Final Piala Dunia 2018: Kisah Korupsi dalam Sepak Bola Kroasia

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pemain Kroasia melakukan selebrasi merayakan keberhasilan lolos ke final Piala Dunia 2018 dengan mengalahkan Inggris 2-1 di Luzhniki Stadium, Moskow, 11 Juli 2018. (AP Photo/Frank Augstein)

    Para pemain Kroasia melakukan selebrasi merayakan keberhasilan lolos ke final Piala Dunia 2018 dengan mengalahkan Inggris 2-1 di Luzhniki Stadium, Moskow, 11 Juli 2018. (AP Photo/Frank Augstein)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kroasia akan berusaha meraih kejayaan dalam laga final Piala Dunia 2018 melawan Prancis di Moskow, Ahad, 15 Juli 2018. Pencapaian tim ini, yang mampu lolos ke final, dianggap mengejutkan, karena torehan mereka sebelumnya, juga karena bayang-bayang korupsi yang cukup kental mewarnai sepak bola negara itu.

    Sebelum Piala Dunia 2018, berita suram justru menerpa gelandang yang kini menjadi roh permainan Kroasia, Luka Modric. Pemain Real Madrid itu diduga melakukan kesaksian palsu saat sidang kasus korupsi mantan eksekutif klub Dinamo Zagreb sekaligus Wakil Ketua Federasi Sepak Bola Kroasia, Zdravko Mamic, pada Juni 2018.

    Modric pernah mengatakan kepada polisi bahwa Mamic memang pernah melakukan transfer dengan klausul ilegal yang mengharuskan setiap pemain Dinamo yang pindah membayar sebagian besar biaya transfernya ke pihak Mamic. Namun, saat menjadi saksi persidangan, Modric mengubah pernyataan sebelumnya dengan mengatakan dirinya tak ingat apa pun dari kasus itu.

    Sikap Modric membuat para pendukung Kroasia geram. Balkan Insight melaporkan, kekecewaan karena korupsi menahun dan skandal liga di Kroasia membuat penggemar sepak bola di sana sempat memunculkan seruan memboikot Piala Dunia 2018.

    "Fan memboikot tim nasional karena mereka menolak memiliki hubungan emosional dengan pemain yang terbukti menjadi bagian dari sistem yang rusak," ucap Juraj Vrdoljak, seorang komentator di situs olahraga terkemuka Kroasia, kepada BIRN.

    Seruan boikot itu tak terbukti. Namun tetap ada beberapa pihak yang melakukannya. Sejumlah kafe dan restoran di Kroasia tidak menyiarkan Piala Dunia sama sekali. Mereka merelakan keuntungan besar yang biasanya menyertai Piala Dunia. Semua karena protes terhadap Federasi Sepak Bola Kroasia (HNS).

    "Saya akan memboikot kejuaraan sepak bola dunia selama yang berkuasa di HNS tidak berakhir di penjara," kata pemilik salah satu restoran di Makarska kepada sebuah surat kabar lokal, menurut BIRN.

    Saat fase grup Piala Dunia berlangsung pun, terdapat salah satu pendukung Kroasia yang mengenakan jersey tim nasionalnya yang bernomor punggung sepuluh dengan tulisan “Ne sjecam se”, yang artinya “saya tidak ingat”, menyindir pengakuan palsu Modric dalam persidangan.

    Pada Juni 2018 Mamic dihukum 6,5 tahun karena penggelapan dana US$ 17 juta (Rp 245 miliar) dari mantan klubnya dan menipu negara sejumlah US$ 2,1 juta (Rp 30 miliar) dalam bentuk pajak. Ia juga dianggap bersalah melakukan pemalsuan dalam transfer Luka Modric dan Dejan Lovren dari Dinamo Zagreb ke Tottenham Hotspur dan Olympique Lyonnais.

    Namun, sehari sebelum pengadilan ditetapkan untuk mengumumkan vonis, Mamic melarikan diri ke Bosnia. Dia memiliki kewarganegaraan ganda, dan Bosnia dan Kroasia tidak mengekstradisi warga mereka satu sama lain. Sementara itu, Damir Vrbanovic, mantan Direktur Eksekutif HNS, juga dihukum karena hal yang sama.

    Ahad malam, 15 Juli 2018, Kroasia bisa saja berjaya dengan mengalahkan Prancis di final Piala Dunia 2018. Namun kisah mengenai kesaksian Modric di pengadilan dan kekecewaan suporter atas korupsi menahun di sepak bola negara mereka akan tetap membayangi. 

    BALKAN INSIGHT | ESPN FC | EDO JUVANO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.