Rabah, Rubah Afrika Terakhir

Reporter

Editor

AP Photo/Martin Mejia

TEMPO Interaktif, Orang Aljazair biasa memanggil "syekh" kepada lelaki-lelaki tua yang santun dan arif. Rabah Saadane, 64 tahun, termasuk kategori "syekh" itu. "Dia asli Aljazair, dia tahu apa yang harus dilakukan, dia memberikan kami kebebasan dan penghormatan," kata Hassan Yebda, gelandang Aljazair yang mencari penghidupan di klub Portugal, Benfica.

Sang syekh kini memikul tanggung jawab sepak bola Afrika yang sejati. Pelatih Les Fennecs--Pasukan Rubah Gurun, julukan Aljazair--itu adalah satu-satunya pelatih asli Afrika yang ada di Piala Dunia 2010. "Sebuah tanggung jawab yang sangat besar, saya mewakili seluruh pelatih Afrika dan dunia Arab."

                                                ****

Ironis. Pada perhelatan terbesar yang diadakan di Benua Hitam, pelatih asal Afrika tak menjadi tuan rumah di tanah sendiri. Tuan rumah Afrika Selatan dilatih orang Brasil (Carlos Alberto Parreira). Empat kesebelasan  yang lain juga ditangani pelatih asing: Nigeria (Lars Lagerback dari Swedia), Ghana (Milovan Rajevac, Serbia), Kamerun (Paul le Guen, Prancis), dan Pantai Gading (Sven Goran Eriksson, Swedia).

Dari kelima pelatih asing itu, cuma Parreira yang memiliki reputasi bagus di pentas dunia: membawa Brasil menjuarai Piala Dunia 1994, tapi gagal mengulanginya pada 2006. Eriksson melatih Inggris pada dua kali perhelatan, 2002 dan 2006, dan dua-duanya tak mampu melewati perempat final. Lagerback membawa Swedia pada putaran final 2006, tapi gagal lolos tahun ini. Dua sisanya, Le Guen dan Rajevac, malah sama sekali belum pernah menangani tim nasional.

"Kebanyakan orang Afrika masih memiliki mental yang menganggap bahwa orang Eropa lebih pintar," kata Thomas Mlambo, seorang komentator ternama di stasiun televisi Afrika Selatan. "Para pemain lebih menghormati orang-orang kulit putih," kata Bienvenue Kehedi, seorang mahasiswa dari Abidjad, Pantai Gading.

Kesebelasan Afrika pertama yang ikut Piala Dunia adalah Mesir pada 1934. Pelatihnya, James McRae, dari Skotlandia. Menunggu 36 tahun kemudian, Benua Hitam baru mengirim wakil mereka lagi, yaitu Maroko, pada 1970. Lagi-lagi bernakhodakan orang asing, Blagoje Vidinic, dari Yugoslavia. Empat tahun berikutnya, Vidinic menangani Zaire ke Piala Dunia di Jerman.

Orang-orang asing itu gagal mempersembahkan kebanggaan. Pada 1934, 1970, dan 1974, tim-tim Afrika pulang tanpa beroleh satu kemenangan pun. Kemenangan pertama baru mereka dapatkan di Argentina pada Piala Dunia 1978. Tunisia yang memberi kehormatan itu dengan menundukkan Meksiko 3-1. Dan pelatih Tunisia berasal dari Tunisia sendiri, orang asli Afrika, Chetali Abdel Majid.

Mulai 1982, Afrika berhak atas lebih dari satu tiket ke Piala Dunia. Saat itu mereka mengirim dua wakil ke Spanyol, yaitu Kamerun dan Aljazair. Kedua-duanya tak lolos dari babak grup. Kamerun meraih tiga kali hasil seri dari tiga pertandingan. Tim berjulukan Les Lions Indomptables itu ditangani duo pelatih asal Prancis, France Jean
Vincent dan Branko Zutic.

