Jerman Vs Australia: Ujian (Sesungguhnya) tanpa Ballack  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Nasional Jerman. AP Photo/Gero Breloer

    Tim Nasional Jerman. AP Photo/Gero Breloer

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Jerman lolos ke Piala Dunia 2010 Afrika Selatan dengan meraih 26 poin dari 10 pertandingan dan hanya kehilangan 4 angka. Tanpa mengecilkan peran pemain lain, sukses tim Panser di babak kualifikasi tak lepas dari sosok sang kapten, Michael Ballack. Meski tidak selincah Lionel Messi, atau secepat Cristiano Ronaldo, Ballack merupakan bagian penting baik di tim nasional Jerman maupun Chelsea, klub tempat dia bermain.

    Penampilan Ballack jauh dari indah—setelah era Pierre Littbarski, saya belum melihat pemain Jerman yang memiliki skill menghibur—bahkan tersenyum saat pertandingan pun sulit ia lakukan. Sebagai pemain tengah, kekuatan Ballack dalam menggalang pertahanan di lini tengah serta merebut bola dari kaki lawan sangat baik. Visinya saat menguasai bola dalam membongkar pertahanan lawan, terutama dengan long pass behind defender, sangat luar biasa, sekalipun ia sedang berada dalam tekanan lawan.

    Sayang, cedera ankle yang ia alami membuat kita tidak bisa menikmati penampilan pemain yang “tidak indah untuk dilihat” namun sangat berguna bagi tim itu. Lalu, dengan kontribusinya yang luar biasa itu, bisa apa Jerman di Piala Dunia 2010 ini tanpa Ballack?

    Menghadapi Australia pada laga perdana Grup D di Stadion Moses Mabhida, Durban, malam ini, adalah ujian sesungguhnya bagi Jerman. Dengan kualitas pemain yang dibawa oleh pelatih Joachim Loew, secara teknis dan taktik, saya melihat penampilan Jerman tidak akan banyak terpengaruh meski bermain tanpa Ballack. Dengan materi yang dibawa Loew saat ini, tanpa Ballack pun Jerman tetap merupakan tim yang tangguh, solid, serta kuat dalam bertahan maupun menyerang.

    Pemain tengah Bayern Muenchen, Bastian Schweinsteiger, adalah pemain yang memiliki peluang menggantikan Ballack, baik sebagai koordinator di lini tengah maupun sebagai kapten tim. Schweinsteiger akan bekerja sama dengan Mesut Ozil (Werder Bremen), Sami Khedira (VfB Stuttgart), atau Marko Marin (Werder Bremen), yang merupakan tiga pemain muda yang memberi warna baru bagi tim, terutama dalam membongkar pertahanan lawan. Untuk ujung tombak, ketajaman penetrasi Lukas Podolski (FC Cologne) dan akurasi shooting maupun heading Miroslav Klose (Bayern Muenchen) akan menjadi ancaman serius bagi Australia.

    Persoalan yang mungkin akan dihadapi Jerman adalah label “diesel” yang melekat selama ini. Tradisi bahwa Jerman merupakan tim spesialis turnamen, dan selalu terlambat panas, harus sudah diantisipasi Loew. Terlambat panas untuk turnamen seketat Piala Dunia kali ini terlalu berisiko. Strategi yang paling jitu adalah tancap gas sejak awal.

    Australia sebagian besar pemainnya ikut kompetisi di luar Australia. Tim Cahill (Everton), Harry Kewell (Galatasaray), Mark Schwarzer (Fulham), dan Lucas Neill (Galatasaray) adalah nama yang tidak asing lagi bagi penggemar Liga Primer. Sementara Jerman kehilangan Michael Ballack, Australia kehilangan sosok penting striker Mark Viduka, yang gantung sepatu.

    Inilah persoalan terbesar Australia. Beberapa pemain sudah dicoba oleh pelatih Pim Verbeek untuk mengisi tempat yang ditinggalkan Viduka, namun sampai sejauh ini, Scott McDonald (Middlesbrough), Josh Kennedy (Nagoya Grampus Eight), bahkan Cahill dan Kewell yang pernah dicoba. Hasilnya belum memuaskan.

    Untuk pertahanan, Australia cukup solid. Ini terlihat pada pertandingan kualifikasi putaran keempat, mereka hanya kebobolan satu gol. Kepercayaan diri, koordinasi, dan kekompakan lini belakang yang berada di bawah komando Lucas Neill sudah sangat teruji. Belum lagi pengalaman Mark Schwarzer, penjaga gawang Fulham di Liga Primer.

    Melihat formasi kedua tim yang menggunakan pola 4-2-3-1, saya berharap pertandingan berlangsung menarik. Meski formasi tersebut cenderung defensif, saya yakin pertandingan Jerman vs Australia tak berarti akan minim momen menarik dalam melakukan serangan, terutama counter attack yang dimiliki kedua tim. Bukan tak mungkin akan tercipta banyak gol.

    Di Piala Konfederasi 2005, Jerman mengalahkan Australia 4-3. Namun kemenangan tersebut diperoleh Jerman dengan tidak mudah. ●

     

    FAKHRI HUSAINI, PEMAIN NASIONAL 1986-1997 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.