Sepak Bola dan Sepatu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepatu sepakbola dari masa ke masa.

    Sepatu sepakbola dari masa ke masa.

    TEMPO Interaktif, Tak ada yang tahu kapan persisnya sepak bola mulai dimainkan. Diperkirakan 3.000 tahun silam bola sudah menjadi alat utama permainan, meski tak bisa dipastikan apakah saat itu alas kaki juga digunakan.

    Kini, ketika memilih sepatu bola pemain memiliki beragam pilihan, mulai alas berbahan lembut hingga keras serta berbahan kulit hingga sintetis.

    Beberapa pemain mengaku lebih menyukai merek tertentu ketimbang lainnya. Berat, bahan, dan kelenturan disebut-sebut dapat mempengaruhi performa. Tugal, paku di bawah sepatu, juga menjadi pertimbangan.

    Ada dua jenis tugal, yakni berbentuk bulat dan oval sedikit meruncing. Soal bentuk ini sempat terjadi perdebatan apakah yang satu lebih baik dari yang lain? Juga dipercaya bahwa jenis tertentu dapat menyebabkan cedera pada lutut.

    Sebuah studi untuk melihat hubungan antara jenis tugal dan cedera lutut dilakukan. Hasil penelitian dipublikasikan dalam American Journal of Sports Medicine. Rajiv Kaila, kepala proyek penelitian, mencatatkan beban yang harus ditanggung lutut saat pemain berlari dan bermanuver cepat.

    Sebanyak 15 pemain profesional menjadi sukarelawan. Sebagian menggunakan sepatu bertugal bulat (Adidas Copa Mundial dan Nike Air Zoom Total 90 FG) serta yang lainnya oval meruncing (Adidas Predator Pulse FG dan Nike Mercurial Vapor FG).

    Para pemain berlari menyamping menuju sebuah target. Salah satu kaki menjadi tumpuan dengan kemiringan kaki lainnya 30 dan 60 derajat. Pergerakan lutut, tenaga, dan perputaran kaki dicatat untuk setiap manuver.

    Hasilnya, tak ada perbedaan mencolok. Lutut para pemain yang menggunakan sepatu bertugal bulat maupun oval meruncing tak mengalami cedera serius. Kaila menyimpulkan, tak ada hubungan antara jenis tugal dan cedera lutut.

    Jadi, apakah Anda akan memilih sepatu sepak bola dengan tugal bulat atau oval meruncing? Sejauh penelitian yang dilakukan, beruntung kedua jenis sepatu tersebut ternyata tidak akan mencederai lutut Anda.


    SCIENCEOFSOCCER | FOOTBALLHISTORY | FIRMAN ATMAKUSUMA


    Sejarahnya Sepatu Bola

    1526 - Zaman Raja Henry VIII

    Sepatu bola Raja Henry VIII tercatat dalam buku Great Wardrobe of 1526. Dibuat oleh pembuat sepatu pribadinya, Cornelius Johnson, pada 1525 seharga 4 shillings, setara dengan Rp 1.350.000 saat ini. Terbuat dari kulit kaku, tinggi di bagian pergelangan kaki, dan lebih berat daripada sepatu zaman sekarang.

    [Gbr. Sepatu Henry]

    Diperkeras agar menendang lebih baik
    Enam tugal (stud) dari kulit yang disekrup ke alas luar

    1800-an

    Sekitar 300 tahun kemudian, sepak bola berkembang pesat dan menjadi olahraga populer di Kerajaan Inggris Raya. Para pemain memakai sepatu bot dari kulit yang biasa digunakan untuk bekerja di pabrik. Tugal dari metal mulai digunakan.

    [Gbr. Sepatu 1800]

    1900-1940

    Bentuk sepatu tak banyak berubah mulai 1900 hingga akhir Perang Dunia II. Yang perlu dicatat dalam era ini, beberapa pabrik pembuatan sepatu bola bermunculan, seperti Gola (1905), Valsport (1920), dan Hummel (1923). Beberapa di antaranya masih bertahan hingga kini.

    Di Jerman, Dassler bersaudara, Adolf dan Rudolf, mendirikan Gebruder Dassler Schuhfabrik (Dassler Brothers Shoe Factory) di Herzogenaurach pada 1924. Mereka yang pertama kali pada 1952 memperkenalkan sepatu bola dengan 6-7 tugal yang bisa dilepas.

    [Gbr. Sepatu 1920]


    1940-1960

    Setelah Perang Dunia II berakhir, model sepatu cepat berubah. Lebih ringan dan lentur. Jenis sepatu ini banyak digunakan pemain Amerika Latin dan cepat tersebar ke seluruh dunia lantaran tertegun melihat kebolehan mereka bermain. Fungsi sepatu berubah dari sekadar pelindung kaki menjadi alat untuk menendang keras dan mengontrol bola.

    Pada 1948, Adidas didirikan oleh Adolf (Adi) Dassler. Pada tahun yang sama, Puma juga didirikan dan menggebrak dengan Puma Atom, yang menggunakan tugal berbahan plastik atau karet untuk pertama kalinya.

    1960-an

    Untuk pertama kalinya, sepatu sepak bola tak lagi memiliki penutup hingga mata kaki. Kini lebih rendah, yang membuat pemain dapat berlari lebih cepat. Pele menggunakan sepatu Puma jenis ini pada final Piala Dunia 1962. Adidas tak kalah gesit dan menjadi market leader hingga kini. Pada Piala Dunia 1966, secara mengejutkan 75 persen pemain menggunakan sepatu buatan Adidas.

    1970-an

    Bisnis sepatu bola mulai berkembang. Persaingan sangat ketat. Pada era inilah untuk pertama kalinya produsen sepatu bola menjadi sponsor resmi sebuah tim. Para pemain diharuskan menggunakan sepatu yang sama dalam satu tim. Teknologi pembuatan sepatu semakin maju. Warnanya pun beragam. Untuk pertama kalinya pula sepatu bola berwarna putih diperkenalkan.

    1980-an

    Teknologi pembuatan sepatu terus berkembang. Craig Johnston, mantan pemain sepak bola, menciptakan sepatu Predator yang diluncurkan Adidas. Sepatu ini membuat daya cengkeram ke tanah lebih kuat dan melekat saat menahan bola.

    [Gbr. Sepatu Predator]


    1990-an

    Pada 1994, Craig Johnston mendesain ulang Predator. Kali ini bahan yang digunakan adalah polymer extrusion, yang lebih kuat, lentur, dan nyaman di kaki. Pada 1995, Adidas memperkenalkan tugal berbentuk oval meruncing. Puma tak mau kalah. Pada 1996, Puma mengeluarkan sepatu tanpa busa yang dikenal dengan Puma Cell Technology. Kemudian beberapa produsen sepatu bermunculan, salah satunya Reebok pada 1992.

    2000-an

    Teknologi pembuatan sepatu sepak bola berkembang pesat. Penelitian terus dilakukan. Tiga "pemain" utama--Puma, Nike, dan Adidas (mengambil Reebok sejak 2006)--masih mendominasi. Meski begitu, pabrikan dengan dana tak terlalu besar, seperti Mizuno, Diadora, Lotto, Hummel, dan Nomis, masih bisa bertahan.

    Beberapa sepatu favorit pemain antara lain Adidas' F50, Tunit, dan Predator; Nike's Mercurial Vapor III, Air Zoom Total 90s, dan Tiempo Ronaldinho; Reebok Pro Rage; dan Umbro X Boots.

    [Gbr. Sepatu 2010]


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.