Kosta Rika, Antara Kebanggaan dan Kedukaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kosta Rika. REUTERS/Jorge Silva

    Kosta Rika. REUTERS/Jorge Silva

    TEMPO.COJakarta - Perjalanan tim underdogKosta Rika, harus terhenti di perempat final Piala Dunia 2014 di Brasil. Skuad Los Ticos ini harus pulang kandang lebih awal setelah dikalahkan Belanda lewat adu pinalti dengan skor 3-4 pada Minggu pagi WIB.

    Pelatih Kosta Rika, Jorge Luis Pinto, mengatakan meskipun kalah, permainan anak asuhnya patut dibanggakan karena telah mampu mengangkat martabat sepak bola ke tingkat yang lebih tinggi. “Selama Piala Dunia, kami telah melakukan sesuatu yang sangat indah. Sebuah capaian yang selama ini tidak dipercaya banyak orang,” kata Pinto dalam jumpa pers usai pertandingan.

    Pinto berkata Kosta Rika mengakhiri turnamen ini tanpa terkalahkan. “Kami bermain melawan negara adi daya sepak bola. Kami berlaga lima kali dan hanya kemasukan satu gol dan satu gol lainnya melalui kotak pinalti,” katanya.

    Tidak ada rona muka kesedihan para pemain Los Ticos saat meninggalkan ruang ganti usai laga melawan Belanda di Stadion Arena Fonte Nova.  Sebaliknya, mereka merasa bangga mampu mencapai babak perempat final. 

    Pencapaian babak perempat final merupakan yang pertama kali dalam sejarah sepak bola Kosta Rika.  Keberhasilan tim yang semula tak diunggulkan ini mendapat sambutan hangat dari warga Brasil. “Ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah sepak bola Kosta Rika,” kata gelandang Celso Borges.

    Sebelum dikalahkan Belanda di perempat final, Kosta Rika dijuluki "pembunuh raksasa" setelah mengalahkan Uruguay dan Italia serta menahan seri Inggris. Kosta Rika tampil sebagai juara grup. Di perdelapan final, Kosta Rika mengalahkan Yunani melalui adu penalti yang mengantar mereka melaju ke perempat final.

    BBC NEWS|THE GUARDIAN|SETIAWAN ADIWIJAYA

    Berita Lain
    :
    Kaki Neymar Disebut Mati Rasa
    Dikalahkan Argentina, Hazard Fokus ke Masa Depan
    Bikin Neymar Cedera, FIFA Selidiki Zuniga


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.