Mengenang Pertempuran Santiago

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Italia, Giorgio Chiellini menghalau bola dari pemain Inggris Glen Johnson pada pertandingan di Brazil, 15 Juni 2014. REUTERS/Andres Stapff

    Pemain Italia, Giorgio Chiellini menghalau bola dari pemain Inggris Glen Johnson pada pertandingan di Brazil, 15 Juni 2014. REUTERS/Andres Stapff

    TEMPO.CO, Jakarta - Laga Italia melawan Kosta Rika dipastikan panas pada Jumat malam nanti, 20 Juni 2014, pukul 23.00. Italia akan menemui lawan sengit pada laga kedua Grup D ini. Namun atmosfer di Stadion Arena Pernambuco, Recife, Brasil, tentu saja berbeda dengan suasana di stadion Estadio Nacional, Cile, 52 tahun lalu. Saat itu Italia mengalami pertandingan terburuk dalam sejarah sepak bola saat menghadapi tuan rumah Cile.

    Pertandingan Grup 2 Piala Dunia 1962 disaksikan 66.057 penonton. Reporter BBC, David Coleman, saat itu mengomentari pertandingan itu sebagai laga paling mengerikan sepanjang sejarah. Coleman memberi pengantar sebelum rekaman laga Cile dan Italia diputar beberapa hari setelah laga itu digelar.

    "Selamat malam. Permainan yang akan Anda lihat adalah pertandingan paling bodoh, mengerikan, menjijikkan, dan memalukan, mungkin dalam sejarah pertandingan sepak bola," katanya.

    Itulah gambaran pertandingan 2 Juni 1962 saat Italia menghadapi Cile di Santiago. Pertandingan itu diwarnai adu fisik dan jotos-jotosan. Bahkan pertandingan tersebut dikenal dengan Battle of Santiago, yang dalam bahasa Spanyol disebut Batalla de Santiago. Artinya sama, Pertempuran Santiago. Ya, pertempuran, bukan pertandingan.

    ADVERTISEMENT

    Mengapa bisa terjadi? Sebenarnya suasana "panas" sudah diembuskan dari luar lapangan sejak beberapa hari sebelum pertandingan. Kebencian Cile terhadap Italia disulut oleh wartawan Italia, Antonio Ghirelli dan Corrado Pizzinelli, yang menulis laporan soal kondisi negara tuan rumah yang menyedihkan. Banyak kampung kumuh, rakyat miskin, dan hal-hal negatif lainnya.

    Cile memang lagi dirundung malang. Sebab, dua tahun menjelang persiapan sebagai tuan rumah Piala dunia, negara itu dilanda gempa hebat sepanjang sejarah dengan kekuatan 9,5 skala Richter. Namun Cile konsisten dan melanjutkan persiapan untuk menggelar hajatan dunia itu. Negara dalam kondisi porak-poranda ditambah kritik dari media asing. Itulah yang membuat warga Cile tak terima.

    Wartawan Italia itu pun dicari. Sadar kondisi sudah tidak menguntungkan dan mengancam keselamatan mereka, Ghirelli dan Pizzinelli segera angkat kaki menuju bandara. Apalagi, beberapa hari sebelum pertandingan, seorang wartawan dari Argentina sempat dipukuli di bar karena disangka wartawan Italia tersebut.

    Ternyata kabar panas di luar stadion merembet ke lapangan rumput. Sebelum wasit pemimpin pertandingan, Ken Aston (Inggris), meniup peluit, pemain Italia maupun Cile sudah meradang. Mereka bahkan saling meludah. Benar adanya. Tak butuh waktu lama api itu tersulut. Pertandingan baru berjalan 12 menit, pemain Italia Giorgio Ferrini dikenai kartu merah karena menendang badan Honorino Landa.

    Namun kartu merah itu diabaikan Ferrini. Bukannya ke luar lapangan, dia justru membangkang tak mau keluar. Butuh beberapa polisi masuk lapangan untuk menyeret Ferrini.

    Laga semakin panas. Fisik beradu saat berebut bola. Buntutnya, Leonel Sanchez memukul Mario David setelah terjadi pelanggaran keras. Anehnya, Sanchez tak diusir dari lapangan. Gelagat buruk itu memicu Mario David untuk membalas dendam. Ada kesempatan kedua, David tak berpikir dua kali. Dia mengangkat kaki tinggi dan menghajar kepala Sanchez. Priit… David terkena kartu merah.

    Babak kedua, Italia tinggal sembilan pemain. Namun ketegangan belum berakhir. Sanchez kembali mengumbar ancaman. Korbannya kali ini Humberto Maschio. Tangan Sanchez beraksi hingga hidung Maschio patah. Lagi-lagi Ken Aston memaafkan pemain tuan rumah ini, dengan memutuskan aksi brutal Sanchez bukan pelanggaran keras.

    Laga ini membuat polisi lebih dari tiga kali masuk lapangan. Namun Cile akhirnya memetik kemenangan 2-0 atas Italia melalui tandukan Jaime Ramirez pada menit 74 dan tendangan jarak jauh Jorge Toro pada menit ke-88 ke gawang Italia yang dijaga Carlo Mattrel. “Waktu itu saya menjadi wasit dari pertarungan militer," kata Ken Aston beberapa hari setelah pertandingan.

    BBC | TELEGRAPH | GUARDIAN | ANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?