dengan mengutamakan kebebasan ekspresi tapi tetap fungsional. Kombinasi beberapa bangunan itu menciptakan hubungan di dalam Kota Amsterdam yang lantas disebut Total City.

    "Keseluruhan sistem saling berhubungan erat satu dengan yang lain, yang membuat mereka terkombinasi dan berinteraksi sebagai satu sistem yang kompleks," kata ahli strukturalis menganalisis bangunan-bangunan yang didirikan De Klerk dan kawan-kawan. Indah sebagai individu, fungsional sebagai sistem.

    Michels adalah striker Ajax Amsterdam, klub kebanggaan Amsterdam, kota kelahiran Amsterdam School, pada 1940-an sampai 1950-an. Michels menjadi murid terbaik Jack Reynolds, pelatih asal Inggris yang hampir tiga dekade menangani Ajax dalam beberapa kurun terputus-putus. Reynolds menjadi peletak dasar dari falsafah sepak bola Ajax.

    Fondasi yang dibangun Reynolds disempurnakan oleh Michels. Reynolds tak memiliki pemain sekaliber Cruyff. Michel punya. Cruyff adalah penerjemah di lapangan dari total football yang dikembangkan Michels saat menangani Ajax pada kurun pertama, 1965-1971. Gelar juara Piala Champions (sekarang Liga Champions) pun direngkuh pada musim 1970/1971. Ajax menjadi klub Belanda pertama yang meraihnya.

    Ide spektakuler di lapangan itu dibawa ke tim nasional. Sebelum Michels menjadi pelatih De Oranje, Belanda cuma dua kali menembus Piala Dunia, yaitu pada 1934 dan 1938. Setelah era Michels, Belanda tak sekadar menjadi langganan putaran final, tapi juga ditakuti lawan di setiap pergelaran Piala Dunia.

    Ironisnya, Belanda tak pernah sukses pada partai puncak. Pada final Piala Dunia 1974, Belanda dikalahkan oleh mental baja Pasukan Panser, tuan rumah Jerman. Pada final 1974, lagi-lagi Belanda kalah oleh tuan rumah, kali ini Argentina.

    Namun, dunia telanjur terjangkiti virus total football. Sebelumnya, sepak bola lebih mengenal permainan membosankan ala catenaccio Italia. Bila indah, itu keindahan dari keceriaan individual Pele dan kawan-kawan dari Brasil. Tapi sebagai satu kesatuan sistem, total football-lah perintisnya.

    Keindahan total football terletak pada kepandaian pemain memanfaatkan ruang. Intinya, rentangkan ruang selebar mungkin saat menguasai bola dan sempitkan ruang sesempit mungkin saat kehilangan bola. Seorang pemain harus menguasai banyak posisi karena selalu dituntut berpindah-pindah tempat.

    Michels pria yang kontradiktif. Humornya garing, suaranya meledak-ledak, dan sosok diktator di luar lapangan. "Menjelang pertandingan, pada malam hari dia selalu beberapa kali menelepon saya untuk memastikan saya berada di rumah," Cruyff mengungkapkan.

    Namun, dia berubah menjadi pria yang kekanak-kanakan seusai pertandingan: selalu menyanyi di kamar mandi, baik menang maupun timnya kalah. Dan di dalam lapangan, ini kontradiksinya, dia sangat demokratis: membebaskan setiap pemainnya untuk menjadi apa saja.

    Pria aneh yang memiliki banyak julukan--antara lain Sang Jenderal dan Spinx, karena wajahnya dingin--itu meninggal di Belgia pada Maret 2005. FIFA menobatkannya sebagai pelatih terbaik abad ke-20. Penemuannya mengilhami sepak bola modern: sekarang derivasi total football dimainkan sebagian besar klub dunia.

    Sungguh lucu, pelatih Belanda sekarang, Bert van Marwijk, justru menyebut timnya akan bermain seperti Barcelona. "Tentu saja, bila menyebut sepak bola indah, Barcelona patokannya." Namun, kalimat itu tetap "berbau" Michels. Pasalnya, Michels pernah menjadi pelatih Barcelona dan Cruyff menjadi "jenderalnya". Ucapan Marwijk tak bermaksud mengkhianati Michels.

    BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?