Inggris Baru Menyadari Masalah Jabulani

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penjaga Gawang Tim Nasional Inggris Robert Green. AP Photo/Michael Sohn

    Penjaga Gawang Tim Nasional Inggris Robert Green. AP Photo/Michael Sohn

    TEMPO Interaktif , Rustenburg – Inggris menjadi tim terkini yang melontarkan kritikan terhadap bola resmi Piala Dunia, Jabulani. Sebelumnya, kritikan serupa telah lebih dulu terdengar dari kubu Spanyol, Belanda, Prancis, Swiss, Jepang, Portugal dan Argentina.

    Keterlambatan Inggris menyadari kondisi Jabulani yang bermasalah disebabkan mereka belum lama memakai bola itu. Sebaliknya, sebagian besar peserta lainnya sudah mecoba Jabulani selama beberapa bulan.

    Karenanya, sebagian besar pemain dan pelatih di Piala Dunia 2010 menyebut bahwa yang seharusnya dilarang di turnamen ini adalah Jabulani bukan vuvuzela.

    Inggris sendiri baru mengetahui bahwa bola tersebut bermasalah saat mereka ditahan imbang 1-1 oleh Amerika Serikat pada laga perdana Grup C, Sabtu (12/6), di mana gol yang membobol gawang The Three Lions disebabkan blunder kiper Robert Green yang gagal menangkap bola mudah dari tembakan Clint Dempsey.

    “(Bola) itu benar-benar buruk,” kata pelatih Inggris, Fabio Capello.

    ADVERTISEMENT

    Gelandang Joe Cole mengamini komentar sang pelatih dengan menyebut bola itu telah mengurangi skill para pemain di lapangan. Bahkan bintang sekelas Lionel Messi tak bisa menguasainya dengan sempurna.

    Jabulani dituding ikut jadi penyebab minimnya gol dalam beberapa hari pertama di Afrika Selatan ini.

    Satu-satunya tim yang menunjukkan penampilan terbaik sekaligus berhasil meraih kemenangan besar adalah Jerman yang menggulung Australia 4-0 pada laga Grup D, Minggu (13/6).

    Media Inggris mengklaim semua itu disebabkan para pemain Jerman telah terbiasa menggunakan Jabulani, baik di timnas mau pun di klub-klub mereka. Maklum, Jabulani adalah produk Adidas yang merupakan sponsor timnas Jerman dan sejumlah klub Bundesliga.

    “Hal itu memang jadi keuntungan (buat Jerman). Itu jelas sekali,” ujar bek Inggris, Jamie Carragher.

    “Bola ini sangat berbeda. Dalam setiap sesi latihan, kami selalu memulainya dengan passing-passing sejauh 30 atau 40 meter untuk membiasakan diri engan bola itu. Saya yakin bola itu ikut membantu mereka (Jerman),” tambahnya.

    “Saya telah menyaksikan semua pertandingan. Dan, ketika kita menciptakan bola untuk Piala Dunia, tujuannya adalah untuk menghasilkan lebih banyak gol. Yang satu ini punya gerakan yang aneh.

    “Saya melihat setiap crossing tampak terlalu deras. Kita bisa terbantu jika kita latihan menggunakan bola itu, tapi bolanya sedikit tidak konsisten. Terkadang kita tak tahu apa yang akan terjadi saat kita saling memberi umpan.

    “Terkadang bola itu meluncur lurus, tapi ada kalanya bola itu berubah arah di saat terakhir. Tapi, masalah ni berlaku buat semua tim, kecuali Jerman barangkali.

    “Orang-orang berpikir akan tercipta lebih banyak gol, tapi, selain Jerman, saya pikir tak akan muncul terlalu banyak gol di turnamen ini.

    “Mereka (Jerman) bermain sangat baik. Sangat impresif. Saya tak mencari-cari alasan. Saya juga tak ingin memuji mereka berlebihan. Barangkali, ada satu kesimpulan, mereka bermain baik karena mereka telah lama bermain dengan bola itu.”

    Pelatih kiper Meksiko, Alberto Aguilar, pernah menggunakan bola rugby saat latihan untuk mempersiapkan anak-anak asuhannya terbiasa dengan pantulan Jabulani yang tak bisa diprediksi.

    Membiasakan diri dengan bola merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan penampilan sebuah tim. FIFA sendiri menegaskan bahwa Jabulani sudah bisa dipakai oleh ke-32 peserta Piala Dunia sejak Januari.

    Tapi, Inggris baru bisa memakai bola itu saat menggelar training camp di Austria. Meski begitu, mereka tak bisa menggunakan Jabulani pada laga uji coba lawan Meksiko di Wembley lantaran adanya kontrak antara Federasi sepakbola Inggris (FA) dengan Umbro.

    Nilai kontrak FA dengan Umbro bernilai sekitar 100 juta poundsterling dan kontrak itu mengikat timnas Inggris untuk memakai bola produk mereka.

    Di pihak lain, Spanyol, Argentina dan Jepang yang dispnsori Adidas telah memakai Jabulani dalam seluruh laga uji coba mereka jelang ke Afrika Selatan. Bola yang sama juga digunakan dalam Piala Afrika 2010.

    Di kancah domestik, Jabulani sduah digunakan di liga Portugal, liga Argentina, Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat, Eredivisie Belanda, Piala Prancis dan liga Swiss.

    Dalam beberapa Piala Dunia sebelumnya, bola tak terlalu jadi masalah. Tapi, jika sepakbola Inggris ingin menghindari kerugian seperti itu di masa depan, maka mereka harus beralih ke Adidas sebagai sponsor.

    Perusahan perlengkapan olahraga Jerman itu memang sulit dipisahkan dari FIFA. Jadi, seperti kata pepatah: jika tak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka.

    Benarkah Jabulani menghambat produktivitas gol di Piala Dunia 2010? Berikut perbandingannya:

    31 gol tercipta dalam 11 laga pertama Piala Dunia 2002.

    27 gol tercipta dalam 11 laga pertama Piala Dunia 2006.

    18 gol tercipta dalam 11 laga pertama Piala Dunia 2010.

    51 persen pemaindi Piala Dunia kali ini telah menggunakan Jabulani secara reguler, tapi tak satu pun dari mereka meurpakan pemain Inggris.

    377 dari total 736 pemain di Piala Dunia 2010 telah menggunakan Jabulani dalam persiapan jelang turnamen.

    Para Pengguna Jabulani

    Timnas Yang Disponsori Adidas: Argentina, Denmark, Prancis, Jerman, Yunani, Jepang, Meksiko, Nigeria, Paraguay, Slovakia, Afrika Selatan, Spanyol.

    PLUS: 6 klub Bundesliga (Bayern Muenchen, Schalke 04, Bayer Leverkusen, Hamburg SV, Nuremburg, VfL Wolfsburg), Liga Afrika Selatan, MLS, Liga Austria, Liga Swiss, Liga Rusia, Liga Argentina, klub Belanda (Ajax Amsterdam), klub Belgia (Anderlecht), Piala Prancis, Piala Dunia Klub 2009 (Desember), Piala Afrika 2010.

    DAILYMAIL | A. RIJAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.