Robo-Pele Sang Juara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Sementara tim-tim di Afrika Selatan masih bersaing mencapai partai puncak yang sejatinya digelar 11 Juli nanti, Pele telah menahbiskan dirinya sebagai bintang dalam sejarah sepak bola di Singapura. Menggelincirkan bola melewati penjaga gawang di detik-detik akhir pertandingan, Pele membawa timnya keluar sebagai juara turnamen robot sepak bola internasional menjelang pengujung Juni lalu.

    Ya, Pele di Singapura ini memang setubuh robot (humanoid). Robo-Pele—nama lengkapnya—dibuat tim mahasiswa dari National University of Singapore (NUS). Ia bertanding dalam turnamen RoboCup, turnamen sepak bola tahunan antar-robot yang diinisiasi Federasi RoboCup.

    Kelompok nirlaba yang berbasis di Swiss ini telah menggelar turnamen itu sejak 1997, dan berlangsung untuk pertama kalinya di Singapura pada 19-25 Juni lalu. Tahun depan giliran Istanbul.

    Zhou Changjiu, direktur turnamen RoboCup di Singapura, berharap dari tahun ke tahun riset robotik dan teknologi kecerdasan buatan menjadi terbantu perkembangannya lewat turnamen itu. “Sepak bola adalah permainan terbaik untuk benar-benar menunjukkan kemampuan mental, fisik, dan begitu banyak keterampilan lainnya, termasuk kerja sama tim,”kata Zhou.

    Selain aspek teknis, sepak bola dipilih Federasi RoboCup karena popularitasnya. Ini diharapkan bisa mengangkat perhatian dan ketertarikan masyarakat luas terhadap dunia robotik.

    RoboCup 2010 yang baru saja berlalu di Singapura sendiri telah memamerkan berbagai macam robot, dari android yang berukuran uang receh hingga humanoid jangkung setinggi 1,3 meter. Semuanya mencoba menunjukkan kebolehannya “mengolah bola”di lapangan.

    Total sebanyak lebih dari 500 tim dari 43 negara bersaing dalam beberapa liga—yang dikelompokkan berdasarkan dimensi—dalam turnamen tahun ini. Di antara mereka adalah tim dari Massachusetts Institute of Technology dan Harvard University, keduanya dari Amerika Serikat.

    “Tim kami adalah RO-Pe,” kata dosen teknik mekanika di NUS, Chew Chee-Meng, memperkenalkan tim mahasiswa yang dibimbingnya. Chew menerangkan, ada dua arti untuk nama itu, yakni Robot for Personal Entertainment atau bisa juga Robot-Pele. “Sekarang Anda tahu siapa pemain yang kami jadikan model, kan?”kata Chew.

    Sebuah usaha tim yang luar biasa karena Robo-Pele sukses menghidupkan sang legenda dengan kebolehannya memperdaya robot-robot buatan Eindhoven University of Technology, Belanda, dan Virginia Tech, Amerika Serikat, di babak kualifikasi grup. Di final, RO-PE membuat menangis tim dari Singapore Polytechnic dengan golnya pada menit terakhir.

    “Lupakan Afrika Selatan, juara baru telah lahir di Singapura,” pekik panitia seusai pertandingan final itu.

    Seperti yang berlangsung di Afrika Selatan, kemenangan dalam setiap pertandingan di Singapura ini memang ditentukan oleh jumlah gol yang dilesakkan ke gawang tim lawan. Meski begitu, beberapa aspek dari pertandingan tak bisa tidak untuk direkayasa demi mengakomodasi keterbatasan teknologi serta biaya tinggi yang masih merintangi penciptaan dan perakitan sebuah robot.

    Setiap tim dalam turnamen ini hanya terdiri atas 2-5 pemain. Setiap pertandingan juga tidak lebih lama dari 40 menit serta lapangan terluas yang digunakan hanya berukuran 18 x 12 meter.

    Namun Carlos Antonio Acosta Calderon, dosen pembimbing tim finalis Robo-Erectus Senior dari Singapore Polytechnic, menegaskan bahwa menempatkan robot di lapangan untuk bermain bola bukan perkara gampang. Ini tidak sama dengan robot mainan anak-anak.

    "Robotik adalah sebuah bidang ilmu multidisiplin. Anda membutuhkan banyak orang dengan beragam keahlian," kata dia menunjuk bahwa insinyur komputasi, mekanika, dan elektronika terlibat dalam tim yang dibimbingnya. Chew juga mengatakan bahwa kemampuan mekanika Pele tidak murah. Biaya yang telah dihabiskan lebih dari US$ 72 ribu atau sekitar Rp 650 juta. Anggota timnya juga harus memeras otak membangkitkan program algoritma agar Pele bisa melakukan sekadar gerak berjalan atau melihat sekeliling. Itu belum sampai kepada kemampuan sang robot untuk menyuguhkan apa yang pernah disebut Pele sungguhan sebagai “permainan yang cantik”.

    Biaya masih mahal dan tingkat kesulitan masih dirasa tinggi dalam merakit serta menciptakan pemrogramannya, tapi Zhou yakin masa depan pengembangan robot cerah.“Saya bisa melihat dalam 20 tahun, setiap rumah pasti akan memiliki robot, persis sama dengan yang sekarang terjadi dengan komputer,”kata dia.

    Pada 2050, Zhou punya mimpi: para robot sudah akan bisa bertanding melawan generasi penerus Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

    WURAGIL| ROBOCUP | PHYSORG | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.