Maradona Tak Lagi Bisa Jalankan Ritualnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diego Maradona. AP/Ricardo Mazalan

    Diego Maradona. AP/Ricardo Mazalan

    TEMPO Interaktif , Pretoria – Selain dikenal karena kehebatannya saat jadi pemain, pelatih Argentina, Diego Maradona, juga dikenal sebagai sosok yang sangat percaya pada hal-hal di luar nalar alias takhyul.

    Selama di Afrika Selatan Maradona punya kebiasaan menggelar jumpa pers sehari jelang pertandingan di stadion Loftus Versfeld di Pretoria. Tak peduli seberapa pun jauhnya lokasi pertandingan, ia tetap memaksakan melakukan 'ritual' tersebut di stadion yang sama.

    Tapi, kini stadion tersebut telah ditutup oleh panitia seusai laga 16 Besar antara Paraguay dan Japan, Selasa 29/6).

    “OK, tak apa-apa,” kata Maradona saat ia diberitahu bahwa venue itu akan ditutup. “Tapi, bagaimana dengan press center-nya?”

    Lagi-lagi Maradona mendapat jawaban sama. Jadi, jumpa pers tim Argentina, Jumat (2/7), akan terpaksa digelar di Green Point Stadium, Cape Town, yang akan jadi lokasi pertandingan perempat final melawan Jerman yang digelar keesokan harinya.

    Mungkinkah ini pertanda buruk buat Argentina?

    Selain jumpa pers di stadion Loftus Versfeld, Maradona punya sejumlah ritual lain di Afrika Selatan. Setiap sebelum kick off digelar, ia selalu menyempatkan diri masuk ke lapangan dengan mengenakan pakaian latihan sebelum kemudian masuk kembal ke ruang ganti dan keluar dari lorong dengan mengenakan jas abu-abu.

    Begitu pertandingan berakhir, Maradona langsung ganti baju dan kembali mengenakan pakaian latihan untuk jumpa pers.

    Maradona juga selalu memegang rosario saat pertandingan berlangsung.

    Satu kebiasaan unik lainnya yang dilakukan Maradona adalah ia selalu membuat tanda salib saat berpindah dari satu lapangan ke lapangan lain saat latihan di training camp Argentina.

    AP | A. RIJAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.