Lengkingan Vuvuzela Kalahkan Suara Jet  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Siphiwe Sibeko

    REUTERS/Siphiwe Sibeko

    TEMPO Interaktif, Saat menyaksikan siaran langsung Piala Dunia dalam sepekan ini, Anda pasti pernah mendengar suara mirip lebah atau mirip serangga di televisi. Sedikit mengganggu memang, tapi itulah suara khas yang dibangga-banggakan oleh warga Afrika Selatan.

    Ya, bunyi yang memekakkan telinga itu berasal dari trompet plastik berwarna-warni sepanjang kurang-lebih 1 meter. Namanya vuvuzela, terkadang juga disebut lepatata, yang artinya trompet stadion. Vuvuzela identik dengan sepak bola Afrika Selatan. Tanpa vuvuzela, bukan sepak bola Afrika Selatan namanya.

    Instrumen tersebut, meski tak bisa disebut sebagai sebuah alat musik, dimainkan dengan teknik sederhana layaknya meniup instrumen yang terbuat dari bahan kuningan. Bibir cukup ditempelkan pada bagian ujungnya. Untuk menghasilkan suara melengking, meniupnya harus sedikit digetarkan.

    Kehadiran vuvuzela di Piala Dunia sempat mengundang kontroversi. Suara melengking yang dihasilkan dianggap bisa membahayakan gendang telinga. Bahkan bisa menyebabkan ketulian permanen. Meski begitu, badan sepak bola dunia, FIFA, tetap mengizinkan vuvuzela dibunyikan selama Piala Dunia berlangsung.

    ADVERTISEMENT

    Hear the World Foundation, yayasan yang dibentuk oleh produsen alat bantu pendengaran Phonak dari Swiss, menyebutkan bahwa suara yang dihasilkan oleh ribuan vuvuzela dalam waktu cukup lama sangat berbahaya. Suaranya bahkan bisa melebihi kebisingan yang dihasilkan pesawat jet saat lepas landas.

    Dalam sebuah tes yang dilakukan di dalam ruangan kedap suara bulan lalu, yayasan tersebut menemukan bahwa suara yang dihasilkan sebuah trompet vuvuzela bisa mencapai tingkat kebisingan hingga 127 desibel. Sedangkan suara pesawat jet saat lepas landas 124 desibel. Suara tersebut jauh di atas lenguhan petenis Rusia, Maria Sharapova, di Wimbledon yang hanya 103 desibel. Padahal batas ambang bahaya bagi pendengaran manusia adalah 125 desibel.

    "Ketika sumber suara dinaikkan sebanyak 10 desibel, kuping kita mengartikannya terjadi kenaikan dua kali lipat dari itu. Jadi suara yang dihasilkan vuvuzela lebih dari dua kali lipat bunyi suara gergaji mesin yang memiliki tingkat kebisingan 100 desibel, misalnya," kata Robert Beiny, seorang audiologis.

    Selain dapat merusak pendengaran, dampak negatif lainnya dari vuvuzela adalah tersebarnya virus di udara. Hal tersebut diungkapkan oleh para ahli kesehatan di London School of Hygiene and Tropical Medicine.

    Sebuah tim dibentuk untuk meneliti kemungkinan tersebarnya virus melalui media vuvuzela saat ditiup. Dalam kesimpulan mereka disebutkan bahwa, saat udara kencang terembus dari vuvuzela, tetesan kecil air liur si peniup terbang ke udara dan dapat menyebabkan flu atau penyakit lain bagi orang di sekitarnya. Terlebih bila orang yang meniup vuvuzela tersebut sedang terjangkit penyakit.

    "Kami meneliti dan mengukur apa yang terjadi ketika orang yang dalam kondisi sehat meniup vuvuzela. Hasilnya cukup mencengangkan. Kami menemukan banyaknya butiran air yang terbentuk di udara," kata Dr Ruth McNerney dari London School of Hygiene and Tropical Medicine.

    Vuvuzela memang tak bisa dipisahkan dari sepak bola Afrika Selatan. Bunyi-bunyian yang dihasilkan vuvuzela tak ubahnya seperti drum samba di Brasil atau trompet angin di Eropa. Tujuannya adalah menyemangati tim kesayangan mereka di lapangan.


    NETDOCTOR | BBC | FIRMAN ATMAKUSUMA

    Siapa yang paling bising?

    1. Suasana di perpustakan -- 30 db (desibel)

    2. Telepon -- 80 db

    3. Suara gergaji mesin -- 100 db

    4. Lengkingan petenis Maria Sharapova -- 103 db

    5. Pesawat jet -- 124 db

    6. Vuvuzela --127 db (batas ambang bahaya bising bagi manusia 125 db)

    7. Pistol -- 140 db


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.