FIFA Tolak Larang Vuvuzela

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suporter Ghana meniup Vuvuzela. AP/Rebecca Blackwell

    Suporter Ghana meniup Vuvuzela. AP/Rebecca Blackwell

    TEMPO Interaktif ,  Johannesburg – Suara bising vuvuzela yang terdengar konstan dalam setiap pertandingan Piala Dunia di Afrika Selatan telah mengundang kritikan dari para pemirsa televisi dui seluruh dunia.

    Tapi, FIFA tak setuju dengan tuntutan agar alat musik tiup tradisional Afrika Selatan itu dilarang selama Piala Dunia.

    “Saya selalu bilang bahwa Afrika punya ritme berbeda, suara berbeda. Saya tak mungkin melarang tradisi musik para fans di negara mereka sendiri,” tulis presiden FIFA, Sepp Blatter, dalam sebuah pesan Twitter, Senin (14/6).

    Blatter melanjutkan pesannya dengan pertanyaan: “Maukah Anda melihat plarangan terhadap tradisi para fans di negara Anda?”

    FIFA dan Blatter telah memberikan dukungan kuat terhadap penggunaan vuvuzela sejak alat musik tiup itu dperkenalkan ke dunia sepakbola pada Piala Konfederasi di Afrika Selatan tepat setahun silam.

    Sejumlah broadcaster telah mengajukan keluhannya terhadap suara bising vuvuzela dan menyebutnya seperti suara segerombolan lebah yang menyerbu stadion.

    Bahkan ada laporan tentang beberapa fans yang menyaksikan siaran langsung pertandingan Piala Dunia di televisi mereka tanpa menyalakan suaranya. Suara bising vuvuzela juga berpotensi mempengaruhi konsentrasi para pemain di lapangan.

    “Dalam banyak aspek suara bising bisa sedikit mengganggu karena kita tak akan bisa berkomunikasi dengan rekan setim yang jaraknya lebih dari 10 meter,” kata striker Spanyol, David Villa, yang sebelumnya pernah merasakan langsung pengaruh vuvuzela saat tampil di Piala Konfederasi 2009.

    Meski begitu, Villa juga mengaku bahwa suara bising vuvuzela juga bisa menciptakan suasana menyenangkan dan membangkitkan emosi.

    Juru bicara panitia Piala Dunia Afrika Selatan, Rich Mkhondo, mengatakan bahwa para pemirsan televisi tak merasakan atmosfer yang sama dengan para fans di stadion.

    “Saya tak mau terlalu peduli tentang pendapat orang luar tentang vuvuzela. Saya hanya memikirkan apa yang dirasakan para penonton di stadion,” kata Mkhondo.

    Mkhondo kemudian menjelaskan bahwa vuvuzela sudah menjadi bagian dari sejarah Afrika Selatan.

    “Alat ini berawal dari trompet yang pernah digunakan nenek moyang kami untuk mengumpulkan warga dalam pertemuan. Sebagai tamu kami, mohon terima kebudayaan kami, mohon terima cara kami merayakan. Anda boleh menyukai atau membencinya. Kami di Afrika Selatan menyukainya.

    Mkhondo juga mengatakan bahwa vuvuzela kini telah menjadi instrumen musik internsional dan para pendatang membelinya dan memasukkannya ke dalam koper-koper mereka untuk di bawa pulang.

    Pemain Inggris, Jamie Carragher, pun mengaku mendapat pesanan agar membawa sejumlah vuvuzela saat kembali ke Inggris.

    “Anak-anak saya telah menelepon saya dan mereka minta dua (vuvuzela),” aku Carragher .

    AP | A. RIJAL



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.