Dehidrasi di Suhu Dingin  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Ivan Alvarado

    REUTERS/Ivan Alvarado

    TEMPO Interaktif, Enam dari sembilan stadion yang digunakan dalam Piala Dunia 2010 Afrika Selatan berada di ketinggian di atas 1.000 meter dari permukaan laut. Selain kadar udara tipis, temperatur rendah menjadi warna tersendiri dalam pesta bola empat tahunan ini.

    Ketika permainan dihentikan akibat adanya pelanggaran, jarang terlihat pemain mengambil botol minuman di pinggir lapangan. Berbeda jika pertandingan berlangsung di bawah suhu udara panas. Sebenarnya ini berbahaya. Sebab, kekurangan cairan saat beraktivitas berat di tempat berudara dingin dapat menyebabkan kehilangan cairan tubuh.

    Hipotermia bukanlah satu-satunya dampak yang ditimbulkan oleh temperatur yang sangat dingin. Sebuah studi di University of New Hampshire menunjukkan bahwa dehidrasi juga bisa timbul akibat udara dingin. Selama ini dehidrasi hanya dikaitkan dengan udara panas. Padahal udara dingin juga bisa menyebabkan banyak cairan dalam tubuh hilang.

    "Saat berada di udara dingin, biasanya kita jarang merasa haus," ucap Robert Kenefick, profesor kinesiologi. "Ketika kita tidak merasa haus, maka kita jarang minum. Saat tak ada asupan cairan itulah tubuh kita akan terkena dehidrasi."

    Cairan tubuh akan banyak hilang saat berada di tempat berudara dingin, yang disebabkan oleh proses pernapasan. Tubuh juga dipaksa bekerja keras untuk menghangatkan badan. Keringat cepat menguap di tempat berudara dingin dan kering.

    Dua pertiga tubuh terdiri atas air. Ketika jumlah cairan dalam tubuh berkurang beberapa persen saja, kita akan terserang dehidrasi. Menurut Kenefick, ketika seseorang berdiam di tempat berudara dingin, ia akan kehilangan cairan 3-8 persen dari total berat badan. Dehidrasi akan lebih parah ketika aktivitas bertambah berat.

    Saat tubuh kehilangan cairan di tempat berudara panas, rasa haus segera menyerang. Sedangkan di tempat berudara dingin, ketika tubuh kehilangan cairan, haus tak terasa. "Itu karena udara dingin menghilangkan rasa haus," kata Kenefick, dalam studinya yang dipublikasikan di Journal Medicine and Science in Sports.

    Ada dua faktor yang menjadi pemicu agar hormon pengatur jumlah air dalam tubuh bekerja. Ketika tubuh kehilangan cairan, jumlah sodium dalam tubuh meningkat. Volume darah secara keseluruhan juga bertambah. Kondisi ini yang membuat hipotalamus memerintahkan ginjal untuk berhenti memproduksi air seni. Pada waktu bersamaan, hipotalamus memberikan sinyal kepada otak untuk membuat rasa haus agar kadar air dalam tubuh kembali seimbang.

    Kenefick menyarankan saat kita berada di tempat berudara panas atau dingin untuk minum sebanyak mungkin, terlebih ketika tubuh melakukan aktivitas berat, seperti bermain sepak bola. Untuk melihat apakah kadar air dalam tubuh sudah seimbang, perhatikan warna urine. Jika bening, berarti kita akan terhindar dari dehidrasi. Jika sebaliknya, segeralah minum. l UNH.EDU | DIETBITES | FIRMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto