Dari (Botol Plastik) Jadi (Kaus)

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Beberapa tim yang bertanding di Afrika Selatan saat ini tampil di lapangan dengan mengenakan kaus daur ulang dari botol plastik. Christiano Ronaldo, Robinho, dan Park Ji-sung adalah beberapa pemain dalam tim-tim itu.

    Total ada sembilan negara yang dibuatkan kaus ramah lingkungan itu oleh raksasa kelengkapan olahraga di dunia, Nike. Mereka adalah favorit juara Brasil, Belanda, dan Portugal. Enam lainnya adalah Amerika Serikat, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Serbia, dan Slovenia. Setiap kaus tim nasional tersebut dibuat dari delapan botol plastik yang dilelehkan kembali menjadi polimer polyester.

    "Kami melengkapi para pemain dengan desain kaus tim yang tidak cuma terlihat bagus dan enak dikenakan, tapi juga terbuat dari material daur ulang yang ramah lingkungan," kata Charlie Denson, Presiden Nike, ketika memperkenalkan kaus-kaus itu di London, Inggris, Februari lalu.

    Untuk memproduksi kaus-kaus untuk kesembilan tim nasional yang berlaga di Piala Dunia Afrika Selatan 2010 tersebut, Nike mengumpulkan botol-botol plastik bekas dari sejumlah tempat sampah di Jepang dan Taiwan. Proses daur ulang yang dilakukannya sukses mengurangi konsumsi energi hingga 30 persen ketimbang harus memproduksinya dari bahan polyester baru.

    ADVERTISEMENT

    Dengan inisiatifnya itu, Nike "berjasa" mencegah hampir 13 juta botol plastik atau hampir 254 ribu kilogram sampah polyester terbuang percuma dan berpotensi meracuni tanah (lihat boks). Jumlah lembaran plastik itu, kalau dihamparkan, cukup untuk melapisi 29 lapangan sepak bola. Dan, kalau dibuat berbaris, panjangnya bisa lebih dari 3.000 kilometer--lebih panjang daripada garis pantai di Afrika Selatan.

    Kaus atau pakaian yang terbuat dari bahan daur ulang memang bukan inisiatif baru. Sudah cukup banyak yang memproduksinya. Tapi "kebesaran" Nike sebagai sebuah merek diyakini mampu memberi dampak besar untuk kepedulian yang selama ini diperjuangkan untuk kelestarian lingkungan.

    "Menggunakan polyester 100 persen daur ulang adalah sebuah inovasi yang sudah diakui memberikan keuntungan bagi lingkungan," kata Nina Stevenson dari Center for Sustainable Fashion, "Dengan melakukan ini, Nike mendukung pembuatan desain (pakaian) yang memelihara keseimbangan ekologis."

    Nike terus terang berharap ke depan mampu menjadi yang terdepan dalam bisnis berlabel ramah lingkungan. Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini mengakui bisnis semacam itu tak cuma baik untuk kelangsungan hidup di Bumi, tapi memang sudah menjadi tren.

    "Kaitan antara kelestarian lingkungan dan Nike sebagai sebuah perusahaan belum pernah jelas, dan tentu saja ada keinginan nyata untuk menjadikan Nike sebuah perusahaan yang lebih ramah bagi lingkungan," kata Hannah Jones, Wakil Presiden Nike.
    Jadi, negara mana pun yang akan mengangkat trofi juara pada 8 Juli nanti, lingkungan--dengan bantuan Nike--akan ikut bersorak merayakan kemenangannya.

    l WURAGIL | NIKE | DAILYMAIL | TREEHUGGER

    INFOGRAFIS:
    Kaus dengan Ventilasi

    Menjadi ramah lingkungan terbukti bukan hambatan untuk menjadi inovatif. Dalam kaus kesebelasan baru yang diproduksinya untuk sembilan negara, Nike membuat desain yang mampu menjaga tubuh pemain yang mengenakan kaus itu tetap kering, dingin, dan bahkan lebih nyaman. Suhu tubuh optimum terpelihara sehingga si pemain bisa tetap menampilkan permainannya yang terbaik di lapangan.
    Bobot serat daur ulang yang 15 persen lebih ringan dimanfaatkan Nike untuk memperbaiki teknologi serat ganda yang disebutnya Dri-Fit. Teknologi ini membantu para pemain menghilangkan keringat dengan cara menyerapnya ke bagian luar kaus dan membuatnya menguap ke udara.
    Pori atau zona ventilasi ada di tiap sisi dalam dan luar kaus. Zona terdiri atas 200 pori itu juga berkombinasi dengan serat yang diklaim meningkatkan aliran udara hingga 7 persen. Hasilnya, kaus bisa "bernapas" lebih baik sehingga udara, misalnya, kini bisa bersirkulasi di seluruh permukaan dada--membuat suhu tubuh pemain tetap dingin.
    Zona ventilasi ini juga dibuat di celana, tepatnya di bawah lingkar pinggang, dekat pangkal ginjal. Area bagian tubuh ini juga biasa basah oleh keringat.  
    Struktur baru rajutan ganda ini juga menambah elastisitas kaus sebesar 10 persen daripada dibanding sepak bola terakhir yang pernah diproduksi Nike. Tanpa mengurangi aliran udara yang bersirkulasi, kaus jadi lebih dinamis dan mampu mengikuti lekuk tubuh setiap pemain.

    KET GAMBAR
    Pori yang dibuat dengan teknologi laser sebagai ventilasi untuk keringat. Aplikasi inovasi halo mencegah kaus robek gara-gara keberadaan 200 pori seperti ini.
    Rekayasa slider and impact memberikan perlindungan tambahan terhadap efek cahaya dan luka lecet Rekayasa Therma Mock melindungi leher pemain dari kondisi tidak nyaman


    BOKS:
    Polyester Versus Katun

    Daur ulang polyester memang mungkin dilakukan karena polimer yang lebih sering disebut sebagai polyethylene terephthalate (PET) itu ada di mana-mana. Tak cuma di pakaian dan botol plastik, polyester ada juga di seluruh penjuru kelengkapan rumah tangga. Ia juga memperkuat ban, sabuk pengaman, plastik film, LCD, hologram, kapasitor, dan selotip listrik.
    Kebanyakan polyester yang sintetik memang tidak ramah lingkungan. Selain tidak bisa terdegradasi secara alami di tanah, proses pembuatan mereka lapar energi dan mensyaratkan sejumlah besar air untuk pendinginan. Itu belum termasuk kebutuhan akan pelumas, yang bisa menjadi sumber polutan yang lain.
    Bahan yang satu ini juga tidak senyaman bahan dari katun atau wol jika dikenakan. Polyester juga sejatinya tidak memiliki pori yang sebaik katun atau wol.
    Tapi PET memiliki kelebihan spesifik sebagai serat garmen, yakni antikusut. Polyester juga dikenal kuat dan awet. Ia bisa dicuci dengan suhu rendah, dijemur kering dan bisa tidak usah disetrika. Kalau dihitung-hitung kebutuhan energi "sepanjang hidup" polyester malah lebih rendah.
    Berikut ini perbandingan total energi yang dibutuhkan mulai dari produksi bahan mentahnya hingga perawatan ketika kaus dari polyester dan katun sudah bisa dikenakan. Satuan energi dinyatakan dalam kilowatt jam (kWh). Satu kWh setara dengan energi untuk menyalakan bohlam 40 watt sepanjang hari atau televisi berwarna 29 inci selama empat jam.

    KET GAMBAR:
    Kaus Katun
    Kaus Polyester

    Bahan mentah
    Pembuatan
    Transportasi
    Pemakaian


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?