Menembus Surga Yang Tersandera

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menggunakan angkutan umum di Afrika Selatan: tidak direkomendasikan. Begitu pesan yang saya terima dari salah seorang staf keduataan Indonesia di Afrika Selatah. Tapi karena komitemen liputan pertandingan di Nelpruit, saya mau tak mau harus menggunakan bus.

    Perjalanan itu justru jadi pengalaman berharga. Saya pun melihat banyak sisi positif –di tengah seabrek kabar negatif tentang negeri ini— soal keunggulan infrasturktur yang dimiliki negeri pelangi itu.

    Untuk menggunakan bus saya harus membeli tiket di Johannesburg Park Station. Inilah stasiun kereta sekaligus terminal bus yang terletak di daerah pusat kota Johannesburg. Saya datang tak sendirian ke tempat itu. Ada beberapa wartawan Indonesia lain yang juga mengambil pertandingan di Nelpruit, sehingga kami sepakat pergi bersama.

    Kami tiba di stasiun itu dengan kewaspadaan tinggi. Saya sempat membaca di internet stasiun ini terletak di kawasan berstatus “no go” bagi turis. Tapi semua aman saja ternyata.

    Tempat itu terbilang modern. Stasiun kereta terletak di bawah tanah, sedangkan terminal bis di atas. Selain konter tiket yang semuanya sudah terkomputirisasi, di tempat itu juga dilengkapi fasilitas penunjang, seperti bank, toko, mini market, bahkan super market. Taksi meter juga gampang ditemukan di sini.

    ADVERTISEMENT

    Ketika siang itu kami datang, kondisi stasiun cukup ramai. Kami harus mengantri di depan konter tiket bus Citiliner. Di ruang tunggu juga tampak ramai orang menunggu keberangkatan. Mereka rata-rata membawa bagasi yang cukup banyak, seperti pedagang yang habis belanja di Johannesburg.

    Central Park adalah pusat jaringan kereta dan bus di Afrika Selatan sekaligus yang terbesar di Afrika. Di sini ada kereta Metrorail yang melayani para komuter seputar Johannesburg. Juga ada kereta jarak jauh ke berbagai kota esar di Afrika Selatan. Sayangnya untuk kereta ke luar kota itu masih kurang mendukung untuk perjalanan cepat. Ke Cape Town misalnya kareta bisa menghabiskan waktu 28 jam.

    Untuk bus, selain antarkota, terminal ini juga melayani berbagai jurusan luar negeri seperti Botswana, Mozambique, Namibia, dan Zimbabwe.

    Kami agak tergiur harga murah sehingga memilih Citiliner. Bus ini ternyata memiliki kualitas lebih rendah dibanding armada bus lain seperti Greyhound dan Intercape. Tiketnya memang hanya 150 rand (Rp 180 ribu), tapi bus itu ternyata memiliki 2 dan 3 kursi per deretnya. Akibatnya penumpang pun harus duduk dengan bersesak-sesak, bahkan sulit menggerakan kaki.


    Kami tak langsung pergi dan baru berangkat keesokan harinya, saat malam. Ketika datang, kondisi stasiun sangat berbeda. Orang masih ramai, tapi pada pukul 20.00 itu semua toko dan minimarket di tempat itu sudah tutup. Saya jadi ingat bahwa di Johannesburg, karena alasan keamanan, toko dan pusat perbelanjaan memang sudah tutup sebelum jam 19.00.

    Saat itu dalam terminal dingin menggigit kulit dan kami sama sekali tak bisa menemukan penjual makanan atau minuman. Saya jadi ingat keadaan di Stasiun Gambir atau Terminal Kampung Rambutan di Jakarta yang memungkinkan pengunjung bisa leluasa belanja kapanpun datang. Di Kampung Rambutan penjual kopi dan makanan keliling bahkan bisa dengan mudah ditemukan di pelataran dalam terminal hingga tengah malam sekalipun.