Aljazair justru mengesankan dengan menundukkan tim favorit juara, Jerman, 2-1 pada laga pertama. Sayangnya, pada partai berikutnya, anak-anak Rubah Gurun ditundukkan Austria 0-2. Aljazair kembali meraih poin penuh di laga ketiga, menang 3-2 atas
Cile.

Sayangnya, dalam pertandingan yang konon dilakukan dengan "main mata", Jerman menang 1-0 atas Austria, sehingga kedua tim ini menjadi wakil grup. Akibat kasus ini, sejak saat itu FIFA memberlakukan aturan bahwa dua laga terakhir di babak grup harus
dilangsungkan berbarengan untuk menghindari permainan skor.

Siapa pelatih Aljazair saat itu? Namanya Mahieddine Khalef, asli Aljazair, dibantu sang asisten, Rabah Saadane. Empat tahun berikutnya, di Meksiko, Saadane naik pangkat menjadi pelatih utama. Sayangnya, kali ini Pasukan Rubah Gunung cuma sukses menahan imbang Irlandia Utara 1-1 sebelum dua kali kalah oleh Brasil dan Spanyol.

Catatan-catatan itu tertutup oleh kisah sukses pelatih-pelatih asing yang membawa Maroko ke babak 16 besar pada 1986, atau Kamerun ke perempat final 1990, Nigeria di babak 16 besar 1994 dan 1998, serta Senegal dan Ghana, yang masing-masing ke
perempat final dan 16 besar 2002 dan 2006.

Dari lima tim Afrika yang berangkat ke Piala Dunia 2006 di Jerman, cuma Angola yang ditangani pelatih lokal. Dari 16 kesebelasan yang berlaga pada Piala Afrika 2008, hanya empat yang dilatih orang benua sendiri. Dan, dari 20 tim yang bermain pada kualifikasi terakhir Piala Afrika 2010, cuma enam yang dipimpin pelatih Afrika. Otoritas sepak bola di negara-negara Afrika mengabaikan catatan Mesir, yang tiga kali berturut-turut menjuarai Piala Afrika terakhir dengan mengandalkan pelatih sendiri.

Banyak kesebelasan nasional dari belahan dunia lain yang juga dilatih orang asing, misalnya Inggris, Swiss, dan Cile. Namun kasus Afrika sedikit unik. "Saya pikir ini berkaitan dengan sejarah kolonialisme di Afrika," kata Peter Alegi, seorang profesor sejarah dari Amerika. "Ada ide bersama bahwa diperlukan supervisi orang berkulit putih terhadap kinerja orang-orang kulit hitam."

Philippe Troussier berbeda pendapat. Menurut pria asal Prancis yang pernah menangani Pantai Gading, Nigeria, Afrika Selatan, dan Maroko ini, pelatih asing diperlukan negara-negara Afrika karena obyektivitasnya. "Pelatih asing bekerja tanpa mempedulikan asal etnis si pemain, pelatih yang netral yang bekerja tidak berdasarkan wilayah atau suku tertentu." Sekat kesukuan dan agama kerap menjadi masalah tersendiri. Di antara pro dan kontra, faktanya, serta tetap menjadi ironi, cuma ada satu pelatih asli Afrika kali ini.
                                                *****

Pada usia yang telah lewat kepala enam, Saadane belum lelah mengawal sepak bola Aljazair. Malam nanti, di Cape Town, pria bertinggi badan 175 sentimeter itu harus menjalani pertarungan yang sulit melawan salah satu kandidat kuat, Inggris, setelah
kalah 0-1 oleh Slovenia pada laga pertama.

Bila langkah Les Fennecs berhenti dini, hukuman pemecatan sudah menanti Saadane. Itu tak jadi masalah karena dia terbiasa diangkat-dipecat untuk diangkat dan dipecat lagi. Sebelumnya, Saadane sekali menjadi asisten (1981-1982) dan tiga kali menjadi pelatih utama (1984-1986, 1998-1999, dan 2003-2004), sebelum kembali menjadi pelatih utama
sejak 2008.

