Sepuluh  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP Photo/Elise Amendola

    AP Photo/Elise Amendola

    TEMPO Interaktif, SEJARAH berulang. Begitu juga dalam Piala Dunia. Situs http://bleacherreport.com bahkan mencatat, ada 10 hal yang selalu muncul di final sepak bola akbar sejagat itu. Apa saja?

    1. Bola resmi penuh kontroversi. Tahun ini, para pemain mengeluhkan Jabulani, bola resmi buatan Adidas, yang terlalu ringan dan gampang melenting, sehingga susah dikuasai. Penjaga gawang Amerika Serikat, Marcus Hahnemann, menjulukinya sebagai "mimpi buruk".
    Pada Piala Dunia 2006 di Jerman, penjaga gawang Inggris, Paul Robinson, mencemooh bola Temgeist "seperti bola polo air". Pada 2002, ketika Brasil menjadi juara dunia, bola resmi dikritik karena terlalu besar dan ringan.

    Pada 1994, kiper Amerika Serikat, Tony Meola, mengomel karena menganggap si kulit bundar itu terlalu enteng. Sedangkan tim Spanyol menyebut bola resmi Euro 2004, Roteiro, sebagai "bola pantai".

    2. Insiden sikut. Pada 1994, Leonardo Araujo adalah salah satu pemain terbaik Brasil. Tapi, setelah 43 menit pertandingan melawan Amerika berjalan, dia menjadi mimpi buruk bagi pemain Uruguay, Tab Ramos. Ramos terpaksa mondok 3,5 bulan di rumah sakit setelah wajahnya terkena sikut Leonardo.

    ADVERTISEMENT

    Pada 1998, Belanda melawan Argentina. Sesaat menjelang Dennis Bergkamp mencetak gol kemenangan, Ariel Ortega menghajar rahang penjaga gawang Edwin van der Sar.
    Piala Dunia 2002 juga memperlihatkan serangan brutal pemain Turki, Hakan Unsal, yang menendang bola ke arah wajah Rivaldo. Empat tahun kemudian, giliran pemain Amerika Serikat, Brian McBride, yang ketiban sial. Tapi nasibnya lebih baik ketimbang Ramos, yang disikut wajahnya oleh Daniele De Rossi.

    3. Kejayaan kuda hitam. Menang atau kalah itu soal biasa. Tapi kekalahan negara unggulan oleh tim-tim kuda hitam selalu mengejutkan. Senegal, misalnya, pernah melakukannya terhadap Prancis pada 2002. Kamerun mempermalukan Argentina pada 1990. Nigeria menghajar Spanyol pada 1998. Ghana menumbangkan Republik Cek 2-0 pada 2006. Irlandia mempecundangi Italia, runner-up Piala Dunia 1994. Korea Selatan bahkan berhasil maju sampai semifinal pada 2002 setelah menyingkirkan negara-negara yang diunggulkan di kandangnya sendiri.

    4. Inggris tersingkir oleh faktor X. Kesebelasan Tiga Singa kerap tak beruntung di final Piala Dunia. Ada saja penyebabnya. Mungkin Chris Waddle penyebabnya. Atau Diego Pablo Simeone. Atau Darius Vassell. Atau wasit yang menganulir tandukan Sol Campbell. Atau David Batty. Atau Cristiano Ronaldo, yang mengedipkan mata kepada wasit sehingga membuat Rooney terkena kartu merah. Bisa jadi "tangan Tuhan" Diego Maradona. Inggris kalah, tapi tak selalu lewat permainan yang fair.

    5. Bagaimanapun bagusnya permainan mereka, Spanyol adalah pecundang abadi. Bagaikan matador yang menundukkan banteng dengan tarian, Spanyol selalu bermain cantik di setiap Piala Dunia. Tapi ternyata cantik saja tidak cukup.

    6. Belanda selalu kalah dalam adu penalti. Negeri Oranye ini mungkin dibenci oleh dewi fortuna. Hingga Piala Eropa 2004, mereka selalu tak beruntung dalam adu penalti. Pada final Piala Dunia 1998 ketika menghadapi Brasil, contohnya, Ronald de Boer dan Phillipe Cocu gagal mengeksekusi tendangan sehingga Belanda kalah. Van Basten gagal di Piala Eropa 1992. Pada Piala Eropa 1996, giliran sang legenda Clarence Seedorf.

    7. Pencetak gol terbanyak bukan yang difavoritkan sejak awal. Lihat saja Ronaldo, yang menjadi favorit pada 2002. Tapi akhirnya striker Jerman, Miroslav Klose, yang meraih sepatu emas. Pada 1994, Romario terlihat begitu produktif, tapi toh akhirnya Hristo Stoichkov dari Bulgaria yang menjadi pencetak gol terbanyak.

    8. Gol-gol ajaib. Maradona menciptakannya pada 1986. Pada 1994, pemain tengah Saudi, Said al-Owayran, secara mengejutkan mengarungi sepanjang lapangan lalu menceploskan bola ke gawang Belgia. Tendangan voli ajaib Maxi Rodriguez mengantar Argentina meraih kemenangan atas Meksiko pada 2006.

    9. Wasit kontroversial. Pada 2006, wasit Rusia, Ivanov, dijuluki "sang jagal" karena mengeluarkan 16 kartu kuning dan 4 kartu merah ketika memimpin pertandingan Belanda melawan Portugal.

    10. Lelaki tidak menangis. Tapi kita selalu menyaksikan wajah-wajah lelaki perkasa yang berurai air mata setelah tendangannya meleset atau ditepis kiper dalam adu penalti sehingga membuat negaranya kalah. Siapa yang akan menangis di Afrika Selatan tahun ini?

    Wicaksono


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.