Jumat, 19 Oktober 2018

Piala Dunia 2018: Gabriel Jesus, Kuda Pacu Andalan Timnas Brasil

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain timnas Brasil, Gabriel Jesus mengontrol bola saat bertanding melawan timnas Jerman dalam pertandingan uji coba menjelang Piala Dunia di Olympiastadion, Berlin, Jerman, 27 Maret 2018. (AP Photo/Markus Schreiber)

    Pemain timnas Brasil, Gabriel Jesus mengontrol bola saat bertanding melawan timnas Jerman dalam pertandingan uji coba menjelang Piala Dunia di Olympiastadion, Berlin, Jerman, 27 Maret 2018. (AP Photo/Markus Schreiber)

    TEMPO.CO, Jakarta - Nama Gabriel Jesus tak pernah absen untuk mengisi kekosongan di lini depan timnas Brasil di dua pertandingan terakhir, kala mereka melakoni laga uji coba sebelum Piala Dunia 2018 kontra Rusia dan Jerman pada Maret lalu. Pelatih Brasil, Tite, telah mempercayakan posisi penyerang tengah kepada pemain berusia 21 tahun tersebut.

    "Dia bagaikan kuda. Dia bagai binatang yang sangat kuat," ujar Tite kala baru memanggil Jesus untuk bermain di timnas senior Brasil pada 2016 silam. Kala itu, ia baru menukangi empat pertandingan bagi Brasil di kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Amerika Selatan dan diakhiri dengan hasil yang sempurna. Dari empat laga tersebut, Jesus berhasil mencetak empat gol. Saat itu ia masih berusia 18 tahun.

    Bakat sepak bola Jesus nampaknya memang sudah terasah sejak anak-anak. Dibesarkan di lingkungan padat penduduk bernama Jardim Peri di Sao Paulo, Jesus kecil tidak langsung berlatih di lapangan sepak bola yang baik.

    Lapangan latihan Jesus hanya beralaskan tanah yang berdebu. Pelatihnya kala bocah, José Francisco Mamede, masih ingat betul kali pertama Jesus kecil datang ke lapangan itu untuk berlatih sepak bola.

    "Ia datang dengan menggunakan sandal jepit. Umurnya kira-kira masih delapan tahun. Dan di laga pertamanya, ia berhasil mencetak gol dengan menggiring bola melewati tiga bocah yang badannya lebih besar. Ia memasukan bola dengan begitu mudahnya," ujar Mamede.

    Selain bakat, Mamede pun mengakui keuletan Jesus untuk berlatih dengan serius. Meski di lingkungannya banyak anak seumuran yang terjerumus ke bisnis narkoba, namun kata Mamede, Jesus memilih fokus untuk bersepak bola.

    Jesus, kata Mamede, bisa dibilang tak pernah melewatkan latihan atau pertandingan. Jesus selalu berada di barisan terdepan saat latihan dilakukan. Mamede berujar, kala itu ia punya setidaknya 10 pemain yang lebih baik dari Jesus, tapi kebanyakan dari mereka gagal karena malas. Sesuatu yang menurutnya tidak pernah dilakukan oleh Jesus.

    Jesus kerap mengenang tempat berlatihnya sejak kecil. Ia menyebut, di klub kecil asuhan Mamede itu, sepak bola dimainkan secara liar dan keras. Maklum, anak-anak yang berlatih di situ kebanyakan berasal dari pemukiman padat penduduk. "Kebanyakan dari mereka melakukan tackle untuk mematahkan kaki Anda," ujar Jesus mengenang masa kecilnya.

    Namun begitu, Jesus mengaku beruntung untuk bisa berlatih di tempat itu. Menurut dia, hal itu bisa membangun karakternya tersendiri sebagai pesepak bola.

    Dengan segala bakatnya, Jesus pun akhirnya bergabung dengan klub amatir, Associação Atlética Anhanguera di kala remaja. Di sana, ia dapat tampil mentereng dengan mencetak 54 gol dari 48 laga. Tak lama kemudian, pada 2013, klub professional Palmeiras pun melirik bakat Jesus, dan merekrutnya untuk bermain di tim muda mereka.

    Tak butuh waktu lama bagi Jesus untuk bisa menembus skuad tim senior Palmeiras. Pada Maret 2015, saat usianya belum genap 18 tahun, ia telah melakukan debutnya di tim tersebut. Di musim pertamanya itu, Jesus berhasil mencetak empat gol dan tiga assist dari 20 kali penampilannya.

    Di musim keduanya, terlihat penampilan Jesus kian membaik. Ia berhasil membawa Palmeiras menjadi juara Liga Brasil dengan sumbangan 12 gol dan lima assist dari 27 laga. Gelar itu pun menjadi kenangan terakhir bagi Jesus tentang Palmeiras, sebelum ia pindah ke Manchester City.

    Jesus pun bergabung dengan City pada Januari 2017 dengan mahar sebesar 32 juta euro. Meski baru bergabung pada paruh kedua musim, Jesus sudah bisa tampil mentereng dengan raihan tujuh gol dan empat assist dari sembilan laga.

    "Dia (Jesus) mengingatkan saya dengan Samuel Eto'o kala melatih Barcelona dulu," ujar pelatih Manchester City, Pep Guardiola saat ditanyai tanggapan tentang penampilan Jesus di musim pertamanya bersama City.

    "Dia adalah petarung di kotak penalti. Di situ, dia adalah pembunuh," ujar Pep.

    Dan kini, di musim keduanya bersama City, Jesus berhasil memboyong gelar juara Liga Inggris dengan sumbangan 11 gol dan tiga assist dari 25 laga. Catatan itu ditambah dengan empat gol yang ia cetak di ajang Liga Champions dimana City harus tersingkir di babak perempat final.

    Dengan segala prestasi tersebut, maka tidak heran jika kini Tite mengandalkan Jesus di lini depan Brasil mendampingi Neymar. Mengingat, dua pemain itu telah berhasil pula membawa timnas Brasil U-23 untuk meraih medali emas di ajang Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro.

    Bersama timnas senior Brasil, Jesus telah mencetak sembilan gol dari 15 laga. Adapun gol terakhir yang ia buat adalah kala Selecao menghadapi Jerman di laga persiapan Piala Dunia 2018 pada Maret lalu. Gol tunggal dari Jesus bisa membawa Brasil unggul 1-0.

    Di ajang Piala Dunia 2018 yang bakal digelar di Rusia pada Juni mendatang, bisakah sang Tetinha berhasil membawa Brasil menjuarai ajang tersebut untuk yang ke-enam kalinya? Layak untuk kita tunggu.

    FIFA | THE GUARDIAN | MANCHESTER EVENING NEWS | MANCHESTER CITY | SOCCERWAY


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.