Belanda-Spanyol: Satu Ayah Beda Ibu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pemain Belanda merayakan gol yang dicetak oleh Giovanni van Bronckhorst (keempat dari kanan) ke gawang Uruguay. REUTERS/Mike Hutchings

    Para pemain Belanda merayakan gol yang dicetak oleh Giovanni van Bronckhorst (keempat dari kanan) ke gawang Uruguay. REUTERS/Mike Hutchings

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Seandainya masih hidup, Rinus Michels bakal jadi orang paling berbahagia di partai final Piala Dunia, Ahad mendatang. Belanda, tim nasional kebanggaannya, kembali menembus final setelah 32 tahun. Ini jadi final ketiga Belanda, setelah dia pertama kali mengantar Oranye pada 1974.

    Saat itu, Belanda kebanjiran sanjung puji berkat permainan ciamik "Total Football" yang diciptakannya. Walaupun takluk 1-2 oleh tuan rumah Jerman Barat, Oranye memukau dunia dengan permainan rotasi buah karya Michels. Bek memiliki tanggung jawab yang sama dengan penyerang untuk menyarangkan gol, dan sebaliknya, penyerang wajib menggalang pertahanan menjaga gawang. Michels pula yang pertama menerapkan taktik jebakan offside, yang hingga kini diakui ampuh meredam serangan lawan.


    Usai perhelatan itu, dia mundur dan baru kembali sepuluh tahun kemudian. Puncak prestasinya diraih pada Piala Eropa 1988 di Jerman Barat. Di babak semi-final, dia berhasil membalas kekalahannya terhadap tuan rumah. Belanda meraih kampiun setelah mengalahkan Uni Soviet di final.

    Dunia memuja Total Football, yang dikenal sebagai anti-taktik. "Sepak bola ibarat perang, siapa pun yang bertindak terlalu baku akan kalah," ujar Michels, yang dijuluki Sang Jenderal.

    Pada 1999, FIFA menasbihkan penghargaan tertinggi untuknya, Pelatih Terbaik Abad Ini. Artinya, pelatih yang bisa menyamainya baru akan ditunjuk 89 tahun mendatang.

    ADVERTISEMENT

    Sang Jenderal meninggal dunia 3 Mei 2005, pada usia 77, akibat sakit jantung. Warisan Total Football diteruskan oleh anak asuh kesayangannya, Johan Cruyff. Dia adalah kapten Belanda pada Piala Dunia 1974 yang mewujudkan instruksi pelatih di lapangan hijau. Cruyff juga andalan Michels di klub raksasa Spanyol, Barcelona antara 1976 dan 1978.

    Cruyff adalah ikon Total Football. Sebagai penyerang, dia kerap membingungkan lawan dengan turun ke daerah pertahanan atau menyerang dari sayap. Anti tesis dengan penyerang saat itu, yang hanya beroperasi di jantung pertahanan lawan. Usai pensiun sebagai pemain, Cruyff mengikuti jejak sang mentor dengan mengawali karir sebagai pelatih Ajax Amsterdam pada 1985. Usai menyabet jawara, dia pindah ke Barcelona pada 1988.

    Dengan 11 tropi antara 1988 dan 1996, Cruyff tercatat sebagai pelatih paling sukses dan paling lama melatih Barcelona. Dia pun dinobatkan sebagai Presiden Kehormatan klub asal Catalunia itu.

    Warisannya di Barcelona tidak berhenti. Selain menerapkan sepak bola mengalir a la Rinus Michels, Cruyff mendekatkan publik Catalunia dengan pemain-pemain negeri kincir angin. Usai memboyong Ronald Koeman di masa kepelatihannya, meneer

    Belanda silih berganti merumput di Barcelona. Kapten Oranye di Afrika Selatan, Giovanni van Bronckhorst membela klub itu antara 2003-2007. Begitu juga gelandang Mark van Bommel pada 2005-2006.

    Klub inilah yang mengaitkan finalis Piala Dunia: Belanda dan Spanyol. La Furia Roja didominasi pemain-pemain Barcelona: Carles Puyol, Gerard Pique, Xavi, Andres Iniesta, Sergio Busquest dan Pedro Rodriguez. Jumlahnya bisa bertambah dengan top skorer David Villa, yang bergabung di Camp Nou usai Piala Dunia.

    Tanpa mengecilkan peran pemain lain, kekompakan La Blaugrana disebut-sebut sebagai ruh permainan Tim Matador. Pasukan Catalan bermain di bawah komando pelatih Pep Guardiola, anak kesayangan Cruyff semasa melatih Barcelona.

    Walaupun tidak sepenuhnya memainkan Total Football ala Michels dan Cruyff, Spanyol, Barcelona dan Belanda memiliki banyak kesamaan. Ketiganya memainkan sepak bola mengalir dengan umpan pendek terarah dan rotasi posisi. Penyerang Belanda Robin van Persie tidak melulu berperan sebagai striker tunggal. Dia kerap melebar dan bermain sebagai sayap.

    Cruyff memuji penyerang Dirk Kuyt, yang mengemas satu gol dan dua assist. Pemain Liverpool itu mendapat acungan jempol karena terus berganti posisi antara sayap kanan dan kiri sepanjang pertandingan, membuat bek lawan kelimpungan, dan membangun serangan. "Pemain seperti itu layak mendapat penghargaan," ujarnya.

    Begitu juga Spanyol. Penyerang tengah David Villa, yang sudah mencetak lima gol, kerap beroperasi di sayap kiri. Sementara gelandang Andres Iniesta bisa dikatakan tidak memiliki posisi baku karena terus mengembara di daerah pertahanan lawan. Jangan pula lupakan bek kanan Sergio Ramos. Aljogo lini pertahanan yang sering merepotkan bek lawan dengan umpan, tembakan, dan sundulan akurat. Saat bek sayap menyerang, gelandang mengawasi potensi serangan balik, seperti saat Busquets dan Xabi Alonso mematahkan serangan-serangan Der Panzer di semi final.

    Total Football bakal bergema di Stadion Soccer City Ahad nanti. Lahir dari rahim berbeda, terpisah 1237 kilometer antara Negeri Tanah Rendah dan Semenanjung Iberia, namun berasal dari benih yang sama, Marinus Hendrikus Jacobus Michels. Siapa pun pemenangnya, Sang Jenderal akan tersenyum bangga di Johannesburg.

    REZA M | BERBAGAI SUMBER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.