Menara Masjid dan Sepak Bola Swiss

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bermain di Nigeria, di Afrika, yang merupakan benua kelahiran orang tuanya, Nassim Ben Khalifa bermain dengan gembira pada Piala Dunia U-17 tahun lalu. "Keluarga kami di Tunisia menyaksikan penampilan saya lewat siaran televisi Arab," kata playmaker andal ini. Dia membela Swiss, negeri kelahirannya. Swiss keluar sebagai juara, dan Khalifa berhak atas gelar runner up pemain terbaik.

    Pada partai final, 15 November 2009, Prancis menekuk tuan rumah, Nigeria, dengan skor 1-0. "Sungguh sukar dipercaya," tulis harian Swiss, Blick, menyambut gelar sepak bola pertama di pentas dunia yang berhasil direbut negeri mereka. "Multikulturalisme kesebelasan kita pastilah membuat para pendukung Partai Rakyat Swiss (SVP) bangga."
    Blick telah menuliskan kalimat paradoks. Pasalnya, dua pekan setelah kejuaraan itu berakhir, Swiss mengadakan referendum soal boleh-tidaknya masjid-masjid di Swiss memiliki menara.

    Ironi bagi Khalifa, pemain yang beragama Islam, karena ternyata 57,5 persen warga Swiss meminta agar tak perlu ada menara di setiap masjid. Referendum ini digagas SVP, partai sayap kanan, yang menganggap menara masjid--yang berjumlah empat buah di seluruh Swiss--menyimbolkan islamisasi.

    Selalu ada ganjalan di setiap integrasi, bisa para pendatang maupun "tuan rumah"-nya. Masyarakat Belanda, misalnya, mengeluhkan perilaku hidup sekelompok imigran muslim yang terlalu eksklusif, tak mau bergaul dengan masyarakat "tuan rumah".

    ADVERTISEMENT

    Di dunia olahraga, pemimpin sayap kanan Prancis, Jean-Marie Le Pen, mengeluarkan komentar yang membuat merah kuping para pemain Prancis menjelang Piala Dunia 1998, saat negeri itu menjadi tuan rumah. Menurut Le Pen, kaum pendatang tak layak mengenakan seragam Les Bleus karena bukan orang Prancis dan tak bisa menyanyikan lagu nasional. Saat itu Prancis diperkuat mayoritas imigran, bahkan bintangnya adalah Zinedine Zidane, gelandang keturunan Aljazair. Prancis malah keluar sebagai juara.

    Tak perlu jauh-jauh, pahlawan-pahlawan bulu tangkis Indonesia di masa lalu kerap menemui ganjalan saat mengurus surat kewarganegaraan. Sebagian besar mereka adalah generasi ketiga atau keempat dari China. Pasangan suami-istri, Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti, bahkan baru memiliki surat bukti kewarganegaraan setelah memenangi medali emas tunggal putra dan putri Olimpiade 1992.

    Hasil referendum Swiss dikecam banyak kelompok, dari PBB, negara-negara tetangga yang notabene bukan mayoritas muslim, kelompok Yahudi di Swiss, sampai Vatikan, tempat bertakhtanya pemimpin tertinggi Katolik. Mereka menganggap masyarakat Swiss kelewatan dan tak membantu toleransi beragama.

    Sebaliknya, Presiden Asosiasi Muslim Swiss Taner Hatipoglu tak kecewa atas hasil referendum. "Pengambilan keputusan semacam itu merupakan tradisi Swiss, kami tak mempermasalahkannya." Yang dia kecam adalah cara SVP berkampanye. "Kampanye mereka terlalu menyerang Islam, masyarakat muslim menjadi termarginalkan."

    Dua tahun sebelum referendum, SVP kerap memasang poster berisi gambar seekor domba hitam menendang seekor domba putih di atas bendera Swiss. Menjelang referendum, partai penguasa parlemen ini mensosialisasi poster bergambar seorang wanita bercadar di depan menara-menara masjid yang berbentuk peluru kendali.

    Seorang anggota parlemen dari SVP bernama Oskar Freysinger menampik anggapan bahwa partainya membenci orang Islam. "Saya menghormati umat Islam, sebagai muslim, sebagai manusia, tak ada masalah. Namun saya memiliki persoalan dengan hukum Islam dan aspek politik serta hukum dari agama itu."

    Swiss memiliki luas 41,284 kilometer persegi, dan berpenduduk kurang sedikit dari 8 juta jiwa. Sekitar 4,5 persennya beragama Islam, yang kebanyakan merupakan keturunan pelarian dari pecahan Yugoslavia, Turki, dan Afrika. Dari keluarga seperti inilah muncul Murat Yakin (mantan bintang sepak bola Swiss) dan adiknya, Hakan Yakin (yang sekarang menjadi wakil kapten tim di Afrika Selatan 2010), serta generasi baru seperti Khalifa.

    Lebih luas lagi, sepak bola Swiss yang mati suri telah bangun lagi berkat anak-anak imigran, baik yang muslim maupun bukan. Sekitar 20 persen dari keseluruhan warga negara mereka adalah keturunan asing. Sukses itu dimulai saat Nati--julukan kesebelasan Swiss--memenangi Piala Eropa U-17 dengan bintang Philippe Senderos (keturunan Spanyol-Serbia).

    Kegemilangan pada Piala Dunia U-17 tahun lalu adalah puncaknya. Saat itu mereka diperkuat 12 pemain yang lahir dari keluarga imigran. Lalu, di Afrika Selatan kali ini, lebih dari separuh anggota skuad Nati senior memiliki kewarganegaraan ganda.

    Swiss tergabung di Grup H, yang diisi tiga kesebelasan dari negara Hispanic: Spanyol, Cile, dan Honduras. Musuh pertama Swiss, malam nanti di Durban, adalah "mbahnya" Hispanic, yakni Spanyol. Setelah puluhan tahun berkutat dengan masalah integrasi kesukuan--Castilia, Catalonia, Basque, dan suku-suku kecil lain--Spanyol berdamai dengan diri mereka sendiri dan menghasilkan gelar Piala Eropa 2008.
    Swiss bisa belajar dari Spanyol dan Spanyol belajar dari Swiss: soal sepak bola, juga integrasi.

    BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA

    ===============
    GLOSOCCERY
    ===============

    BICYCLE KICK: tendangan yang dilakukan sambil bersalto, juga disebut overhead kick. Di Amerika Latin, jenis tendangan ini memiliki beberapa nama: chalaca, chilena, bicicleta. Orang Afrika Selatan menyebutnya mokanangwana alias tendangan gunting. Di luar sepak bola, tendangan ini menjadi teknik yang lazim pada permainan sepak takraw.

    Ada banyak versi soal siapa yang pertama kali mempopulerkan tendangan akrobatik ini. Di Cile, pemain kelahiran Spanyol, Ramon Uzaga, sudah dikenal kerap melakukan teknik ini pada pertengahan 1910-an. Di Peru, pemain-pemain amatir dari kota pelabuhan Callao bahkan sudah sering melakukan hal ini saat bermain melawan para pelaut Inggris pada akhir 1800-an. Carlo Parola, pemain Italia pada 1940-an, populer dengan teknik ini di negerinya.

    Namun pemain yang melakukannya untuk pertama kali di tingkat internasional adalah penyerang legendaris Brasil, Leonidas, pada Piala Dunia 1938. Leonidas sudah kerap membuat penonton takjub di kompetisi lokal negaranya. Meski begitu, menurut banyak saksi, Leonidas sekadar meniru teknik yang biasa dilakukan pemain asal Brasil lain, Petronilho de Brito. AM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.