Stadion Nelson Mandela Bay: Angin Laut Bunga Matahari  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Stadion Nelson Mandela Bay. sudafrica.org.ar

    Stadion Nelson Mandela Bay. sudafrica.org.ar

    TEMPO Interaktif,  PORT ELIZABETH -- Jerman dan Inggris bakal merasa berada di negara masing-masing ketika bermain dalam putaran final Piala Dunia 2010 di Stadion Nelson Mandela Bay. Ketika sebagian besar pertandingan Piala Dunia diselenggarakan dalam kondisi hangat, tahun ini turnamen berlangsung dalam pertengahan musim dingin Afrika Selatan. Adapun stadionnya, dari kota yang mengabadikan pahlawan Afrika Selatan, Nelson Mandela, ini di samping sebuah danau pada sebuah lahan terbuka di luar kota di tepi laut, yang juga bernama Port Elizabeth.

    Suasana seperti itu akan membuat Wayne Rooney dan kawan-kawan atau Michael Ballack dengan rekan-rekannya dari tim Panzer bisa merasa seperti sedang berada di Newcastle atau Hamburg, terutama jika angin dan hujan datang menyeberang dari laut.
    Dijuluki Sunflower atau Bunga Matahari karena bentuknya bulat dan desain atap seperti daun bunga, stadion akan tampak seperti memiliki cincin raksasa yang mengesankan karena distribusi dan pengaturan cahaya lampu sorotnya. Sekitar 48 ribu penonton akan ditampung di sini untuk delapan pertandingan, termasuk laga perempat final dan perebutan tempat ketiga.

    Stadion Nelson Mandela Bay adalah stadion pertama yang dirampungkan pembangunannya oleh panitia untuk keperluan putaran final Piala Dunia pada 7 Juni tahun lalu. Dari stadion itu akan tampak pemandangan dari Danau North End dan posisinya sangat unik karena terletak di antara danau dan laut. Butuh waktu 15 menit kalau naik mobil dari hotel utama di Port Elizabeth, tapi bisa juga cukup dengan berjalan kaki sebentar dari pantai. Itu jika cuaca cukup bagus pada malam hari, yaitu suhu udara 9 derajat Celsius.

    Meski tim nasional Afrika Selatan menggunakan lapangan kriket St George di sana sebagai tempat uji coba dan bakal menjadi tuan rumah sebuah pesta Piala Dunia, penduduk Kota Port Elizabeth dan sekitarnya belum pernah memiliki sesuatu seperti Stadion Nelson Mandela Bay. Stadion itu dibangun dengan menggunakan dana US$ 270 juta (Rp 2,43 triliun) dari uang pemerintah dan diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya setelah Piala Dunia 2010 usai 11 Juli nanti.

    "Kami belum pernah punya satu stadion seperti itu sebelumnya untuk populasi (penduduk Port Elizabeth) 1,2 juta dan sejumlah peristiwa besar telah melewati kami," kata Direktur Eksekutif Piala Dunia 2010 untuk Port Elizabeth, Errol Heynes. "Kami berharap bisa sukses menggunakan (seusai Piala Dunia 2010) stadion multifungsi itu untuk sepak bola dan rugbi. Kami akan memanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik," Heynes melanjutkan.

    Ia mengatakan kelak mereka berharap stadion tersebut menjadi tuan rumah untuk liga super rugbi, yang diikuti 14 tim dan bernama Super 14, serta bercita-cita bakal ada satu klub sepak bola yang bisa meraih promosi ke Liga Primer Afrika Selatan dari Stadion Bunga Matahari.

    Rooney, Ballack, dan kawan-kawan bakal bermain di rumput alami Stadion Mandela Bay dengan arena sekelilingnya ditanami rumput buatan. Salah satu pertandingan penting yang menjadi tes atas kelayakan lapangan Bunga Matahari adalah pertandingan dua klub sepak bola terkemuka di Afrika Selatan yang sama-sama dari Soweto, yaitu Orlando Pirates dan Kaizer Chiefs. l USA TODAY | AP | WIKIPEDIA | PRASETYO

    Stadion Nelson Mandela Bay
    Lokasi: Nelson Mandela Bay/Port Elizabeth, Afrika Selatan
    Dibangun: 2007 (selesai 2009)
    Pemilik: Dewan Kota Metropolitan Nelson Mandela
    Biaya pembangunan: Rp 2,43 triliun
    Permukaan: Rumput
    Kapasitas: 48 ribu tempat duduk

    Pertandingan Piala Dunia 2010
    12 Juni: Grup B, Korea Selatan Vs Yunani
    15 Juni: Grup G, Pantai Gading Vs Portugal
    18 Juni: Grup D, Jerman Vs Serbia
    21 Juni: Grup H, Cile Vs Swiss
    23 Juni: Grup C, Slovenia Vs Inggris
    26 Juni: Babak 16 besar
    2 Juli: Perempat Final
    10 Juli: Perebutan tempat ketiga


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.