Rabu, 19 September 2018

Laporan Tempo dari Rusia: Menyaksikan Hari Bersejarah di Kazan

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suporter Rusia menunggu jalannya pertandingan 16 besar Piala Dunia 2018 antara Spanyol dan Rusia di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, Ahad, 1 Juli 2018. REUTERS/Grigory Dukor

    Suporter Rusia menunggu jalannya pertandingan 16 besar Piala Dunia 2018 antara Spanyol dan Rusia di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, Ahad, 1 Juli 2018. REUTERS/Grigory Dukor

    TEMPO.CO, Jakarta - Pekik membahana mengguncang fan fest Piala Dunia 2018 di Taman Pusat Keluarga, Kazan, Ahad, 1 Juli lalu, saat kiper Rusia, Igor Akinfeev, berhasil menghalau bola tembakan striker tim nasional Spanyol, Iago Aspas. Lebih dari 20 ribu warga Kazan yang menonton siaran langsung pertandingan di arena itu melonjak-lonjak dan berpelukan merayakan kemenangan tim Rusia.

    Rusia, untuk pertama kalinya dalam 27 tahun, lolos ke perempat final Piala Dunia setelah mengalahkan Spanyol 4-3 lewat adu penalti. Sebelumnya, selama 120 menit permainan yang berlangsung di Stadion Luzhniki, Moskow, itu, kedua tim bermain imbang 1-1. “Aku tak percaya ini, kita akhirnya menang,” ujar seorang suporter, Aleksei, lalu tertawa lebar.

    Menurut Aleksei, Spanyol adalah tim yang lebih berpengalaman. Apalagi mereka pernah menjadi juara Piala Dunia. Sedangkan Rusia justru tim dengan ranking terendah dari 32 peserta Piala Dunia. “Sudahlah, sekarang lupakan itu dan mari berpesta,” katanya.

    Saking gembiranya, sebagian suporter sampai mengucurkan air mata, merontokkan cat warna putih-biru-merah yang sebelumnya menghiasi wajah mereka. Ekspresi mereka tak ternilai, seperti kaget dan puas bisa melihat timnya menang. Bendera-bendera Rusia pun berkibar di mana-mana. Suara klakson dan terompet meramaikan perayaan itu.

    Yaroslav, seorang warga Kazan, mengaku tak berharap banyak saat pertandingan dimulai. Rekam jejak tim mereka menuju Piala Dunia dinilai tak cemerlang. Sebelumnya, Rusia kalah telak 0-3 dalam laga penyisihan saat menghadapi Uruguay pekan lalu. “Banyak yang khawatir harus melihat tim kami kalah lagi,” katanya.

    Mereka wajar saja cemas. Rusia memiliki sejarah buruk menghadapi Spanyol. Sejak 1991, Rusia tak pernah mengalahkan Spanyol, kehilangan empat dari enam pertandingan. Dalam tiga laga terakhir menghadapi Rusia, Spanyol bahkan mengemas 10 gol, 7 di antaranya dicetak ketika mereka dua kali bertanding di Euro 2008.

    Spanyol juga memiliki sejarah kemenangan paling bagus di antara 32 peserta Piala Dunia. Mereka tak pernah kalah dalam 23 pertandingan terakhir, 15 di antaranya berakhir dengan kemenangan. “Bagaimanapun kami harus menonton Rusia bertanding,” kata Yaroslav. “Sekarang semuanya puas atas kemenangan ini.” 

    Terlihat pula sejumlah suporter dengan semangat membentangkan bendera Rusia dengan tulisan nama-nama kota asal mereka. Ada yang dari Murmansk, kota di pesisir utara Rusia, dan Tyumen, yang berlokasi di kawasan pegunungan Ural. “Ini hadiah besar untuk seluruh warga Rusia,” kata para suporter itu.

    Di Moskow, para suporter merayakan kemenangan itu di jalan-jalan. Lapangan Merah serta di pusat wisata dan pertokoan di Jalan Nikolskaya pun dipenuhi para suporter yang menari dan bernyanyi. “Rasanya kami bisa menjuarai Piala Dunia dengan bantuan sedikit keberuntungan,” kata Yulia, seorang suporter.

    Ketika pertandingan di Luzhniki dimulai, waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi di Vladivostok, kota di pesisir timur Rusia. Namun warga kota bersemangat menonton dan merayakan kemenangan tim nasional. Apalagi hari itu mereka merayakan hari ulang tahun Vladivostok yang ke-158. “Sulit membayangkan ada hadiah yang lebih besar dibandingkan dengan apa yang kami terima hari ini,” kata Wali Kota Vladivostok, Vitaly Verkeyenko.

    Dalam pertandingan itu, Spanyol mendapat angka lebih dulu setelah Sergei Ignashevich membuat gol bunuh diri saat pertandingan baru berjalan 12 menit. Bola yang dilepaskan Isco lewat tendangan bebas berbelok setelah menyentuh tumit Ignashevich. Berusia 38 tahun 352 hari, Ignashevich menjadi pemain tertua yang mencetak gol bunuh diri di Piala Dunia.

    Sejak saat itu, Spanyol terus mendominasi permainan dan merangsek ke gawang Akinfeev. Meski demikian, lini pertahanan Rusia solid. Spanyol baru mendapat tembakan pertama mereka lewat Isco pada menit ke-45. Ini adalah durasi terpanjang yang dihabiskan Spanyol sejak Piala Dunia 1966.

    Artyom Dzyuba membuat kedudukan imbang setelah bola tembakan penaltinya empat menit sebelum babak pertama selesai gagal dibendung kiper David De Gea. Hasil imbang ini bertahan hingga pertandingan yang diperpanjang lewat dua babak tambahan itu selesai. Akinfeev menjadi pahlawan Rusia setelah sukses mengeblok tembakan Koke dan Iago Aspas dalam adu penalti.

    Akinfeev pun menjadi favorit para suporter. Kiper CSKA Moskow itu dua kali mengeblok tembakan penalti pemain Spanyol dan memastikan langkah Rusia ke perempat final. “Akinfeev masih kapten? Jadikan dia mayor!” ujar para suporter, memuji kehebatan Akinfeev.

    GABRIEL WAHYU TITIYOGA (KAZAN) | KOMSOMOLSKAYA PRAVDA | E1.RU | REUTERS | ABC


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.