Yang Menangis dan Tertawa di Piala Dunia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penjaga Gawang Tim Nasional Inggris Robert Green. AP Photo/Michael Sohn

    Penjaga Gawang Tim Nasional Inggris Robert Green. AP Photo/Michael Sohn

    TEMPO Interaktif, 1. Lelucon dari Prancis
    Orang tahu, pria-pria Prancis dikenal romantis. Orang juga mafhum sepak bola Prancis bukanlah yang terburuk di dunia. Tapi di Piala Dunia 2010, semua pencinta sepak bola tahu, tim Prancis adalah tim terburuk. Ini bukan cuma soal betapa minimnya gol yang dihasilkan. Tapi dimulai dari bagaimana Prancis lolos ke Afrika Selatan berkat bantuan hand ball penyerang Prancis, Thierry Henry. Semua orang mengutuk tindakan itu. Tapi Prancis, terutama pelatih Raymond Domenech, selalu pasang muka tak berdosa.

    Kutukan pencinta sepak bola sedunia itu kini menjadi nyata. Prancis menjadi juru kunci klasemen di Grup A. Tim yang penuh dengan bintang--dari Frank Ribery, Patrice Evra, William Gallas, sampai Nicolas Anelka--itu cuma bisa mencetak satu gol. Titik terendah Prancis adalah setelah dikalahkan Meksiko 0-2. Anelka mengumpat Domenech. Domenech pun membalas dengan memecat Anelka. Tim pun lalu memboikot latihan. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy sampai harus turun tangan meluruskan kebengkokan gaya pelatih Domenech.


    2. Diego Armando Maradona

    Tak ada yang menyangkal pelatih Argentina, Diego Armando Maradona, merupakan sosok kontroversial. Dia punya rekor Piala Dunia yang baik. Bahkan jauh lebih baik ketimbang saat babak penyisihan. Argentina menyapu 100 persen kemenangan di Grup B. Rekor ini bahkan lebih baik daripada Brasil. Tapi, yang membuat kaget adalah gaya manajemen Maradona. Dia selalu menggunakan manajemen "peluk dan cium" kepada semua anak buahnya. Apakah dia gay? "Gila, tentu tidak," kata Maradona. Lelaki yang selalu mengenakan dua jam tangan itu tetap lebih suka perempuan, khususnya pacarnya. "Namanya Veronica, rambutnya blonde, umurnya 31 tahun," katanya senang.

    3. Selalu Ada Kejutan

    Putaran pertama Piala Dunia selalu penuh kejutan. Dulu, pada 1950 orang mengenang momen yang disebut "Keajaiban di Rumput" saat tim Amerika Serikat mengalahkan Inggris. Kejadian itu nyaris berulang di Piala Dunia kali ini. Pada putaran pertama skor kedua tim 1-1. Kejutan lainnya Swiss, yang pada Piala Dunia empat tahun lalu di Jerman tak bisa membuat satu pun gol--kali ini mengejutkan dengan mengalahkan juara Eropa, Spanyol, 1-0.

    Selandia Baru, yang selama ini tak punya tradisi sepak bola--lebih dikenal dengan prestasi rugbi--bisa menahan imbang Italia 1-1. Dan itu adalah awal dari gerbang "neraka" yang harus dilewati Italia. Squadra Azzurri itu bahkan menyerah 2-3 kepada Slovakia dan terpaksa menduduki posisi paling buncit di Grup F. Itu mengingatkan orang pada kekalahan Italia pada 1966 di hadapan Korea Utara. Saat pulang ke Italia, pasukan Azzuri dilempari tomat oleh pendukungnya.

    4. Vu-vu-Voom

    Apa pun pendapat Anda tentang vuvuzela, Anda harus mendengarkan sendiri lengkingannya saat tuan rumah vuvuzela, Afrika Selatan, mencetak gol. Gol dan vuvuzela itu menjadi pembuka pertandingan perdana Piala Dunia 2010. Aksi Siphiwe Tshabalala menjebol gawang Meksiko dengan tendangan kaki kiri cukup memukau.

    Sayang tim Bafana Bafana tak bisa mempertahankan kemenangan. Pada akhir pertandingan, mereka harus puas dengan skor imbang 1-1. Afrika Selatan gagal mengulang sukses bahwa tuan rumah selalu lolos ke putaran kedua. "Hati kami sekarang begitu perih," kata Walter Ramagwalivha, pendukung Afrika Selatan.


