Santo Palermo dan Irasionalitas Maradona

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Argentina Martin Palermo (kanan) merayakan golnya ke gawang Yunani bersama pelatih Diego Maradona, dalam pertandingan Grup B di stadion Peter Mokaba, Polokwane (23/6). REUTERS/David Gray

    Pemain Argentina Martin Palermo (kanan) merayakan golnya ke gawang Yunani bersama pelatih Diego Maradona, dalam pertandingan Grup B di stadion Peter Mokaba, Polokwane (23/6). REUTERS/David Gray

    TEMPO Interaktif ,Polokwane:Pelukan itu berbicara seribu bahasa. Usai mencetak gol ke gawang Yunani di Stadion Peter Mokaba, Polokwane, penyerang Argentina Martin Palermo berlari ke tepi lapangan. Pelatih Diego Maradona menyambutnya dengan tangan terbuka dan senyum bahagia.

    Bukan pemain terbaik dunia Lionel Messi yang dipujisanjung Maradona, Rabu (23/6) dini hari itu, melainkan striker gaek Palermo. El loco, panggilannya, tidak subur-subur amat. Dia baru menyumbang 9 gol dari 15 caps. Tapi dia memiliki perjalanan dramatis di tim nasional Argentina.

    Mengawali karir di klub lokal Estudiantes, Palermo hijrah ke raksasa Boca Juniors pada 1997. Dia kemudian jadi legenda hidup di sana dan mencetak rekor 218 gol. Tapi karir tim nasionalnya tidak cemerlang. El loco baru mendapat debut di usia 25. Tidak lama kemudian, karir nasionalnya runtuh setelah gagal mencetak gol dari tiga kesempatan penalti saat melawan Kolombia di Copa Amerika 1999. Palermo seakan jadi pendosa bagi negaranya..

    Argentina melupakannya, tapi tidak dengan Maradona. Si Tangan Tuhan memanggil Palermo sepuluh tahun kemudian. Striker kidal itu "menebus dosa" pelatih dengan mencetak gol di menit terakhir melawan Peru, Oktober lalu, dan memuluskan langkah Albiceleste ke Afrika Selatan. Maradona menyematkan gelar santo alias orang suci di depan namanya.

    Bermain pertama kali di Piala Dunia, Santo Palermo kembali membuat keajaiban tadi malam. Di menit 89, gol kaki kanannya merobek jala Yunani. Emosi di lapangan dan bangku cadangan meluap. "Seolah-olah masing-masing dari mereka juga mencetak gol," katanya terharu, "saya sangat bahagia dengan dukungan mereka."

    Gol ini juga menoreh rekor. Dia mencatatkan diri sebagai pembuat gol tertua Argentina, 36 tahun. "Statistik ini membuat saya semakin bangga," ujar Palermo usai pertandingan.

    Penghargaan tertinggi dilayangkan Palermo kepada pelatih. "Sepanjang karir, saya sudah melewati banyak Piala Dunia," ujar El Loco, "bisa berada di sini merupakan mimpi."

    Pemilihan Palermo merupakan bagian dari irasionalitas Maradona. "Yang terjadi dengan Martin adalah sesuatu yang gila," ujar pelatih berusia 49 tahun itu. Sebelum memasukan Palermo di menit 80, Maradona berunding dengan asisten pelatih Hector Enrique dan Alejandro Mancuso. Asisten menyarankan pelatih untuk mengganti Diego Milito dengan Gonzalo Higuain. Penyerang berusia 22 tahun itu sudah mencetak 5 gol dari 7 penampilan, termasuk hattrick di pertandingan melawan Korea Selatan.

    "Benarkah itu? Kalian bilang ke Martin, dia akan main," kata Maradona, memberi instruksi ke asisten. Si pemain pun bersiap. Sebelum masuk lapangan, dia mendapat bisikan dari Maradona, "bermainlah dan selesaikan pertandingan ini." Dan Santo Palermo menyelesaikan titah sang dewa dengan sempurna.

    FIFA | REZA M


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto