Dilibas Jerman 1-0, Pendukung Argentina Patah Hati  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Reaksi pesepak bola Argentina Lionel Messi usai dikalahkan timnas Jerman dalam pertandingan final Piala Dunia 2014, di stadion Maracana, di Rio de Janeiro, Brasil, Ahad 13 Juli 2014. REUTERS/Eddie Keogh

    Reaksi pesepak bola Argentina Lionel Messi usai dikalahkan timnas Jerman dalam pertandingan final Piala Dunia 2014, di stadion Maracana, di Rio de Janeiro, Brasil, Ahad 13 Juli 2014. REUTERS/Eddie Keogh

    TEMPO.CO, Buenos Aires - Ribuan orang yang berkerumun di Taman San Martin, Buenos Aires, Argentina, tertegun menyaksikan tendangan voli Mario Goetze merobek jala gawang yang dikawal Sergio Romero. Lebih menyakitkan, gol semata wayang yang dicetak pemain tengah Jerman itu terjadi di ujung babak perpanjangan waktu. Berkat gol Goetze itulah Jerman keluar sebagai pemenang laga final Piala Dunia 2014. (Baca: Plus-Minus Permainan Jerman dan Argentina di Piala Dunia)

    Ahad malam, 13 Juli 2014, Jerman mematahkan hati sebuah bangsa. Jutaan warga Argentina bersedih, setelah kesempatan untuk meraih kemenangan yang mereka tunggu-tunggu selama hampir tiga dekade dirampas oleh sebuah negara asal Eropa. Tak pernah ada sejarahnya negara Eropa bisa menang atas negara Amerika Latin dalam final Piala Dunia yang digelar di bagian benua ini.

    Ribuan fan tampak tegang. Tangan mereka menutupi kepala seiring dengan detik-detik waktu babak perpanjangan semakin mendekati akhir. Lalu, peluit panjang tanda pertandingan selesai ditiup wasit Nicola Rizzoli asal Italia. (Baca: Bentrok Dua Gaya, Jerman Vs Argentina)

    "Ini tamparan di wajah kami, tidak ada yang bisa kami rayakan," kata Eduardo Manfredi, 40 tahun, seorang warga Buenos Aires. Malam itu dia sengaja datang untuk menyaksikan pertandingan final melalui layar raksasa di Taman San Martin.

    Harapan 40 juta warga negeri asal Evita Peron itu dibebankan kepada pundak sebelas pemain tim nasional yang berlaga di Maracana, Rio de Janeiro, Brasil. Sebelum peluit panjang ditiup Rizzoli, mereka begitu yakin pemain pujaan mereka, Lionel Messi, dan penjaga gawang, Sergio Romero, bisa mengantar Argentina menjadi juara.

    Sebelum pertandingan, di ibu kota negara itu, ribuan suporter berkonvoi. Mereka berkerumun di taman-taman meniupkan dan terompet vuvuzela, yang menjadi ciri khas Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Namun perayaan di awal pertandingan itu akhirnya menjadi sia-sia.(Baca: Argentina Bisa Jadi Tim Tertua Peraih Piala Dunia)

    "Kami memang kalah, tapi setidaknya kami tidak memalukan di Brasil," kata Eduardo kepada Reuters. Walau sedih tim pujaannya kalah, dia masih berbangga hati. Musababnya, timnas mereka di Piala Dunia kali ini tampil lebih baik dibanding Brasil, musuh bebuyutan mereka yang harus puas duduk di posisi keempat.

    REUTERS | PRAGA UTAMA

    Berita Lainnya:

    Giliran Prabowo Dikirimi 'Surat Cinta'
    Palestina Minta Perlindungan Internasional
    Surat Suara Pilih Jokowi-JK di Bekasi Dirusak
    Mario Goetze, Pahlawan Jerman di Piala Dunia 2014


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.