    5. Selamatkan Amerika!

    Amerika Serikat, seperti Inggris, tak pernah melaju dengan mudah. Tim ini memang telah menaklukkan Brasil dalam pertandingan di luar Piala Dunia. Tapi di ajang Piala Dunia sesungguhnya, Amerika gagal mencetak kemenangan fantastis.
    Setelah menaklukkan Aljazair, Amerika dan Inggris sama-sama lolos ke putaran 16 besar. Tendangan Landon Donovan menjungkalkan Aljazair. Namun, prestasi Donovan ternyata tak bisa membawa Amerika lebih jauh. Pada putaran kedua, Amerika harus menyerah 1-2 kepada Ghana. Sejauh ini, itulah prestasi terbaik Amerika Serikat sejak 1930.

    6. Pertandingan Penuh Tangis

    Di negerinya, dia dijuluki sebagai "Wayne Rooney Korea Utara". Tapi Jong Tae-se tak setangguh Rooney. Dia menangis tak henti-henti saat lagu kebangsaan Korea Utara dinyanyikan. Itu momen yang sungguh mengiris hati. Di Piala Dunia kali ini, Korea Utara mencetak sejarah. Tim ini tampil untuk pertama kalinya setelah absen sejak 1966. Sayang, momen yang layak dikenang itu pupus cepat. Korea Utara dihancurkan Portugal 0-7 dan kalah 1-2 oleh Brasil. Jong kembali menangis.

    7. Tentang Inggris

    Orang sudah letih mendukung Inggris. Tim dengan bintang-bintang bertebaran itu di bawah asuhan Fabio Capello tetap saja bukan tim yang enak ditonton. Wayne Rooney mandul di babak penyisihan grup. Gelandang Steven Gerard dan Frank Lampard sibuk berkompetisi sendiri sehingga jarang menghasilkan umpan yang baik. David Beckham yang ditunggu-tunggu penggemarnya tak bisa tampil karena cedera. Inggris memang lolos ke putaran kedua, tapi penampilannya mengecewakan. Saking kecewanya, Pavlos Joseph, salah satu pendukung Inggris, diam-diam menerobos keamanan dan mengintip ruang ganti tim Inggris. Saat ditangkap dia berkilah sedang mencari toilet.

    8. Hiburan untuk Denmark

    Tim Dinamit boleh saja tersingkir pada putaran pertama Piala Dunia. Tapi tim ini punya hiburan yang menakjubkan, yakni gol Nicklas Bendtner saat Denmark menaklukkan Kamerun 2-1. Bendtner benar-benar memberikan pertunjukan ajaib. Setelah mendapat umpan, dia mengejutkan kiper Kamerun dengan serangan kilat. Serangan itu dibangun dari sebuah umpan dari jarak 54 meter ke sayap kiri Kamerun. Ya, umpan jauh, lebih dari separuh lapangan bola. Umpan itu kemudian disodorkan ke Bendtner. Gol yang indah.


    9. Jabulani yang Blunder

    Selain soal vuvuzela, Piala Dunia kali ini banjir kecaman terhadap bola Jabulani. Bola buatan Adidas ini dituding menyulitkan kiper dan pemain karena pantulannya justru kelewat sempurna. Adidas keliru menamakan Jabulani, bahasa Afrika yang artinya gembira. Jabulani justru membikin sedih. Inggris adalah korban pertama Jabulani. Kiper Inggris, Robert Green, melakukan blunder ketika menangkap bola yang mudah. Bola itu ternyata lepas dari tangannya dan terus bergulir. Setelah Green, banyak korban berjatuhan. Pantai Gading dan Korea Utara adalah korban berikutnya. Brasil memanfaatkan Jabulani untuk menghasilkan tendangan pisang atau melengkung. Belakangan, FIFA pun mengakui bola ini bermasalah, tapi Peter Cech, dalam wawancaranya dengan Nurdin Saleh dari Tempo di Afrika Selatan mengatakan, "Jangan salahkan bola!"

    10. Kekalahan Afrika

    Pesta besar Piala Dunia kali ini memang digelar di Benua Afrika, tapi perhelatan ini bukanlah surga bagi tim-tim Afrika. Hanya Ghana yang berhasil lolos ke putaran kedua. Sebelum lolos, Ghana benar-benar di ujung tanduk. Kemenangan Ghana ditentukan oleh penalti. Ghana mendapat hadiah penalti lima menit sebelum pertandingan usai. Penyerangnya, Asamoah Gyan, berhasil menunaikan tugas berat ini. Ghana akhirnya maju ke putaran 16 besar melawan Amerika Serikat. Di babak ini Ghana meraih kemenangan 2-1. Lagi-lagi pahlawan Ghana adalah Gyan, yang mencetak gol kedua pada babak perpanjangan waktu. BURHAN SOLIHIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.