Soal pemecatan-pemecatan itu, dia tak menyimpan kejengkelan. "Inilah Afrika, saya hidup di Afrika, saya tak tahu apakah itu hal buruk atau baik," kata syekh Rabah Saadane.

BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA

=============
GLOSOCCERY
=============
KOTAK PENALTI: area yang ditandai dengan garis yang berjarak 16,5 meter di depan
gawang dan berjarak masing-masing 16,5 meter di kiri-kanan gawang. Di sini terdapat
titik penalti yang jaraknya 9 meter dari gawang.

Fungsi kotak penalti: 1. wilayah yang diperbolehkan bagi kiper untuk memegang bola,
di luar itu menjadikannya pelanggaran; 2. lawan harus berada di luar kotak penalti
saat kiper melakukan tendangan gawang; 3. bila melakukan pelanggaran di kotak
penalti sendiri, tim si pemain akan dihukum tendangan penalti.






Mantan Gelandang Real Madrid dan Juventus Sami Khedira Pensiun

20 Mei 2021

Mantan Gelandang Real Madrid dan Juventus Sami Khedira Pensiun

Sami Khedira mengundurkan diri sebagai pesepakbola profesional. Cedera membuat dia harus menyerah di usia 34 tahun.


Piala Dunia 2022 Digelar di Qatar: 6 Hal yang Penting Diketahui

17 Juli 2018

Piala Dunia 2022 Digelar di Qatar: 6 Hal yang Penting Diketahui

Piala Dunia 2018 sudah berakhir dan yang selanjutnya akan digelar di Qatar pada 2022.


Laporan Tempo dari Rusia: Angkutan Kota Andalan Meliput

7 Juli 2018

Laporan Tempo dari Rusia: Angkutan Kota Andalan Meliput

Selama meliput perhelatan Piala Dunia 2018, angkutan publik bisa jadi andalan.


Piala Dunia 2018: Denmark Kalahkan Peru, Kasper Schmeichel Dipuji

17 Juni 2018

Piala Dunia 2018: Denmark Kalahkan Peru, Kasper Schmeichel Dipuji

Kasper Schmeichel mendapat pujian dari Denmark mengalahkan Peru dalam Piala Dunia 2018.


3 Negara Ini Ajukan Jadi Tuan Rumah Bersama Piala Dunia 2026

11 April 2017

3 Negara Ini Ajukan Jadi Tuan Rumah Bersama Piala Dunia 2026

Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada mengajukan penawaran bersama untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.


Real Madrid Melaju ke Final Piala Dunia Antar Klub

15 Desember 2016

Real Madrid Melaju ke Final Piala Dunia Antar Klub

Real Madrid berhasil menundukan Club America pada semifinal Piala Dunia Antar Klub dengan skor 2-0. Karim Benzema dan Cristiano Ronaldo jadi pahlawan.


River Plate Melaju ke Final Piala Dunia Antar Klub

16 Desember 2015

River Plate Melaju ke Final Piala Dunia Antar Klub

River Plate akan menantang pemenang laga antara Barcelona vs Guangzhou Evergrande di babak final. Laga itu akan berlangsung besok.


Kolombia: Tanpa Suarez, Uruguay Tetap Berbahaya

14 Oktober 2015

Kolombia: Tanpa Suarez, Uruguay Tetap Berbahaya

Penyerang andalan Uruguay Luis Suarez masih menjalani larangan
pertandingan karena menggigit Giorgia Chiellini pada Piala
Dunia 2014.


Messi Pinjamkan Nomor Punggungnya untuk Aguero

8 Oktober 2015

Messi Pinjamkan Nomor Punggungnya untuk Aguero

Aguero senang dengan tawaran Messi agar ia mengenakan kaus dengan nomor 10.


Pembukaan dan Final Piala Dunia 2018 di Moskow  

24 Juli 2015

Pembukaan dan Final Piala Dunia 2018 di Moskow  

Pertandingan babak semifinal berlangsung di Kota St Petersburg dan Moskow.