Misteri Kuda Terbang Korea Utara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kim Jong il. REUTERS/KCNA

    Kim Jong il. REUTERS/KCNA

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Di atas kertas, "dunia" Grup G  tampak menyesakkan bagi Korea Utara. Brasil, lawan pertama yang harus dihadapi nanti malam di Johannesburg, adalah tim peringkat pertama FIFA dan telah lima kali menggondol trofi Piala Dunia. Dua rival lain tak kalah garang: Portugal berperingkat ketiga dan Pantai Gading ke-27.

    Dan Korea Utara? Cuma kesebelasan yang bercokol di peringkat ke-105, tim dengan peringkat terendah dari 32 kontestan Afrika Selatan 2010. "Biarlah tiap orang membuat prediksi ini-itu, tapi akan kami tunjukkan bahwa kami mampu membuat kejutan," kata striker Jong Tae-se. "Saya akan mencetak paling tidak satu gol untuk satu pertandingan agar membuat pemimpin tercinta (Kim Jong-il) senang."

    Tak sia-sia orang tua Jong memberinya nama Tae-se, yang berarti "dunia yang besar". Namun, bagi Jong, "dunianya yang besar" itu hanya untuk sang pemimpin tercinta, yaitu pemimpin tertinggi Korea Utara sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Buruh, Kim Jong-il. Kebesaran itu akan diupayakan kembali hadir setelah 44 tahun.

    Siapa pun yang memandang remeh Chollima--julukan kesebelasan Korea Utara yang berarti tim Kuda Terbang--harus berkaca pada Piala Dunia 1966. Para pengamat menuliskan komentar meremehkan di koran-koran Inggris. Uni Soviet (Rusia saat itu) menang dengan skor 0-3 pada laga pertama, Korea Utara kian diremehkan. Berhasil menahan imbang Cile 1-1, sukses Korea Utara masih dianggap sebagai suatu kebetulan.

    Pengamat yang sinis--yang mayoritas berasal dari negara kapitalis Barat--baru terdiam setelah kesebelasan dari negeri komunis seluas 120,5 kilometer persegi itu menekuk Italia 1-0 pada laga ketiga. Langkah Korea Utara baru terhenti setelah ditundukkan Portugal 3-5. Itu pun setelah Korea Utara sempat unggul 2-0.

    ADVERTISEMENT

    Kini Chollima hadir kembali ke pentas dunia untuk kedua kalinya. Sialnya, hadir dengan segala "kegelapan" yang membuat mereka "pantas" dipandang sebelah mata. Chollima datang dengan modal yang tak layak untuk berperang: kurang pengalaman internasional. Korea Utara juga tak bisa mengikuti perkembangan kemajuan sepak bola karena pemerintah melarang tayangan liga-liga Eropa.

    Kim Jong-il penyebabnya. Pria 69 tahun ini jadi pemimpin pemerintahan pada awal 1990-an setelah ayahnya, Kim Il-sung. Malu ditundukkan Korea Selatan--negeri tetangga sekaligus musuh dalam segala hal--pada kualifikasi Piala Dunia 1994, Kim melarang para pemain sepak bola negerinya bepergian ke luar negeri. Mereka tak ikut dalam dua kali kualifikasi, 1998 dan 2002.

    Namun, Kim adalah sumber energi bagi rakyatnya, termasuk pemain sepak bola. Chollima sekarang kembali ke pentas dunia dengan membawa semangat besar yang ditiupkan Kim Jong-il. Jong Tae-se menerima surat khusus dari pemimpin tercinta pada pertengahan tahun lalu, menjelang kualifikasi zona Asia. Isinya, "Berangkatlah dan loloskan negerimu dari kualifikasi!"

    Jong, 26 tahun, berdarah Korea Utara dari pihak ibu, sedangkan ayahnya dari Korea Selatan. Dia sendiri lahir di Jepang dan berkarier di Liga Jepang--sekarang bermain untuk Kawasaki Frontale. Ahn Yon-hak juga lahir di Jepang dari keluarga keturunan Korea Utara. Mereka dikenal sebagai zainichi atau keturunan Korea Utara di Jepang. Mereka generasi kedua atau ketiga para pelarian perang saudara Korea Utara-Korea Selatan.

    Bila "orang-orang Jepang" macam Jong memiliki patriotisme semacam itu, apalagi yang "murni" Korea Utara, tak mengherankan bila kiper utama, Ri Myong-guk, berkata, "Saat menjaga gawang, rasanya seperti tengah menjaga gerbang tanah airku. Dan pemain terpenting kami adalah pemimpin tercinta, dia menebarkan ketakutan di benak para musuh kami, dia memberi kekuatan pertahanan yang lebih hebat daripada 1.000 bek dan 10 juta kiper."

    Tujuh dari 23 pemain yang tampil di Afrika Selatan berasal dari klub April 25--namanya diambil dari tanggal berdirinya Tentara Rakyat Korea Utara--yang dikelola militer. Pelatih Korea Utara, Kim Jong-hun, juga jebolan April 25. Konon, separuh lebih porsi hari-hari mereka diisi dengan indoktrinasi dan latihan militer. Dan mereka sangat ketat menerapkan asketisme.

    Choe Myong-ho tercatat sebagai pemain Korea Utara pertama yang bermain di Liga Rusia saat bergabung dengan Krylya Sovetov pada 2007. Choe adalah mantan pemain Kyonggongop, yang dikelola Kementrian Penerangan Korea Utara. Di Rusia, dia tidur sekamar dengan "penerjemah" bernama Chang Dal-hon, seseorang dengan kemampuan berbahasa Rusia yang buruk.

    Apartemen tanpa kulkas, juga televisi hanya untuk menonton video dari Korea Utara. "Untuk apa kulkas? Itu berguna cuma untuk mengambil minuman dingin saat musim panas," kata Choe. "Dan bila Anda melakukannya, Anda akan kedinginan dan tak bisa berlatih." Pada 2009, Choe kembali ke Korea Utara tanpa pamit. Pengurus Krylya mencoba mengontaknya, tapi tak pernah berhasil. Choe tak ikut berangkat ke Afrika Selatan.

    Satu-satunya pemain Chollima di Afrika Selatan yang bermain di Eropa hanyalah kapten tim, Hong Yong-jo. Striker 28 tahun ini bergabung dengan FC Rostov di Liga Rusia sejak 2008. Dia tak pernah menghitung berapa banyak uang yang didapatnya dari Rostov. "Yang ada di otak saya, cuma sepak bola dan partai."


    BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?