Menengok Kehebatan Garincha

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penggemar tim sepak bola Botafogo bereaksi selama pertandingan Copa Libertadores di Maracana stadion di Rio de Janeiro, Brasil. Momen besar sepak bola yang terjadi pada bulan Juni sebagai pemain terbaik bertemu di Brasil untuk Piala Dunia. AP/Leo Correa

    Penggemar tim sepak bola Botafogo bereaksi selama pertandingan Copa Libertadores di Maracana stadion di Rio de Janeiro, Brasil. Momen besar sepak bola yang terjadi pada bulan Juni sebagai pemain terbaik bertemu di Brasil untuk Piala Dunia. AP/Leo Correa

    TEMPO.CO, Jakarta - Januari lalu, Clarence Seedorf hanya bisa sesenggukan saat mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemain sepak bola profesional. Permintaan dari bekas klubnya, AC Milan, yang menunjuknya menjadi manajer teramat sayang untuk dilewatkan.

    Namun dia juga berat hati karena harus meninggalkan klub barunya yang teramat disayangi, Botafogo. Bintang berkulit hitam itu pun hanya bisa menangis saat mengumumkan peristiwa tersebut. Tak lama kemudian, ia pun terbang menuju Milan.

    Kesedihan yang tidak bertepuk sebelah tangan. Pendukung klub berbaju putih-hitam ini juga merasakan hal serupa. Meski tak ada jejak pemain Belanda itu di klubnya, semisal trofi yang sudah diperoleh, Seedorf merupakan pemain yang banyak disukai pendukung klub itu. “Seedorf bermain sebentar, tapi dia dengan pengalaman dan karismanya menjadi bintang di klub kami,” kata Joao, karyawan di klub itu.

    Namun Botafogo tak hanya punya Seedorf, yang disayangi pendukung klubnya. Mereka juga memiliki segudang pemain, seperti Garincha, Didi, Jairzinho, bahkan Mario Zagalo, pelatih terkemuka Selecao, juga pernah bermain di sana. Mereka adalah para pemain hebat di Brasil dan menyumbangkan gelar juara dunia bagi Selecao.

    ADVERTISEMENT

    Meski saat ini hanya menyumbangkan Jefferson—kiper kedua Brasil—sebagai pemain di Selecao, dalam sejarahnya, hingga saat ini Botafogo merupakan satu-satunya klub di Brasil yang paling banyak menyumbang pemainnya bergabung dengan Selecao.

    Botafogo merupakan klub di tepi pantai di Rio de Janeiro. Letaknya tak berjauhan dengan klub sekota yang juga punya prestasi bejibun, yakni Fluminense, Flamengo, dan Vasco da Gama. Namun klub yang berdiri pada 1904 ini tentu tak kalah hebat. Semua kehebatan ini disajikan lengkap dalam sebuah tur yang disebut sebagai “Manequinho Tour”. Manequinho—si anak kecil yang pipis di kolam—merupakan maskot klub ini yang menggantikan wajah si Donald Bebek, yang punya masalah dalam hak cipta.

    Tur ini dibuka dengan perjalanan berkeliling gedung General Severiano, yang saat ini sebagian dari gedung tersebut dipakai FIFA untuk urusan ticketing. Persis di bagian bawah gedung tua yang berdiri pada 1927, berderet lemari yang menyimpan trofi yang pernah diraih klub ini.

    Termasuk di antaranya Piala Carioca—kejuaraan antarklub di Rio—yang diraihnya sebanyak sembilan kali, yakni dalam rentang waktu 1907, 1910, dan 1912, serta dilanjutkan pada era 1940-an. Saat dalam kompetisi itu pula, klub ini membuat sejarah yang belum terpecahkan di Brasil, yakni ketika mereka menundukkan Sport Club Mangueira dengan skor 24–0. Bukan hanya itu, salah satu pemainnya, Heleno de Freitas, menjadi pemain paling subur dengan mencetak 204 gol dalam 233 game yang dilakoninya.

    Namun yang menarik adalah sebuah galeri sejarah klub ini yang dinamai Tunel do Tempo atau “Terowongan Waktu”. Di sini, selain memajang perjalanan klub ini dengan segala peristiwa yang pernah terjadi, di empat lantai yang berbeda, jejak-jejak kehebatan dan kedukaan klub ini tergambar melalui rentetan foto-foto.

    Termasuk cerita takhayul tentang kemenangan klub ini saat bertanding melawan Vasco da Gama pada 1948. Kemenangan itu ramai dibicarakan karena dibantu oleh kesaktian seekor anjing. Benar-tidaknya hal itu, tak ada yang bisa memastikan. Namanya juga takhayul.

    Yang menarik, sepanjang berada di terowongan ini, rekaman suara radio yang mengabarkan tentang kemenangan Botafogo pada 1930-an terdengar memenuhi ruangan itu.

    Perjalanan tur sore itu diakhiri dengan menengok sebuah ruangan yang banyak bicara. Ruangan itu bernama Sala de Imprensa Jornalista Armando Nogueira. Di sinilah kabar tentang klub disiarkan kepada publik. Armando Nogueira, yang wafat tiga tahun lalu, adalah jurnalis yang paling sering mengabarkan soal klub ini. Nama ruangan ini diberikan sebagai penghormatan terhadap Nogueira.

    Di ruang inilah kepedihan dan keriangan dikabarkan. Termasuk ketika melepas kepergian salah satu legenda mereka, Garrincha, yang wafat pada 20 Januari 1983. Botafogo tak akan melupakan si Kaki Bengkok. Saat pelepasan terakhir, peti jenazah Garrincha, yang dijuluki sebagai pemain dengan dribble terbaik sepanjang masa, ditutupi bendera bintang khas logo Botafogo.


    Tur Terbaru Botafogo

    Joao—si pemandu tur keliling klub Botafogo—langsung bertanya ihwal pekerjaannya. “Bagaimana cara saya memandu Anda tadi?” Tempo, yang merasa terbantu karena seluruh teks dalam memorabilia yang dipajang di museum klub itu ditulis dalam bahasa Portugis, tentu saja memberi jempol untuknya.

    Anak muda yang berumur 28 tahun ini memang perlu masukan. Maklum, tur yang dipandunya itu merupakan produk terbaru klub ini dalam menyambut Piala Dunia. Maksud tur ini tak lain untuk menarik perhatian para wisatawan atau mereka yang ingin menonton pertandingan Piala Dunia di Rio de Janeiro.

    Dibuka secara resmi awal Juni lalu, tur ini terbilang lengkap karena menyediakan tiga bahasa pengantar untuk pengunjungnya, yakni Inggris, Portugis, dan Spanyol. Tur yang dinamakan New Manequinho Tour ini memungut biaya tanda masuk sebesar 30 real atau Rp 150 ribu. Sedangkan mereka yang terdaftar sebagai anggota fans club hanya perlu membayar separuhnya.

    IRFAN BUDIMAN (RIO DE JANIERO)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...