Darah Muda Jadi Andalan di Piala Dunia 2014  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Bayern Rafinha (kiri) terjatuh saat akan menghadang pemain MU Danny Welbeck pada pertandingan Liga Champions leg pertama di  Old Trafford, Manchester (1/4). (AP Photo/Jon Super)

    Pemain Bayern Rafinha (kiri) terjatuh saat akan menghadang pemain MU Danny Welbeck pada pertandingan Liga Champions leg pertama di Old Trafford, Manchester (1/4). (AP Photo/Jon Super)

    TEMPO.COJakarta - Dalam penggolongan demografi, 35 tahun termasuk kategori usia muda--kelompok produktif dalam statistik kependudukan. Tapi, di dunia sepak bola, umur yang sama telah melewati batas cakrawala, ketika seorang pemain menjelang senja. Hanya sedikit pemain yang tetap bersinar setelah melewati usia 35 tahun, di antaranya Andrea Pirlo.

    Lahir di Flero, 19 Mei 1979, Pirlo tetap menjadi pengatur serangan andalan tim nasional Italia. Padahal, Piala Dunia 2014 di Brasil merupakan penampilan ketiganya dalam turnamen empat tahunan ini. Ia tak tergantikan sebagai kapten. Marcello Lippi, pelatih Italia periode 2004-2010, menyebutnya “pemimpin yang tak banyak berkata-kata dan hanya bicara dengan kakinya.”

    Kumis dan cambang tebal di wajah, ditambah rambutnya yang awut-awutan, membuat Pirlo bahkan terlihat lebih tua. Tapi permainan efisiennya berperan besar ketika Italia menaklukkan Inggris 2-1 dalam pertandingan pertama Grup D, Ahad pekan lalu. Sejumlah media internasional pun menobatkannya sebagai man of the match dalam laga itu.

    Toh, Pirlo termasuk kelompok “minoritas” dalam Piala Dunia Brasil. Ia “bersaing” dengan Faryd Mondragon, 43 tahun, kiper kedua tim Kolombia, yang merupakan pemain tertua di turnamen ini. Dari negara yang sama, ada Mario Yepes, kapten tim berusia 38 tahun.

    ADVERTISEMENT

    Di luar mereka, sebagian besar pemain dari 32 negara yang bersaing di Brasil berusia di bawah 30 tahun. Penyerang Kamerun, Fabrice Olinga Essono, yang berulang tahun ke-18 pada Mei lalu, merupakan pemain termuda. Mayoritas dari 736 pemain itu sedang berada dalam grafik menuju usia emas. Mereka kini menjadi pemain andalan di klub masing-masing.

    Menurut sejumlah penelitian, usia emas atlet sepak bola adalah antara 26 dan 28 tahun. Pada usia inilah value mereka mencapai titik tertinggi, diukur dari nilai transfer jika mereka dijual oleh klub masing-masing. Umumnya, value mereka akan kembali menurun setelah melewati usia 28 tahun.

    Ghana memiliki tim dengan rata-rata usia termuda: 25,4 tahun. Di atasnya ada Nigeria, yang rata-rata pemainnya berumur 25,8 tahun. Lalu Korea Selatan dan Belgia memiliki tim dengan rata-rata pemain 26 tahun. Argentina, salah satu unggulan dalam turnamen ini, merupakan tim “tertua”. Rata-rata usia pemainnya 28,9 tahun.

    Spanyol, kampiun Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, memiliki pemain dengan nilai tertinggi. Nilai semua pemain tim negara itu 622 juta euro atau sekitar Rp 9,4 triliun, dengan rata-rata usia 28,3 tahun. Memang, bukan berarti mereka otomatis menjadi superior. Dalam pertandingan Sabtu pekan lalu, Spanyol bahkan takluk 1-5 oleh Belanda, yang nilai total pemainnya jauh di bawah mereka: 207,5 euro.

    Apa pun, sangat menyenangkan melihat banyak pemain muda yang bermain untuk negara masing-masing. Energi mereka menyuguhkan pertunjukan yang hebat di lapangan. Sering kali mereka menjadi “senjata rahasia”: dikeluarkan untuk mengubah permainan. Contohnya Ross Barkley. Ia dimasukkan oleh pelatih Roy Hodgson untuk menggantikan Danny Welbeck pada menit ke-60 ketika Inggris menghadapi Italia.

    Barkley, 20 tahun, memang tidak mencetak gol untuk menyelamatkan timnya dari kekalahan. Tapi ia membuat lini pertahanan Italia kalang kabut. Dua kali penyerang klub Everton ini menciptakan peluang bagi rekan-rekannya. Ia juga sekali melepaskan tendangan keras ke arah gawang Italia yang diblok kiper Salvatore Sirigu. Permainan Inggris pun menjadi lebih hidup setelah ia masuk lapangan.

    Tak hanya di dunia sepak bola, kaum muda merupakan kekuatan luar biasa di kehidupan bernegara. Idealisme mereka merupakan energi yang bisa menggerakkan perubahan. Hampir di setiap momen bersejarah, para pemuda selalu bergerak paling depan.

    Di dunia sepak bola, sedikit sekali pemain yang tetap bersinar pada usia 35 tahun seperti Pirlo. Begitu juga di kehidupan bernegara, jarang sekali pemimpin tua yang tetap mampu menggerakkan pemerintahan secara dinamis. Itu sebabnya, jika kualitas pilihan yang tersedia tak jauh berbeda, menyenangkan untuk memilih pemimpin yang berusia lebih muda.

    BUDI SETYARSO

    Berita lain:
    Komnas HAM Akan Jemput Paksa Kivlan Zen, TNI Cuek
    Pesan-Pesan Pro-Prabowo Menyusup di Facebook Tempo
    Hindari Cuci Daging Ayam Sebelum Dimasak
    Akan Ditutup, Pasukan Bintang Merah Kepung Dolly
    Berjemur Telanjang, Wanita Ini Sebabkan Kemacetan
    PKS: Mungkin Saja Suara Kami Bocor ke Jokowi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.