Beckham, Eusebio Baru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Los Angeles - Meski mendirikan banyak sekolah sepak bola, termasuk di Los Angeles, Amerika Serikat, David Beckham mengaku sama sekali tak berminat menjadi pelatih setelah gantung sepatu. "Saya tahu kemampuan saya, dan saya sadar, menjadi pelatih tak cocok bagi saya." Siapa sangka dia kini malah menjadi seorang pelatih. Bahkan itu untuk tim nasional Inggris yang berlaga pada Piala Dunia nanti. 

    Ini buah dari keputusan Fabio Capello. "Kehadirannya sangat penting untuk membangkitkan spirit di ruang ganti," kata pelatih Inggris asal Italia itu. "Kami telah meminta David bersama kami di Afrika Selatan."

    Beckham, 35 tahun, mengalami cedera urat keting saat akan bermain bersama tim AC Milan, Maret lalu. Pemain Los Angeles Galaxy ini harus menjalani rehabilitasi sekitar enam bulan, yang membuatnya tak bisa bermain pada Piala Dunia 2010. Untuk sementara, mantan kapten tim nasional Inggris itu tak bisa menambah cap bermainnya untuk Inggris, yang mencapai 115 pertandingan.

    "Saya telah berbicara dengan pelatih serta Franco Baldini (general manager) dan mereka memastikan peran saya adalah bermain bersama pemain di Afrika," kata Beckham. "Saya belum mendiskusikannya secara mendetail (peran itu), tapi saya merasa mendapat penghargaan besar. Fabio merasa saya bisa berperan penting."

    Seperti kata Beckham, detail tugas yang harus dia jalani belum jelas benar. Untuk menjadi sparring partner bagi tim pun rasanya janggal mengingat kondisi mantan pemain Manchester United itu tidak fit. Untuk berjalan pun dia masih kerap merasa sakit.

    ADVERTISEMENT

    Untuk menjadi staf pelatih sepertinya juga aneh. Pasalnya, Capello sudah memiliki enam pendamping: General Manager Baldini, staf pelatih Stuart Pearce dan Italo Galbiati, pelatih kiper Franco Tancredi dan Ray Clemence, serta pelatih fisik Massimo Neri.

    Nada minor pun terdengar. Beberapa orang menuduh keputusan Capello membawa Beckham sekadar menuruti perintah FA (PSSI-nya Inggris). Beckham adalah ikon sepak bola Inggris. Gelandang andal ini ditugasi FA menjadi duta kampanye Inggris dalam rangka perebutan tuan rumah Piala Dunia 2018. Mengikutsertakan Beckham ke Afrika bertujuan menjaga citra sang superstar.

    Namun tuduhan itu tak berdasar. Capello, 64 tahun, adalah pelatih yang punya prinsip. Saat sama-sama di Real Madrid, Capello bahkan pernah tak menurunkan Beckham dalam banyak pertandingan karena sang pemain mengikat kontrak dengan Galaxy.

    Fab--panggilan akrab pelatih itu--menyukai semangat dan profesionalisme Beckham. Beckham juga memiliki karisma tersendiri di mata para pemain yang lebih muda seangkatan John Terry, Steven Gerrard, Frank Lampard, apalagi Wayne Rooney. Capello berharap Beckham bisa membangkitkan motivasi para pemainnya dan memberi masukan kepada mereka.

    Setiap tim memiliki motivator. Dalam banyak kasus, peran ini diambil oleh para pahlawan sepak bola di masa lalu. Franz Beckenbauer, setelah gantung sepatu dan selepas menjadi pelatih tim nasional, kerap menyempatkan diri ke ruang ganti pemain Jerman untuk memberi motivasi.

    Diego Maradona melakukannya untuk Argentina. Setelah melewati masa rehabilitasi kecanduan narkoba, Si Tangan Tuhan mendampingi tim Tango pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Datang sebagai penonton, Maradona selalu menjenguk pemain di ruang ganti sebelum pertandingan.

    "Dia menceritakan beberapa anekdot," kata stopper senior Roberto Ayala tentang Maradona di ruang ganti. "Semua anggota tim masuk lapangan dengan perasaan berbeda setelah mendengar dorongan dari pemain terbaik dunia itu." Setelah itu, Argentina menundukkan Pantai Gading di Jerman.

    Luigi Riva, striker hebat dekade 1970-an, adalah inspirator Italia, baik langsung maupun tidak langsung, saat menjadi manajer tim nasional, 1990 sampai 2006. Dia berbagi cerita dengan para pemain di meja makan dan saat tidak berlatih.

    Sementara Maradona dan Beckenbauer melakukannya secara tidak resmi dan Riva menjalani perannya dalam kapasitasnya sebagai manajer tim, Eusebio murni ditugasi oleh Federasi Sepak Bola Portugal untuk menjadi penasihat tim. Itu terjadi pada Piala Dunia 2006.

    Eusebio, pria keturunan Mozambik kelahiran 25 Januari 1942, masih diakui sebagai pemain terhebat Portugal. Dia meraih banyak gelar di tingkat klub. Tapi sayangnya, dia cuma sukses mengantar Portugal sampai ke semifinal Piala Dunia 1966.

    Setelah generasi Eusebio berlalu, Portugal memiliki generasi emas Luis Figo pada awal 2000-an. Namun Portugal tetap tak beroleh gelar apa pun. Prestasi terbaik mereka adalah menjadi runner-up Piala Eropa 2004.

    Luiz Felipe Scolari melatih Portugal setelah sukses membawa negaranya, Brasil, menjuarai Piala Dunia 2002. Scolari seorang motivator ulung. Namun Si Mulut Besar sadar bahwa nasihat akan lebih bermakna bila datang dari orang yang menjadi pujaan pemain. Dan itu adalah Eusebio.

    "Kami kalah pada Piala Eropa 2004. Saya harus mencari jalan untuk membuat tim berkembang," kata Scolari. Dia datang kepada Eusebio untuk mengajaknya bergabung. Eusebio langsung mengiyakan. Peran ini bukan hal baru baginya. Tapi biasanya Eusebio mendampingi tim secara informal.

    Itulah peran yang diinginkan Capello dari Beckham, peran menjadi kakak para pemain.

    BERBAGAI SUMBER | ANDY M

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.