Orang-orang Gila Bola

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suporter Ghana. REUTERS/Ina Fassbender

    Suporter Ghana. REUTERS/Ina Fassbender

    TEMPO Interaktif, Johannesburg - Piala Dunia telah mengundang tak kurang dari 350 ribu turis dan suporter datang ke Afrika Selatan. Mereka memiliki kesamaan: diselimuti hasrat berlebih akan sepak bola dan menganggap olahraga ini sebagai hal yang sangat berarti dalam hidup.

    Temuilah Connie Carroza. Wanita berdarah Italia itu datang sehari setelah pembukaan bersama Sam Ng, suami yang sudah dinikahinya selama 16 tahun. Ia begitu antusias ketika mengetahui bahwa saya berasal dari Indonesia. "Saya juga pernah tinggal di Malaysia. Apa kabar?" tanyanya seraya tersenyum.

    Di negeri jiran itu pula ia bertemu dengan suaminya. Tapi kini keduanya hidup di Kanada. Connie sendiri memegang dua paspor: Italia dan Kanada. Ia bekerja sebagai staf bagian keuangan di sebuah pusat penelitian bio effect di sebuah universitas negara itu. Suaminya dalam empat tahun terakhir ini menjadi seorang chef.

    Pasangan itu disatukan oleh kecintaan pada sepak bola. Keduanya sudah sempat mengecap Euro 2004 serta Piala Dunia 2006 secara langsung. Kali ini mereka juga memutuskan datang ke Afrika Selatan. Connie kebetulan sedang berlibur, sedangkan Sam, yang saat itu berdandan dengan gaya rambut Elvis Presley, sengaja mengambil cuti.

    ADVERTISEMENT

    Untuk biaya ke Afrika Selatan, mereka rela menabung sejak jauh hari. "Kami menghabiskan tak kurang dari US$ 20 ribu untuk biaya selama sebulan. Naik hampir dua kali lipat dibanding biaya untuk Piala Dunia sebelumnya," katanya. "Soal biaya itu, saya bahkan tak mau memikirkannya. Karena itu betul-betul gila, sangat gila."

    Keduanya semula hendak tinggal di hotel, tapi ternyata tempat incaran mereka di Johannesburg menaikkan harga secara gila-gilaan, yang sebelumnya 400 rand sehari menjadi US$ 170.

    "Akhirnya kami memutuskan tinggal di Bloemfontein di rumah penduduk. Harganya hanya US$ 50 per hari. Jauh lebih murah dan kami pun berkesempatan mengenal budaya setempat dengan lebih baik," kata wanita 48 tahun itu.

    Connie menjagokan tim Italia dalam Piala Dunia kali ini, sedangkan suaminya mendukung tim Inggris. Kini, setelah Italia tersingkir, ia masih akan mengikuti pertandingan demi pertandingan dengan saksama. "Saya justru sangat menikmati kejutan-kejutan yang terjadi," katanya.

    Hasrat menggebu akan sepak bola juga ditunjukkan Luis Relondo dari Honduras. Pria 37 tahun itu datang bersama istri dan kedua putranya yang masih balita. Ia menginap di Pretoria agar lebih dekat dengan suporter lainnya. "Karena saya adalah koordinator suporter dari negara kami," katanya.

    Luis berbadan besar dan gempal. Tangan lebat berbulu. Tapi begitu mengobrol, ia sangat ramah dan antusias. Hatinya juga mudah tersentuh. "Melihat bendera negara kami berkibar di jalanan dan stadion, bulu-bulu saya merinding. Ini seperti mimpi," katanya.

    Ia mulai aktif mengikuti tim Uruguay sejak 1994, tapi baru menjadi koordinator suporter sejak 2001. Kali ini, ke Afrika Selatan, ia mengkoordinasi tak kurang dari 1.500 suporter.

    Untuk biaya kedatangannya dan keluarga, ia memang harus merogoh kocek cukup dalam. "Bisa untuk beli rumah," katanya tanpa mau menyebut jumlahnya.

    Tapi soal uang, ia tak kesulitan, karena memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang aplikasi program telepon seluler. Perusahaannya itu bahkan memberikan hadiah kepada 50 suporter untuk menyaksikan tim Honduras di Afrika Selatan.

    Setelah Honduras tersingkir, ia tampak geregetan. "Kami sudah menunggu 24 tahun. Ini harusnya jadi saatnya. Masyarakat juga membutuhkan kabar bahagia di tengah kondisi politik yang tak nyaman," katanya penuh penasaran.

    Raimundo Reyes, 42 tahun, adalah suporter lain asal California. Ia datang bersama adiknya, Tony Reyes. "Kami juga datang ke Jerman untuk menyaksikan Piala Dunia sebelumnya," katanya.

    Raimundo hanyalah seorang guru sekolah dasar di kotanya. Tapi kecintaannya pada sepak bola membuat dia rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung buat bekal ke Afrika Selatan. "Kebetulan saat ini saya sedang libur dan baru akan bekerja kembali pada awal Juli nanti," katanya.

    Berdasarkan pengalaman sebelumnya, Raimundo kini sudah tahu cara murah menonton pertandingan Piala Dunia. "Untuk tiket pesawat, sudah kami pesan setahun lalu. Tiket pertandingan juga sudah kami pesan jauh-jauh hari," katanya.

    Untuk rute pesawat, mereka mencari rute tak biasa, dengan cara berpindah pesawat beberapa kali. Untuk sampai di Johannesburg, mereka berangkat dari California, transit di New York, lalu ke Madrid, dan akhirnya ke Johannesburg. "Harga tiketnya jadi lebih murah," katanya.

    Raimundo gembira karena dua tim dukungannya, Meksiko dan Amerika Serikat, sama-sama lolos ke babak 16 besar. "Meksiko adalah negara asal saya, sedangkan Amerika Serikat adalah negara saya saat ini," katanya.

    Mika Fischer, suporter Amerika Serikat yang datang dari Jakarta, datang ke Johannesburg untuk tujuan ganda. Selain untuk sepak bola, ia ingin bertemu dengan teman-teman aktivis lembaga swadaya masyarakatnya yang banyak bergerak di Afrika Selatan.

    Pria 27 tahun itu lahir di Bali. Sempat sekolah di New York, sejak tiga tahun lalu ia kembali ke Jakarta untuk bekerja di Bank Dunia, dan kini tinggal di Bendungan Hilir.

    Ia tak membutuhkan biaya banyak untuk melihat gebyar Piala Dunia--hanya Rp 13 juta untuk tiket pesawat. Untuk tempat tinggal, ia menumpang di rumah teman, dan untuk menonton ia mendapat karcis gratis dari beberapa aktivis LSM yang menjadi sahabatnya. "Asyik, kan?" katanya dalam bahasa Indonesia yang lancar.

    Sayangnya ia tak bisa menonton hingga final, karena jatah cuti dari kantornya hampir habis. "Saya harus kembali pada 5 Juli," katanya.

    Lalu, apa yang membuat para suporter itu begitu kepincut dengan sepak bola? Connie  punya jawaban pasti. Ia lahir dan dibesarkan di Italia. "Di negara kami, semua orang terlahir untuk sepak bola," katanya. Ia juga sudah menemukan esensi dan keindahan permainan satu ini. "Semua sekat, semua kelas, semua perbedaan akan lebur dengan sepak bola," katanya.

    Nurdin Saleh (Johannesburg)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.