"Vuvu-stoppers" Ludes, Gelombang Protes Membesar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Siphiwe Sibeko

    REUTERS/Siphiwe Sibeko

    TEMPO Interaktif, Cape Town -  Vuvuzela identik dengan Piala Dunia Afrika Selatan. Hampir semua orang meniupkan terompet yang bisa menimbulkan 130 desibel suara atau setara dengan 100 gergaji mesin. Bukan hanya di stadion ketika pertandingan bola digelar, tapi juga di jalan-jalan.

    Tapi ternyata tidak semua orang di Afrika Selatan suka dengan vuvuzela. Banyak yang terganggu dengan bunyi vuvuzela. Toko-toko di Cape Town pun kehabisan “Vuvu-stopers” sebutan bagi pengganjal telinga untuk meredam bisingnya vuvuzela.

    Panitia Piala Dunia Afrika Selatan 2010 tengah memikirkan untuk melarang vuvuzela dibunyikan di dalam stadion. Ketua panitia Danny Jordaan memikirkan hal ini setelah mendapat protes dari para supoter dan stasiun televisi.

    Kencangnya suara Vuvuzela telah menenggelamkan atmosfir pertandingan sepak bola yang identik dengan nyanyian dan teriakan suporter. “Bila memang sangat menggangu, kami akan mengambil tindakan,” kata Jordaan.

    Kapten tim nasional Prancis Patrice Evra termasuk orang yang terganggu bunyi vuvuzela yang mirip ribuan lebah. “Gara-gara vuvuzela, kami tidak bisa tidur di malam hari. Bahkan orang-orang sudah mulai kemabali meniupkannya pukul 6 pagi.” kata pemain Manchester United ini.

    Evra tidak sendiri, penyerang Portugal Cristiano Ronaldo juga merasa terganggu. Ia mengaku sulit berkonsentrasi bila mendengar vuvuzela. Bintang Argentina yang juga pemain terbaik dunia pun sama. Dia mengatakan rasanya seperti tuli.

    Gelombang protes terus membesar, sebuah situs dibuat untuk mendukung pelarangan vuvuzela. Situs www.bamvuvuzela.com kebanjiran pengunjung, hingga kemarin ada 60 orang yang setuju vuvuzela dilarang, sementara 6500 menolak pelarangan.

    Jordaan mengakui banyak orang yang merasa terganggu bunyi vuvuzela yang memekakkan. “Kami akan membuat aturan dan membatasi,” katanya. Menurut dia, saat ini vuvuzela tidak boleh ditiup ketika lagu kebangsaan dinyanyikan dan ketika ada pengumuman.

    Penggemar bola, Sazi Mhlwatika menolak keras bila vuvuzela sampai dilarang. “Kami tidak bisa menikmati pertandingan tanpa vuvuzela, tidak ada vuvuzela berarti tidak ada pertandingan, di luar negeri para suporter bernyanyi, di Afrika Selatan mereka meniup vuvuzela,” kata laki-laki 23 tahun ini.

    SKY NEWS I BBC I POERNOMO G RIDHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.