    Ketika hendak berangkat, semua penumpang ternyata harus melakukan check-in terlebih dulu. Ini dilakukan di sebuah konter yang juga sudah komputerisasi. Penumpoang yang membawa bagasi ditimbang dan kembali harus membayar biaya tambahan. Saya melihat seorang penumpang yang membawa dua tas besar harus membayar hingga 150 rand.

    Saat mau naik bus, kembali muncul kejutan. Para penumpang diperiksa paspornya. Namun ternyata karena hanya ke Nelpruit, kami bebas pemeriksaan itu. Mereka yang dicek paspornya adalah yang akan terus melanjutkan perjalanan ke Maputo, Mozambique.

    Di perjalanan, karena malam kami tak bisa menyaksikan pemandangan. Akhirnya waktu lima jam di perjalanan lebih banyak dihabiskan untuk tidur.

    Di Nelspruit, dengan bantuan warga setempat yang pernah tinggal di Indonesia, Bobby Shabangu, kami juga sempat mengecap rasanya naik angkutan kota. Moda angkutan ini oleh orang Afrika Selatan disebut dengan taksi. Untuk taksi beneran mereka menyebutnya dengan taksi meter.

    Ada cerita menarik tentang angkutan kota ini. Seperti juga di Johannesburg, angkutan satu ini tak ada yang mencantumkan jurusannya pada kaca atau badan mobilnya.

    Penumpang yang akan naik kemudian harus mengerti isyarat khusus untuk mencari angkutan yang tujuannya cocok. Itulah isyatat tangan. Bila telunjuk diacungkan ke atas berarti penumpang itu akan pergi ke pusat kota. Bila telunjuk di tudingkan ke bawah berarti penumpang mencari angkutan untuk seputar daerah tempatnya berdiri. Cara untik yang sempat mebuat kami tertawa sambil geleng kepala.

    Ketika kembali dari Nelpruit, dua hari kemudian, kami terpaksa harus mencarter angkutan kota. Di kota itu untuk memesan tiket bus yang bagus ternyata harus dilakukan beberapa hari sebelumnya. Untuk Citiliner, pemesanan tiket juga sudah tutup pada pukul 16.00.

    Tapi lagi-lagi keterpakasaan itu membuat kami belajar banyak. Saat itu hari menjelang sore. Sepanjang perjalanan kami ternyata tak putus melewati jalan tol (Trans Afrika) sepanjang 400 km. Perjalanan itulima jam itu betul-betul mulus tanpa hambatan.

    Di rembang sore itu kami juga bisa lebih jelas melihat pemandangan. Di luar jendela tanah datar, kebanyakan seperti tak terurus dan berhias semak belukar atau rerumput yang menguning, mendominasi. Hanya sesekali terlihat ada perkebunan jeruk atau hutan produksi, berseling dengan kompleks perumahan.

    Saat mulai masuk kota Johannesburg, sopir dari Nelspruit itu tak kenal jalan sehingga kami sempat harus keluar masuk jalan tol dalam kota untuk mencari arah. Saya pun segera menyadari, mobil kami bisa dengan bebas keluar masuk jalan tol, yang halus mulus dan sudah terintegrasi ke seluruh bagian kota, tanpa harus membayar.

    Belakangan saya mendapat informasi bahwa tol dalam kota di Johannesburg memang sepenuhnya bebas biaya. Hanya mobil yang mau ke luar kota yang harus membayar tol, yang besarnya sekitar 60 rand (Rp 72 ribu). Hmh, kondisi sungguh menggiurkan.

    Saya pun sadar. Seandainya tak dibebani tingkat kriminalitas tinggi –disebutkan rata-rata ada 50 pembunuhan dalam sehari-- Afrika Selatan bisa jadi sebuah tempat yang sangat menakjubkan untuk ditinggali atau dikunjungi. Alamnya indah, sebagian infrastrukturnya juga sudah sangat maju. Negara ini ibarat surga yang tersandera masalah kemanan.

    Nurdin Saleh (Johannesburg)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.