Melongok Proyek Rumah Gratis di Johannesburg

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Rebecca Dibolayi sangat ceria. Senyum tak lepas dari bibirnya. Mendengar musik di kejauhan badannya pun langsung menari berlenggak-lenggok di pinggir jalan itu. Empat anak kecil yang ada di sisinya tampak mengikuti gerakannya.

    "Kami tengah menyiapkan pesta ulang tahun kejutan untuk nenek," kata Rebecca sambil menunjuk ke arah rumah di kiri jalan yang jadi sumber suara musik itu.

    Rebecca saya temui di Cosmo City, Randburg, Johannesburg. Inilah kompleks perumahan yang dibangun atas kerja sama Pemerintah Kota Johannesburg dan Provinsi Gauteng. Tempat ini ditujukan untuk relokasi warga daerah kumuh di seputar Johannesburg sejak 2005.

    Rebecca tinggal di sana bersama putrinya yang lahir di luar nikah, juga adik dan neneknya. Keluarga ini memperoleh satu unit rumah secara gratis, seperti juga 5.000 keluarga lainnya.

    Perumahan itu terbilang nyaman. Rumah-rumah mungil berderet di samping jalan yang mulus beraspal. Saat melihat rumah Rebecca, saya cukup tercengang. Rumah yang ditempatinya ternyata cukup lumayan kualitasnya. Rumah berukuran 6 x 7 meter itu memiliki dua kamar, satu kamar mandi, serta ruang tamu yang menyatu dengan dapur. Yang menggiurkan adalah luas tanahnya: 250 meter persegi. Di Indonesia, rumah kelas atas pun jarang yang memiliki tanah seluas itu.

    ADVERTISEMENT

    "Semua gratis. Kami hanya perlu membayar biaya listrik dan air setiap bulannya," kata Rebecca. Wanita berusia 22 tahun itu membayar listrik 150 rand setiap bulannya dan untuk air sekitar 20 rand. Para penghuni juga sudah dijanjikan pemanas air gratis. "Baru lima rumah yang dipasang karena kami diminta memastikan menyukainya atau tidak sebelum dipasang secara massal."

    Dibanding rumah tipe 21 di Indonesia, rumah itu terbilang apik. Dindingnya menggunakan bata eksose dengan atap dari asbes dan plafon gypsum. Lantai rumah bagian dalam juga sudah berkeramik. "Di sini enak, kehidupan kami jadi lebih sederhana dan nyaman," kata Rebecca.

    Sebelumnya ia tinggal di daerah kumuh di bagian utara Johannesburg. "Di sana rumah-rumah sangat sempit dan dibuat dari seng. Tak ada listrik sehingga setiap malam kami harus menggunakan lilin. Memasak pun saat itu harus menggunakan parafin," kata wanita yang baru lulus SMA itu.

    Di tempat barunya, sang adik juga bisa bersekolah secara gratis. Pemerintah sudah menyediakan dua sekolah dasar dan satu sekolah lanjutan untuk warga setempat.

    Rumah gratis itu adalah bagian dari program Reconstruction and Development Programme (RDP) yang sudah digagas sejak pemerintah Nelson Mandela, tapi baru bisa dilaksanakan pada 2001. Program ini ditujukan untuk mengentaskan masyarakat miskin dan mengatasi problem sosial dengan cara memindahkan warga dari tempat kumuh ke lokasi baru, yang memiliki fasilitas sosial lebih bagus.

    Di seluruh Afrika Selatan saat itu, diperkirakan ada 12,5 juta orang yang tak memiliki rumah layak. Selain Cosmo, masih ada sejumlah lokasi rumah bersubsidi lain di Johannesburg, termasuk salah satunya di Soweto, konsentrasi pemukim warga kulit hitam di Johannesburg. Selain pemindahan penduduk, RDP dilengkapi program penyediaan tenaga kerja lewat program padat karya pembuatan jalan dan fasilitas umum lainnya.

    Untuk memiliki rumah gratis itu tak sulit. Rebecca ingat, saat masih tinggal di tempat lama, ia beberapa kali didatangi petugas untuk memastikan bahwa ia dan keluarganya memang warga di tempat kumuh itu. Setelah dievaluasi, ia pun bisa mendapatkan rumah di Cosmo secara gratis sejak dua tahun lalu. "Tapi tak semua orang bisa memperoleh rumah gratis. Untuk kompleks rumah di sebelah kiri jalan masuk tadi, warganya masih harus membayar separuh dari harga rumah. Karena mereka dianggap lebih mampu," katanya.

    Pemerintah Afrika Selatan memang menerapkan skema subsidi rumah berdasarkan tingkat penghasilan. Pada 2001, ukuran yang dipakai adalah mereka yang berpenghasilan hingga 1.500 rand (Rp 1,8 juta) mendapat subsidi hingga 16 ribu rand (Rp 19,2 juta). Mereka inilah yang mendapatkan rumah secara gratis. Untuk pendapatan di atas itu, ada yang harus berbagi harga rumah, ada pula yang dipindahkan tapi harus membayar penuh atas harga rumah barunya. Mereka yang berpenghasilan 2.501 rand hingga 3.500 rand masih berhak atas subsidi sebesar 5.500 rand.

    Dalam sebuah baliho yang dipasang di pinggir jalan, pemerintah Afrika Selatan mengklaim telah membangun sebanyak 2,7 juta rumah bersubsidi dalam 14 tahun terakhir.

    Di Cosmo City ada sekitar 3.000 rumah, yang sebagian harganya harus ditanggung penghuni. Sedangkan 3.300 rumah lain dibeli secara penuh oleh pemilik dengan harga lebih murah daripada harga pasaran.

    Tapi program ini bukannya tanpa masalah. Kritik sempat gencar tertuju kepada pemerintah berkaitan dengan banyaknya rumah yang tak memenuhi standar kualitas pembangunan di negara itu. Disebutkan, hanya 30 persen rumah yang sudah sesuai dengan standar.

    Pada awal bulan ini, sekitar 1.000 orang juga menggelar demonstrasi untuk menentang pemindahan kepemilikan dan penjualan rumah pada warga asing.

    Di pemukiman Cosmo itu, saya pun melihat bentuk kecil penyelewengan jenis itu. Tak jauh dari rumah Rebecca, di Jalan Nigeria, berdiri sebuah kafe berlantai dua. Di depannya, siang itu, tampak sejumlah lelaki menenggak minuman sambil mengobrol. Kafe itu adalah milik warga setempat yang rumahnya terletak di seberang kafe. Ia semula juga mendapat rumah di sana secara gratis, tapi kemudian terbukti mampu membeli rumah lainnya dan membangunnya dengan megah.

    Rebecca mengakui praktek jual-beli rumah itu memang banyak terjadi. "Bulan lalu ada warga yang baru menjual rumahnya. Harganya 13 ribu rand," katanya. Bukankah itu terlarang? Rebecca pun hanya mengangkat bahu. Tak beda dengan Indonesia, di sini pun aturan tampaknya selalu bisa dibengkokkan.

    Nurdin Saleh (Johannesburg)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.