Miriam Menahan Tangis di Museum Apartheid

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Musium Apartheid. Tempo/Nurdin Saleh

    Musium Apartheid. Tempo/Nurdin Saleh

    TEMPO Interaktif, Saya ingin melihat Museum Apartheid, sekaligus melihat langsung reaksi orang setempat setelah mengunjungi tempat ini. Maka saya pun mengajak Miriam Gillan, warga Afrika Selatan keturunan Melayu berusia 47 tahun. Ia tak keberatan.
    Museum yang didirikan pada 2001 ini terletak di daerah Gold Reef, Johannesburg. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk 50 rand (Rp 60 ribu).

    Saat menginjak pintu masuk, saya kaget. Penjaga mengarahkan saya masuk pintu bertulisan "nie-blankes/non-whites" (kulit hitam atau berwarna) sesuai dengan karcis yang saya dapat di loket. Sedangkan Miriam masuk pintu "blankes/whites" (khusus untuk kulit putih) karena mendapat kartu jenis itu.

    Maka kami pun terpisah. "Begitulah rasanya di zaman apartheid. Anda dipisahkan karena warna kulit Anda. Di sini Anda diajak merasakan suasana saat itu," kata Miriam saat kami bertemu di ujung lorong.

    Museum ini terdiri atas 30 area. Melalui foto, foster, berita surat kabar, materi video, dan berbagai benda peninggalan masa lalu, pengunjung diajak kembali ke masa lalu. Kita diajak kembali ke 2.500 tahun lalu, saat kaum Bushmen, suku asli Afrika Selatan, masih jadi penguasa, saat mereka tersisih oleh pendatang dari Eropa, ketika politik apartheid meraja, hingga kebijakan itu berakhir pada 1994.

    ADVERTISEMENT

    Apartheid secara sederhana adalah kebijakan pemisahan antara kulit putih dan kulit berwarna, dalam segala segi kehidupan. Meski sudah dipraktekkan selama ratusan tahun, secara resmi kebijakan itu baru ditegakkan pada 1948.

    Pada bagian pertama museum, di depan pintu masuk, pengunjung sudah disuguhi aspek pemisahan itu dari segi kartu identitas. Orang kulit putih mendapat kartu identitas yang bertulisan "SA Citizen", sedangkan orang kulit berwarna harus memegang KTP berbeda dengan keterangan "natives" di bagian atas.

    Warga kulit berwarna harus selalu membawa kartu identitas itu. Bila tidak, ia akan langsung masuk penjara saat terkena razia polisi. KTP ini juga banyak menjadi sumber bencana karena membuat warga dari satu suku harus terpisah--berbeda perkampungan--dari sukunya karena salah pendataan.

    Pada bagian tersebut ada satu bagian yang menjelaskan ketidakkonsistenan otoritas waktu itu. Pada 1985, ada 1.000 orang yang mengalami perubahan warna kulit atau disebut Chameleons. Sebanyak 702 warga kulit berwarna status KTP-nya mendadak berubah jadi putih, sedangkan 19 orang kulit putih jadi berwarna.

    Di bagian lain, pengunjung pun disuguhi tayangan film tentang sejarah kehadiran apartheid di Afrika Selatan. Dalam tayangan film tersebut, nama Indonesia sempat disebut-sebut sebagai salah satu negara "pemasok" budak ke Afrika Selatan pada pertengahan abad ke-18 dengan dibawa oleh penjajah Belanda.

    Ada banyak kepedihan dan derita warga kulit hitam yang disajikan di museum ini lewat foto, berita surat kabar, dan video. Di sana antara lain tersaji betapa saat itu polisi kulit putih tak segan-segan menyerbu perkampungan kulit hitam, kemudian menyeret pemuda dan anak-anak untuk diinterogasi serta disiksa. Gerakan anti-apartheid juga berkali-kali direspons dengan tindakan brutal aparat keamanan kulit putih.

    Pada salah satu dinding terpampang sikap yang melandasi tindakan itu. "Orang kulit putih adalah penguasa Afrika Selatan. Dan, secara alamiah dari asalnya, dari lahirnya, juga dari kekuatannya, orang kulit putih akan tetap berkuasa di Afrika Selatan sampai akhir zaman." Begitu pernyataan anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada 15 Maret 1950.

    Tapi kekuasaan apartheid itu terbukti tak langgeng. Perjuangan masyarakat yang dipimpin tokoh kulit hitam, termasuk Steven Biko, Desmond Tutu, dan Nelson Mandela, mampu mengakhiri kebijakan diskriminatif tersebut.

    Mandela mendapat porsi sangat besar di museum ini. Pihak pengelola sengaja menggelar ekshibisi khusus soal Mandela, yang terdiri atas delapan bagian fase kehidupan Bapak Bangsa Afrika Selatan itu.

    Setelah menjelajahi museum lebih dari sejam, saya pun berusaha menggali suasana hati Miriam. Ibu dua putra yang sudah jadi fotografer sejak masa apartheid itu mengaku sudah berkali-kali datang ke museum ini. "Saya selalu sedih dan menahan tangis setiap kali datang ke sini, teringat masa lalu," katanya.

    Ia mengaku pernah merasakan sakitnya tak boleh masuk toilet yang dikhususkan bagi orang kulit putih meski saat itu ia kebelet pipis. Waktu itu ia masih kecil dan sempat menyanggah seorang wanita kulit putih yang melarangnya, tapi tetap saja ia harus berputar dan memakai toilet khusus untuk warga kulit berwarna di bagian belakang pompa bensin itu.

    Ia dan keluarganya juga kerap tak bisa masuk restoran bagus karena itu dikhususkan bagi orang kulit putih. Saat memotret orang kulit putih, ia juga tak pernah dipandang pada wajah dan kerap dianggap sebagai pelayan fotografer kulit putih yang jadi rekan kerjanya. "Mengingat itu, saya selalu sedih. Tapi kini saya bersyukur anak-anak saya tak perlu mengalami hal itu," katanya.

    l Nurdin Saleh (Johannesburg)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Greysia / Apriyani, Dipasangkan pada 2017 hingga Juara Olimpade Tokyo 2020

    Greysia / Apriyani berhasil jadi pasangan pertama di ganda putri Indonesia yang merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang bulu tangkis.