Perlawanan Tim Tertindas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lukisan Che Guevara

    Lukisan Che Guevara

    Oleh: Tulus Wijanarko, Wartawan Tempo

    Sampai kemenangan abadi nanti. Hasta la victoria siempre! Piala Dunia bergulir dan saya mesti bersiap-siap dicekoki mantra itu oleh kawan saya selama sebulan ke depan. Seorang teman yang begitu memuja Che Guevara, pencetus semboyan itu, sekaligus pendukung fanatik tim-tim kecil setiap turnamen bal-balan sejagat ini berlangsung.

    Dia pernah mengatakan tim-tim pupuk bawang itu serupa pejuang yang tengah menentang kemapanan kesebelasan besar. Mereka kebanyakan berasal dari negara yang terpinggirkan dalam percaturan ekonomi global dan sepak bola membuka peluang mengatrol harga diri. Saya berpikir, ah, sang kawan ini masih saja terpesona pada teori-teori ketergantungan yang pernah marak diimani kalangan aktivis mahasiswa pada dekade 1980-an silam.

    Namun, ceramahnya belum selesai. Dan mulailah ia mengaitkan romantisme perlawanannya itu kepada Che Guevara. Inilah sosok anti-penindasan yang mengobarkan perlawanan di seantero bumi Amerika Latin. Che juga mencanangkan bahwa revolusi tak akan pernah usai sebelum seluruh Amerika Latin bebas dari cengkeraman kaum imperialis.

    ADVERTISEMENT

    Dan, bukan kebetulan, Che adalah pencinta dan pemain sepak bola yang rajin. Lelaki kelahiran Kota Rosario--juga tempat kelahiran Lionel Messi--itu pernah melatih sebuah kesebelasan di Latecia (Kolombia). Ia juga melatih kaum kuli di Peru. Dia pula yang menginisiasi pertandingan antara penderita lepra dan non-lepra di negara itu.

    Dalam petualangan blusukan bersepeda motor ke penjuru Amerika Latin, sepak bola adalah salah satu alat komunikasinya dengan warga lokal. “Sepak bola adalah senjata revolusi,” kata kawan, mengutip fatwa tokoh idolanya.

    Saya mencoba memahami jalan pikirannya, juga semangatnya yang menggebu itu. Jadi, ia mengidentifikasi dukungannya pada kesebelasan underdog sebagai wujud semangat perlawanan yang pernah digelorakan Che Guevara. Sebuah girah tak henti untuk mengikis kekuatan mapan yang terus mendominasi peta sepak bola dunia. Hasta la victoria siempre! Hanya satu kata: Lawan!

    Saya kagum atas semangatnya itu. Sebab, belum pernah sekali pun tim kacangan mampu menjadi kampiun di Piala Dunia. Namun, ia pantang menyerah. Ia tak henti memberikan yel-yel pada tim-tim pinggiran. Ia akan berdebat dengan siapa saja dengan bekal argumentasi setebal jenggot Guevara.

    Dan ketabahannya tak sia-sia. Dalam hampir setiap Piala dunia, selalu ada kejutan yang berhasil dicetak tim semenjana. Pada Piala Dunia 1982, Aljazair berhasil memberikan kebanggaan bagi rakyat dunia ketiga. Pada babak grup, mereka sukses mempermalukan Jerman Barat 2-1 dan Cile 3-2. Rabah Majer, kapten tim Aljazair, menjadi sensasi yang membuat Piala Dunia kian berwarna. Aljazair gagal maju ke babak berikutnya karena kalah selisih gol.

    Empat tahun kemudian giliran Ghana mengobrak-abrik kemapanan tim atas. Mereka berhasil mengangkangi babak grup setelah menundukkan Portugal 3-2, lalu menahan imbang Inggris dan Polandia. Pada babak kedua, Ghana takluk 0-1 oleh Jerman Barat.

    Aksi tim kecil belum berakhir. Kali ini giliran wakil Asia, Saudi Arabia, yang membuat mata dunia menoleh. Pada 1994 mereka berhasil lolos ke babak kedua dengan mengempaskan Maroko dan Belgia. Langkah mereka dihentikan Swedia pada babak kedua.

    Masih banyak cerita perlawanan lain. Beberapa di antaranya Korea Utara yang bertualang hingga perempat final pada 1966, Kamerun sampai perempat final (1990), Kroasia ke babak kedua (1998), Senegal nyaris merangsek ke semifinal (2002), dan tentu saja Korea Selatan yang bertahan hingga semifinal (2002).

    Ah, berondongan data itu mulai menggoda saya. Sepertinya asyik juga melakukan hal yang berbeda dengan cara mendukung tim non-unggulan. Memang, apa istimewanya menjagoi tim besar yang hampir pasti menang melawan kesebelasan “wong cilik”?  Dan, aduh, saya mulai keracunan gagasan si kawan, bahwa berada di barisan pro tim kecil akan kian bermakna jika dibumbui semangat anti-kemapanan ala Che Guevara!

    Saya meneliti daftar tim “tertindas” dalam Piala Dunia 2014 ini. Saya menemukan nama Bosnia-Herzegovina di sana. Inilah negara yang pernah dikoyak perang berkepanjangan saat memerdekakan diri dari Yugoslavia. Bosnia juga pendatang baru dalam Piala Dunia. Dengan latar belakang itu, Bosnia sungguh cocok menjadi ikon perlawanan saat ini.

    Saya melihat jadwal dan lusa dinihari Bosnia akan bertarung melawan Argentina. Aduh, Argentina, selain Spanyol, adalah tim yang diam-diam saya harapkan memenangi turnamen ini. Lagi pula, Argentina adalah negara tempat kelahiran Che Guevara. Dilema pun menerjang. Saya mencari sang kawan untuk meminta pertimbangan. Tapi entah ke mana dia kabur tadi...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.