Pemain Aljazair Dilema Berpuasa di Piala Dunia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pemain Aljazair  berlari sambil memegang bendera nasionalnya setelah lolos ke perdelapan final Piala Dunia 2014 setelah menahan imbang 1-1 Rusia di Arena da Baixada, Curitiba, Brasil (27/6). Untuk pertama kalinya Aljazair lolos kebabak berikutnya  selama 4 kali mengukti Piala Dunia. AP/Martin Meissner

    Sejumlah pemain Aljazair berlari sambil memegang bendera nasionalnya setelah lolos ke perdelapan final Piala Dunia 2014 setelah menahan imbang 1-1 Rusia di Arena da Baixada, Curitiba, Brasil (27/6). Untuk pertama kalinya Aljazair lolos kebabak berikutnya selama 4 kali mengukti Piala Dunia. AP/Martin Meissner

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemain Muslim Aljazair dalam tim Piala Dunia mengalami dilema. Setelah berhasil lolos ke babak 16 besar, pertandingan bakal digelar saat Bulan Ramadan yang mewajibkan umat Muslim berpuasa.  "Kami harus membicarakannya di antara kami sendiri," kata Djamel Mesbah, salah satu pemain tim Aljazair. "Sudah jelas bahwa agama Islam sangat penting bagi tim, jadi kami akan berbicara tentang hal itu dan melihat bagaimana kelanjutannya." (Baca: Jerman Waspadai Kejutan Aljazair)

    Adapun pengecualian Muslim  boleh atau diizinkan tidak berpuasa di Bulan Ramadan selama ini adalah orang sakit, hamil, lemah atau lansia. Mereka bepergian, atau pergi ke perang, juga dikecualikan dan itu yang masuk kategori sebagian besar atlet sebagai alasan membatalkan puasa dan menggantinya di hari lain.

    Kapten Aljazair Madjid Bougherra menunjukkan bahwa kondisi itu adalah sebuah tantangan bagi pesepakbola Muslim di klub-klub Eropa. Hal ini juga pernah dialaminya ketika ia bersama Rangers, ia berpuasa tapi memastikan tetap bisa mempertahankan tingkat penampilannya.  "Hal yang paling sulit adalah tetap terhidrasi," katanya.

    Bougherra mengatakan,  beberapa pemain akan menunda puasa mereka untuk lain waktu, namun tergantung pada kondisi fisik masing-masing. “Kalau  saya, saya pikir saya akan berpuasa."

    Kepala Asosiasi Ulama Aljazair Mohammed Mekerkab mengatakan, pemain-pemain negara itu memang berprestasi membanggakan. Namun para pemain harus tetap berpuasa di Bulan Ramadhan. Aljazair yang untuk pertama kalinya mencapai 16 besar Piala Dunia muncul berbagai pendapat dari ulama soal pembatalan puasa pemain.  “Tidak ada alasan untuk membatalkan puasa,” kata Mekerkab.

    Dewan Aljazair yang ditunjuk pemerintah Aljazair telah turun tangan dalam mendukung pemain yang ingin menunda puasa mereka. Sheikh Mohammed Sherif Kaher, kepala komisi, mengatakan bahwa pemain bisa memilih berpuasa atau tidak. “Bertanding bisa menjadi alasan untuk membatalkan puasa.”

    Dr Hakim Chalabi, spesialis dalam olahraga yang menemani tim Aljazair ke Brasil, mengaku dalam sebuah wawancara bahwa itu adalah pertanyaan rumit karena kebutuhan untuk hidrasi dan peningkatan risiko cedera.  Dia mencatat bahwa puasa itu tidak selalu menjadi penghalang total pemain.  Pemain diminta tidak berpuasa, tapi anehnya dalam beberapa kasus ada pemain yang mendapatkan hasil yang lebih baik selama Bulan Ramadhan meski tetap puasa. “Ini bisa menjadi bantuan spiritual dan psikologis bagi sebagian pemain."

    Bacary Sagna, pemain Muslim di skuad Prancis, mengatakan bahwa banyak pemain yang tetap berpuasa di liga-liga Eropa dan tetap bisa bermain dengan baik. "Sebagai seorang Muslim saya tahu bahwa ada aturan-aturan tertentu yang memungkinkan kita untuk menghindari hal itu," katanya. “Tapi saya tetap berpuasa.”

    FIFA| GUARDIAN| ANTO
    Baca juga:
    Ini Daftar Kekalahan Cile Vs Brasil di Piala Dunia
    Pelatih Uruguay Mundur dari FIFA
    Ini Dia Wasit Laga Brasil Vs Cile
    Gagal di Piala Dunia, Gerrard Bersantai di Pantai
    Melawan Brasil, Cile Khawatir Wasit Berpihak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.