Bersafari Hemat di Kruger Park

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kruger Park, Afrika Selatan. TEMPO/Nurdin Saleh

    Kruger Park, Afrika Selatan. TEMPO/Nurdin Saleh

    TEMPO Interaktif, Meliput Piala Dunia di Afrika Selatan tak afdol tanpa merasakan bersafari di Kruger Park. Karena itu, saya sengaja menyempatkan diri mendatangi Nelspruit untuk mengecap safari tersebut. Kruger Park hanya satu jam berkendaraan dari kota itu.
    Saya sempat agak terkejut ketika tahu betapa mahal menikmati fasilitas safari di taman nasional itu. Harga tiket untuk turis mencapai 1.300 rand (Rp 1,56 juta). Bila menggunakan jasa agen tur, biayanya bahkan bisa mencapai 2.700 rand (Rp 3,2 juta).

    Untunglah ada Bobby Shabangu, warga Nelspruit yang pernah tinggal di Indonesia. Ia berbaik hati mendampingi kami--saya dan beberapa wartawan dari Indonesia--ke taman nasional itu. Ia pulalah yang kemudian menawarkan paket hemat: masuk menggunakan taksi, sehingga biayanya bisa ditekan.

    Taksi yang ia maksudkan tak lain adalah angkutan kota seperti di Indonesia. Untuk taksi, sebenarnya warga Afrika Selatan biasa menyebutnya taximeter. Kami setuju menggunakan angkutan itu, dan ternyata memang harganya jadi lebih murah. Tiap orang hanya dikenai tiket 150 rand (Rp 180 ribu).

    Kruger Park adalah taman nasional di Afrika Selatan yang menyatu dengan taman nasional sejenis di Zimbabwe dan Mozambique, yang seluruhnya disebut Great Limpopo Transfrontier Park.

    Di Afrika Selatan, luas taman nasional itu 18.989 kilometer persegi. Kruger Park--didirikan oleh Presiden Paul Kruger pada 1898--memiliki sembilan pintu, yang jalannya akan bertemu.
    Selasa itu kami memilih masuk dari pintu Phabeni. Menurut sopir taksi yang mengaku sering membawa wisatawan masuk, pintu tersebut menjadi salah satu favorit karena melewati sebuah danau yang kerap jadi tempat minum binatang-binatang.

    Memasuki gerbang, padang rumput yang berselang-seling dengan semak dan pepohonan langsung menyambut. Saat itu kebanyakan sudah menguning digerus musim.
    Tak lama berkendaraan, kami langsung melihat gerombolan impala. Binatang ini menjadi spesies yang paling sering kami temui dalam safari itu. Belakangan kami tahu, populasi binatang ini memang yang terbanyak di tempat itu, mencapai 90 ribu ekor.

    Kami juga sempat melihat zebra yang sedang mencari makan sendirian, tapi tempatnya agak jauh. Kamera kami pun tak dapat menangkap makhluk itu secara jelas. Di Nyamundwa Dam, danau yang disebut sang sopir, ternyata sudah ada beberapa mobil yang diparkir untuk mengintai binatang. Tapi kami tak terlalu beruntung siang itu. Danau agak lengang, hanya tampak burung-burung di seberang danau serta tiga ekor kudanil berjemur di kejauhan.
    Ketika kembali ke jalan, kami pun berpapasan dengan dua ekor singa. Semula kedua singa itu berjalan di semak-semak, tapi kemudian melintas di jalan. Tapi kami gagal mengambil foto. Ada lima mobil safari lain di jalan itu dan semuanya berebut menjadi yang terdekat ke tempat perlintasan singa tersebut. Keadaan pun jadi agak kacau.

    Tapi kami masih sempat melihat tiga singa lain. Salah satunya masih dapat kami bidik dari dekat, saat menuju semak-semak setelah menyeberang jalan.

    Menurut survei pada 1999, ada sekitar 1.500 singa di Kruger Park. Mereka inilah yang biasanya paling menarik minat banyak peserta safari. Karena melihat mereka jinak, kadang pengunjung lupa diri. Bobby menceritakan, dua bulan sebelumnya ada turis yang berani turun dari mobil untuk kencing di semak-semak. Ia tak sadar di dekatnya ada gerombolan singa, sehingga turis itu pun tewas jadi korban.

    Kami tak sempat meminta konfirmasi tentang kebenaran cerita pria lajang berusia 31 tahun itu. Tapi, sejak awal pengunjung memang sudah ditekankan agar tak keluar dari mobil dan jangan berani-berani memberi makan binatang-binatang itu.

    Binatang lain yang juga jadi favorit tempat itu adalah gajah. Dan saya menemukan cerita menarik soal gajah di tempat itu. Pada 2004, populasi binatang berbelalai itu membengkak menjadi 11.600 ekor dan dua tahun kemudian menjadi 13.500 ekor. Padahal taman itu hanya bisa menampung 8.000 ekor gajah.

    Kontrasepsi untuk mengurangi kelahiran gajah sempat diterapkan pada 1995, tapi kemudian dihentikan karena menyebabkan sulitnya kelahiran dan menimbulkan kegelisahan dalam kerumunan binatang besar itu. Kini jumlah gajah di tempat tersebut diperkirakan mencapai 11.600 ekor.

    Kruger Park adalah taman nasional yang luasnya lebih dari 10 ribu kali Taman Safari Cisarua. Menyusuri tempat itu setengah hari, bahkan seharian penuh sekalipun, terasa tak cukup.

    Bagi yang memiliki waktu lebih luang, sebenarnya banyak tawaran fasilitas menarik di tempat itu, termasuk melakukan safari malam dan menginap di tujuh kamp yang tersebar di arena itu, baik camping maupun tidur di penginapan. Di Kamp Skukuza bahkan terdapat beragam fasilitas menarik, seperti museum, perpustakaan, bengkel, kafe Internet, bahkan tak jauh dari tempat itu ada padang golf.

    Ketika harus meninggalkan Kruger Park sore itu, rasanya kami kurang puas. Saya tak sempat menyaksikan anjing-liar pemburu khas Afrika, yang kini mulai punah. Kami juga tak melihat leopard, yang kabarnya lebih sering keluar pada malam hari.

    Tapi, di jalan keluar, saya mendapat fakta menarik dari Bobby. Ia mengaku baru enam kali ke tempat itu. Yang pertama ia lakukan saat usia 15 tahun, pada 1995. Sebelumnya, ia tak bisa datang karena saat itu sistem apartheid masih berkuasa dan Kruger Park menjadi tempat terlarang bagi orang kulit hitam.

    Saat pertama kali datang, bersama rombongan dari sekolah, Bobby mengaku sangat takjub. "Saya tak menduga ada tempat seperti ini di negara saya, bahkan letaknya dekat dari kota kelahiran saya," katanya.

    Sebelumnya, ia menduga tempat itu tak lebih dari kebun binatang. Nyatanya, ia menemukan binatang bebas berkeliaran. "Luar biasa, itulah yang saya rasakan saat itu," katanya.
    Saya bisa mengerti perasaannya. Hal sama saya rasakan saat menyaksikan singa berkeliaran tak jauh dari mobil kami.

    l Nurdin Saleh (Johannesburg)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.