Kemenangan Atas Inggris Picu Euforia Media Jerman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Alessandra Tarantino

    AP/Alessandra Tarantino

    TEMPO Interaktif , Berlin – Kemenangan telak 4-1 Jerman atas Inggris dalam laga 16 Besar di Bloemfontein, Minggu  (27/6), memunculkan euforia di negara mereka. Media-media Jerman pun menjadikan kemenangan Der Panzer sebagai berita utama mereka.

    Insiden gelandang Inggris Frank Lampard yang sudah melewati garis gawang Jerman saat kedudukan masih 2-1, tapi tak dinyatakan gol oleh wasit Uruguay Jorge Larrionda, tak luput dari pembahasan media-media tersebut.

    “Terima kasih Dewa Sepakbola,” tulis situs dari tabloid Jerman Bild. ”Setelah 44 tahun, Wembley akhirnya terbalas. Kini, publik Inggris bisa tahu apa yang kiat rasakan selama ini.”

    Publik Jerman memandang 'gol hantu' Lampard sebagai karma bagi gol serupa yang dicetak Geoff Hurst ke gawang Jerman pada final Piala Dunia 1966 di Wembley yang ikut membantu Inggris menang 4-2 dan menjadi juara.

    “Kini kami berhenti,” tulis harian Westdeutsche Allgemeine dan Welt, untuk menyatakan bahwa kini Jerman tak akan lagi mempemasalahkan gol kontroversial Hurst di Wembley 44 tahun silam itu.

    Seperti tembakan Lampard, sepakan Hurst saat itu juga menghantam mistar dan memantul jatuh ke lapangan dan terbang kembali keluar gawang. Bedanya, saat itu wasit menyatakannya sebagai gol meski tak diketahui secara pasti apakah bola telah melewati garis gawang atau tidak karena teknologi yang terbatas.

    Hingga saat ini pihak Jerman tetap yakin bola belum melewati garis gawang an menyebut gol kontroversial itu sebagai 'Gol Wembley.' Harian Jerman Suddeutsche Zeitung pun menulis: 'Wembley kini disebut Bloemfontein.'

    “Segalanya mungkin berbeda jika wasit mengesahkan gol itu yang akan membuat kedudukan menjadi 2-2 di menit ke-38,” tulis Suddeutsche.

    “Itu adalah pertandingan yang mengukir sejarah, tapi belum akan ditulis dalam buku sejarah. Kisah ini akan disampaikan berbeda di Jerman. Dan, di Inggris perdebatan abadi tentang skenario 'apa yang mungkin terjadi jika'.”

    Berbeda dengan di Jerman, media di Uruguay justru melontarkan permintaan maaf kepada Inggris atas keputusan kontroversial yang diambil wasit asal negara mereka.

    Harian Uruguay, El Pais, bahkan mendesak Asosiasi Sepakbola Uruguay dan FIFA untuk menirimkan surat permohonan maaf kepada Inggris.

    DAILYMAIL | A. RIJAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.