George Weah: Sepakbola Afrika Harus Turun Mesin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Legenda sepak bola Afrika asal Liberia George Weah menhadiri perjanjian Ballon d'Or (Golden Ball) dengan  FIFA dan France Football. AFP/ STEPHANE DE SAKUTIN

    Legenda sepak bola Afrika asal Liberia George Weah menhadiri perjanjian Ballon d'Or (Golden Ball) dengan FIFA dan France Football. AFP/ STEPHANE DE SAKUTIN

    TEMPO Interaktif , Johannesburg – Mantan Pemain Terbaik Dunia, George Weah, mendesak sepakbola Afrika agar melakukan turun mesin menyusul penampilan mengecewakan tim-tim Benua Hitam di Piala Dunia 2010.

    Dari enam tim Afrika yang berlaga di Afrika Selatan, hanya Ghana yang lolos dari babak penyisihan sebelum akhirnya dikalahkan Uruguay lewat adu penalti di perempat final.

    “Kami melihat Ghana sebagai yang terbaik, tapi tim-tim lainnya terlihat tidak siap. Mereka tampil buruk,” kata Weah, Senin (4/7). “Kami harus kembal ke papan gambar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan ini.”

    Weah yang berasal dari Liberia merupakan salah satu bintang Afrika paling top dengan kiprah di klub-klub besar seperti Paris Saint-Germain, AC Milan dan Chelsea serta mendaptkan gelar Pemain Terbaik FIFA 1995. Tapi, ia tak pernah tampil di Piala Dunia.

    Setelah pensiun dari sepakbola, Weah beralih ke politik dan sempat mencalonkan diri sebagai presiden Liberia pada pemilihan umum 2005, tapi ia kalah.

    Weah mengatakan tak ada yang meragukan kualitas para pemain Afrika.

    “Kami punya bakat dan keinginan, tapi jika kami tak mengembangkan para pemain ini makan akan terjadi kemunduran yang lebih parah,” katanya.

    Weah merujuk pada buruknya administrasi dan pengorganisasian dalam sepakbola Afrika. Ia mengambil contoh pengalamannya bepergian bersama timnas Liberia. Weah mengatakan para ofisial Liberia duduk di kelas bisnis sementara para pemain di kelas ekonomi.

    “Para pemain lah yang seharusnya tebang dengan kelas bisnis karena merekalah yang akan bertanding,” kata Weah. “Itu kebiasaan keliru, itu buruk buat sepakbola.”

    Weah juga mengatakan sudah saatnya para pelatih Afrika dberi kesempatan di level internasional.

    Palatih Aljazair Rabah Saadane merupakan satu-satunya pelatih asal Afrika di Piala Dunia kali ini. Pelatih Ghana Milovan Rajevac berasal dari Serbia, Afrika Selatan ditangani pelatih Brasil Carlos Alberto Parreira, Kamerun dilatih Pul Le Guen dari Prancis sementara Pantai Gading dan Nigeria ditangani pelatih dari Swedia, Sven Goran Eriksson dan Lars Lagerback.

    “Mereka (para pelatih Afrika) tak diberi kepecayaan, mereka tak mendapat dorongan,” kata Weah.

    “Prioritas otoritas epakbola Afrika saat ini adalah tak memberi kepercayaan para para pelatih yunior,” kata Weah merujuk pada Sellas Tetteh, pelatih yang membawa timnas Ghana U-20 menjuarai Piala Dunia Yunior tahun lalu yang tak dilibatkan di timnas senior.

    “Mereka malah membayar seseorang yang tak punya mentalitas yang sama dengan para pemain Afrika,” tandasnya.

    AP | A. RIJAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    7 Tips Agar Lebih Mudah Bangun Sahur Selama Ramadan

    Salah satu tantangan selama puasa Ramadan adalah bangun dini hari untuk makan sahur.