Belanda dan Denmark Keluhkan Ketinggian  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rafael van der Vaart dijegal oleh Martin Jorgensen. AP/Martin Meissner

    Rafael van der Vaart dijegal oleh Martin Jorgensen. AP/Martin Meissner

    TEMPO Interaktif , Johannesburg – Belanda dan Denmark menunjukkan penampilan yang kurang mengesankan saat bertemu pada laga pertama Grup E di Soccer City Stadium, Senin (14/6). Para pemain kedua kesebelasan sepakat menuding ketinggian lokasi pertandingan sebagai biang keladi buruknya permainan mereka.

    Belanda berhasil memenangi pertandingan itu dengan skor 2-0, tapi aksi mereka masih jauh dari kesan sebagai tim favorit juara.

    Secara keseluruhan pertandingan itu terlihat kurang menarik, lambat dan sering terhenti oleh berbagai insiden. Baik Belanda atau pun Denmark beralasan bahwa semua itu disebabkan ketinggian lokasi, Johannesburg, yang terletak 1753 meter di atas permukaan laut.

    Johannesburg dijadwalkan menggelar delapan pertandingan selama Piala Dunia termasuk final pada 11 Juli. Duel Belanda lawan Denmark adalah pertandingan ketiga yang digelar di kota itu.

    Sebelumnya, Soccer City telah menggelar laga pembuka antara Afrika Selatan dan Meksiko, Jumat (11/6). Sementara laga Argentina lawan Nigeria digelar di Ellis Park yang juga terletak di Johannesburg, Sabtu (12/6).

    Tapi, keempat tim tersebut sama sekali tak mempermasalahkan ketinggian lokasi karena mereka memang telah terbiasa berlaga di dataran-dataran tinggi seperti itu.

    Reaksi berbeda dirasakan oleh Belanda dan Denmark, dua tim yang berasal dari dataran rendah Eropa.

    “Kedua tim harus menyesuaikan diri dengan altitude yang lebih tinggi,” aku striker Belanda, Dirk Kuyt, saat ditanya wartawan tentang buruknya penampilan kedua tim.

    Kapten Belanda, Giovanni van Bronckhorst, mengaku tak mengerti kenapa mereka masih juga mengalami masalah meski telah berlatih di dataran tinggi, di Austria selama dua pekan dan di Afrika Selatan selama sepekan, dalam persiapan jelang Piala Dunia.

    “Babak pertama sangat berat, saya merasa aneh dan mulut saya terasa kering. Tapi, semuanya membaik seusai turun minum,” kata Van Bronckhorst.

    Bek Denmark, Daniel Agger, punya pendapat senada. Ia mengaku sulit menyesuaikan diri dengan kondisi seperti itu sehingga para pemain menghemat tenaga dengan tak banyak berlari.

    “Saya mengalami keletihan. Saya pikir kami bermain sangaty baik di babak pertama, tapi di babak kedua, setelah mereka mencetak gol, mereka bisa santai dengan memainkan bola sementara kami harus berlari-lari,” ujar Agger.

    Kiper Denmark, Thomas Sorensen, mengatakan altitude yang lebih tinggi dan udara yang lebih tipis telah mempengaruhi laju bola di udara.

    “Kami merasa lebih berat saat bernapas. Tapi, perbedaan utama yang saya rasakan adalah bola menjadi lebih cepat. Bola menjadi sulit dikendalikan, tapi itulah yang harus diatasi kedua tim dan siapa pun yang terbaik dalam melakukannya berpeluang lolos ke final.

    “Sebagian besar pertandingan digelar di sini. Jadi, kita tak akan bisa jadi juara jika kita tidak bisa mengatasinya. Bola menjadi berbahaya, bukan hanya buat kiper, tapi semua pemain,” tandas Sorensen.

    Belanda akan memainkan laga lawan Jepang dan Kamerun di dataran rendah, Durban dan Cape Town. Sementara Denmark masih harus bermain di dataran tinggiPretoria dan Rustenburg.

    Cape Town, Port Elizabeth dan Durban, adalah tiga venue yang terletak di dataran rendah. Tapi, enam venue lainnya berada di dataran tinggi. Johannesburg adalah yang tertinggi diikuti Nelspruit (1741 meter), Rustenburg (1500 meter), Blomfontein (1400 meter), Pretoria (1370 meter) dan Polokwane (1312 meter).

    REUTERS | A. RIJAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.