Melongok Perkampungan Penderita HIV/AIDS  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Kompleks itu akan sulit lepas dari perhatian siapa pun yang melintas di Jalan Raya Maraisburg, Johannesburg. Puluhan rumah beratap kubah seragam berjajar dengan warna dominan putih. "Sparrow Rainbow Village", demikian tulisan pada plang di depan kompleks itu.

    "Itu tempat perawatan khusus untuk merawat pengidap HIV/AIDS," kata sopir yang membawa kami, saya, dan dua wartawan lainnya. Tertarik, saya langsung memintanya masuk ke kompleks itu dan menjajaki kemungkinan melakukan peliputan.

    Ternyata bisa. Saya disambut oleh Robert Miller, lelaki 74 tahun yang menjadi fund raiser di lembaga swadaya masyarakat tersebut. Ia mengajak kami berkeliling kompleks sambil memberikan keterangan.

    Lembaga itu didirikan pada 14 Februari 1992 oleh Corine McClintock, mantan perawat yang hingga kini masih aktif di tempat itu. Ia mendirikannya setelah merawat banyak pengidap HIV/AIDS di rumahnya dan menyadari bahwa dibutuhkan tempat lebih besar dan lebih memadai untuk merawat pasien, yang tiap hari terus bertambah jumlahnya.

    ADVERTISEMENT

    Konsep rumah kubah dipakai karena dianggap paling cocok untuk mengurangi beredarnya kuman dan bakteri. Bentuk kubah memungkinkan udara dari dalam rumah langsung keluar lewat lubang angin di puncak kubah.

    Tempat itu kini menyediakan perawatan bagi pengidap HIV/AIDS yang tengah sekarat, merawat, dan membesarkan bayi yang terinfeksi, memberikan pelatihan keterampilan bagi penderita agar kelak bisa mandiri saat keluar dari tempat itu, juga menjadi institusi yang membantu penyadaran publik soal HIV/AIDS.

    "Kini kami merawat 280 pengidap bayi dan anak-anak serta 100 pengidap dewasa," kata Miller.

    Jumlah yang mengagetkan. Nantinya, setelah keluar dari tempat itu, saya pun melakukan riset dan menemukan fakta memprihatinkan.

    Afrika Selatan menjadi negara dengan pengidap HIV/AIDS terbanyak di dunia. Pada 2007, di negara ini diperkirakan ada 5,7 juta pengidap atau 12 persen dari seluruh penduduk. Wikipedia menulis, pada tahun yang sama hanya 28 persen dari penderita itu menerima treatment antiretroviral dan ada 350 ribu penderita yang meninggal.

    Seks bebas dan kegemaran berganti pasangan diduga menjadi penyebabnya. Yang kerap mendatangkan keprihatinan, jumlah pengidap HIV/AIDS di kalangan anak-anak dan remaja cukup tinggi. Pada 2007, diperkirakan 280 ribu pengidap HIV/AIDS masih di bawah usia 15 tahun. Jumlah itu melonjak dua kali lipat dibanding 2001. Saat ini diperkirakan ada 1,5-3 juta anak yatim atau piatu karena HIV/AIDS.

    Miller menguatkan data tersebut. Lembaga tempatnya berkiprah banyak juga menerima penderita yang baru lahir dan sudah yatim-piatu.

    Saya pun sempat dibawa melihat Xolani, bocah 18 bulan yang tertular HIV dari ibunya dan datang ke tempat itu sejak lahir. Ia tampak asyik bermain telepon dan cukup antusias saat diajak melakukan tos tangan oleh Miller.

    "Ia masih mengkonsumsi obat dua kali sehari untuk membantu menguatkan tubuh. Tapi sangat mungkin ia bisa berhenti mengkonsumsi obat itu suatu saat," kata Miller.
    Saya juga melihat 40 bocah lain ditempatkan di crèche (kompleks sekolah). Sayang, saat saya datang, mereka semua sedang tidur sehingga saya hanya bisa memotret mereka.
    Di bagian lain kompleks itu saya juga sempat menyaksikan lima remaja asyik bermain sepak bola. Semuanya adalah pengidap HIV. "Olahraga baik untuk menguatkan tubuh mereka," kata Miller.

    Kelimanya tampak tak keberatan saat hendak difoto. Mikel, remaja 17 tahun asal Soweto, mengaku sudah berada di sana sejak usia 13 tahun. Ia kini mulai mengurangi konsumsi obatnya. "Saya mungkin akan bisa keluar dari sini pada usia 20," katanya.

    Miller menjelaskan, pengidap remaja umumnya tak diizinkan langsung keluar hingga mereka menyelesaikan pendidikan dan pelatihan di tempat itu untuk bekal hidup di luar nanti. Beberapa penderita bahkan dibiayai untuk kuliah.

    Tak semua penghuni tempat ini seberuntung Mikel. Mereka yang akhirnya meninggal di tempat itu namanya diabadikan dalam pin logam dan ditempelkan di hiasan pohon di lobi kantor. "Tapi, setelah jumlahnya mencapai 300-an, kami menghentikannya," kata Miller.
    Ketika bantuan obat antiretroviral dari pemerintah belum ada di tempat itu, penderita AIDS dewasa yang meninggal berjumlah 36 per bulan dan 12 pengidap HIV/AIDS balita untuk periode yang sama. Kini, berkat ketersediaan obat itu, tingkat mortalitas penderita dewasa di tempat ini menurun menjadi enam orang per bulan.

    Miller bertugas menjadi pengumpul dana di tempat itu sejak tiga tahun lalu. Tadinya ia adalah pemborong listrik yang memutuskan jadi sukarelawan di tempat ini tapi kemudian tercebur lebih dalam sehingga menghentikan usahanya.

    Ia mengaku tak mudah mengumpulkan dana untuk menyokong tempat itu. "Dara kebutuhan 18 juta rand (Rp 18 miliar), kami masih kekurangan 8 juta per tahun. Pemerintah sendiri hanya membantu 3 juta rand khusus untuk biaya para balita," katanya. "Di sini pasien tak ada yang dipungut biaya bahkan, bila ada yang meninggal, kami pula yang menanggung biaya penguburannya."

    l NURDIN SALEH (JOHANNESBURG)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selain Makan di Warteg, Ini Sejumlah Kegiatan Asyik yang Bisa Dilakukan 20 Menit

    Ternyata ada banyak kegiatan positif selain makan di warteg yang bisa dilakukan dalam waktu 20 menit. Simak sejumlah kegiatan berikut...