Las Ramblas dan Sepeda Gazelle

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Belanda, Arjen Robben memberikan keterangan pers. AP/Wong Maye-E.

    Pemain Belanda, Arjen Robben memberikan keterangan pers. AP/Wong Maye-E.

    Oleh: Hari Prasetyo, Wartawan Tempo

    Bert van Marwijk mungkin tidak bertegur sapa dengan Johan Cruyff sampai sekarang. Empat tahun lalu, sebagai pelatih, Van Marwijk berhasil membawa tim Belanda ke babak final Piala Dunia. Dalam babak puncak itu, mereka diempaskan Spanyol. Tapi bukan pujian atau penghargaan yang diberikan Cruyff, melainkan kecaman.

    Cruyff, waktu itu, memang gencar mengkritik bekas timnya tersebut. Ia bilang permainan anak-anak Oranye jelek, negatif, dan mengingkari semangat total football--revolusi strategi permainan sepak bola yang diperkenalkan Cruyff dan kawan-kawan pada periode 1970-an.

    ADVERTISEMENT

    Dinihari nanti, dua tim terkemuka ini bertemu lagi dalam babak penyisihan grup putaran final. Spanyol masih ditulangpunggungi oleh anak-anak dari sebuah kota yang indah, Barcelona, dan dengan pelatih yang sama, Vicente del Bosque. Adapun Belanda juga masih datang dengan "sisa-sisa" warna Ajax Amsterdam--tempat lahirnya total football--tapi dengan pelatih baru, Louis van Gaal.

    Menariknya, meski sama-sama berasal dari "klan Ajax", Van Gaal dan Cruyff seperti anjing dan kucing. Adalah Cruyff yang lebih dulu memprovokasi para eksponen Ajax untuk menolak kembalinya Van Gaal menangani klub dari kota terbesar di Belanda itu. Pasalnya, Van Gaal mbalelo dari total football dan keras seperti Van Marwijk.

    Spanyol, yang indah dengan tiki-taka, mengingatkan akan suasana di salah sudut Kota Barcelona, yaitu jalanan di sepanjang kawasan bernama Las Ramblas. Adapun Belanda, dengan sisa-sisa total football yang mengutamakan kesinambungan pergerakan dan aliran bola, serupa dengan sepeda-sepeda yang berseliweran di jalur pedestrian Amsterdam.

    Barcelona yang menawan. Di sana, petikan lagu Koes Plus, "Kerja di malam hari, tidur di siang hari. Betapa berat beban hidupku, huuu...." seakan-akan bisa diubah menjadi, "Kerja di malam hari, tidur lebih dulu siang hari, betapa nyaman hidupku ini, ooo...." Bercengkerama di sepanjang jalur pedestrian Las Ramblas pada malam hari memang sungguh asyik.

    Hal serupa juga bisa dialami di Amsterdam. Adalah sebuah kenikmatan tersendiri menyusuri jalanan dengan sepeda butut atau naik sepeda ontel di kota ini. Saya beruntung pernah menikmati kedua kota itu dalam kesempatan berbeda.

    Di Barcelona, dan Spanyol umumnya, sepak bola adalah sesuatu yang mesti ditampilkan dengan indah. Umpan-umpan mengalir dalam kelokan-kelokan yang tak terduga. Kadang cepat, tapi dalam kesempatan lain lebih lambat dan arahnya membikin lawan terkejut, disebabkan oleh tekukan-tekukan kaki dari para pemain ber-skill individu tinggi.

    Di Amsterdam, Belanda, bola juga terus mengalir, tapi dalam alur yang lebih teratur di antara kaki-kaki kukuh pemain yang memiliki teknik dasar rapi. Dengan dominansi pada keteraturan aliran bola dan kekukuhan menjaga agar jangan sampai bola diserobot lawan, Bert van Marwijk mengantar Oranje sampai ke final Piala Dunia 2010. Tapi pentas Belanda sungguh membosankan dan menjemukan.

    Memang, dengan cara yang resik itu, mereka tidak terkalahkan hingga menjejak semifinal. Namun, dalam final, Spanyol dengan "kesemrawutannya yang indah" mengacak-acak keteraturan Oranye tersebut. Keteraturan dan ketertiban saat itu takluk pada keliaran.

    Mungkinkah itu sebenarnya merupakan cermin kehidupan? Entahlah. Tapi hidup mungkin memang harus dimainkan dengan dua gaya itu, antara style tim sepak bola Spanyol dan Belanda. Ada kalanya kita terus-terusan keluar--ke rumah pacar, kantor, dan urusan lain--dengan celana panjang necis berkemeja apik. Naik mobil atau taksi. Tapi, ketika pola itu mulai menjadikan diri bagai robot, mari coba gaya lain. Gaya yang lebih liar tapi bisa jadi lebih sehat dan ramah lingkungan.

    Ayo jalan kaki atau naik sepeda bercelana pendek dan baju kaus yang membuka peluang tubuh menyerap udara bebas. Di ruangan rumah masih bersandar sepeda merek Gazelle, oleh-oleh mendiang mertua dari Belanda. Sepeda itu masih saya pakai ke mana-mana. Tidak dengan pakaian necis ala pagi hari di Den Haag, tapi bercelana pendek dan baju kaus guna melawan udara Jakarta yang panas. Bolehlah ditambah seikat selendang merah di kepala. Sebagaimana pemain La Furia Roja atau tim Matador mengimbangi keteraturan Oranye dengan kedutan-kedutannya yang liar.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.