Dedikasi Si Badut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diego Forlan meluapkan kegembiraannya setelah membobol gawang Ghana.  AFP/ RODRIGO ARANGUA

    Diego Forlan meluapkan kegembiraannya setelah membobol gawang Ghana. AFP/ RODRIGO ARANGUA

    TEMPO Interaktif ,Diego Forlan masih bisa tersenyum meski Uruguay gagal menjadi juara dunia. Penyerang berusia 31 tahun ini terpilih sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 2010 dan berhak meraih penghargaan Bola Emas, yang sebelumnya diraih legenda Prancis, Zinedine Zidane.

    Terpilihnya Forlan menjadi kejutan terakhir Piala Dunia. Sebelumnya, nama-nama pemain yang tampil di laga final seperti Wesley Sneijder, David Villa, Xavi Hernandes, Arjen Robben, atau Andreas Iniesta lebih difavoritkan. Namun berdasar polling yang diikuti media peliput Piala Dunia 2010, Forlan menjadi pemain yang paling banyak dipilih dengan meraup 23,4 persen. Sneijder di peringkat kedua dengan 21,8 persen, dan Villa di tempat ketiga dengan meraih 16,9 persen.

    “Inilah penghargaan yang aku menangkan, terima kasih untuk teman-teman satu tim,” tulis Forlan dalam akun Twitternya. “Aku dibawa mereka dan dilemparkan ke dalam kolam renang,” lanjut Forlan menerangkan cara tim Uruguay merayakan kemenangan Forlan.

    Sebelum Piala Dunia 2010 dimulai, Uruguay hanya diunggulkan 100: 1. Meski tidak diunggulkan, juara dua kali itu ternyata mampu melaju hingga semifinal. Peran Forlan membawa timnya hingga babak semifinal memang cukup besar. Sebagai panutan, Forlan mampu memberi pengaruh positif. Kehadirannya selalu mendongkrak kepercayaan diri rekan-rekannya.

    Forlan --ia lahir di Montevideo, 19 Mei 1979-- selalu tampil 100 persen untuk Uruguay. Lima gol yang ia cetak di Afrika Selatan menjadi bukti bahwa dedikasinya bagi La Celeste tak perlu diragukan. Dengan lima gol itu, Forlan masuk dalam daftar pencetak gol terbanyak bersama Villa, Sneijder, dan penyerang muda Jerman, Thomas Muller.

    Nama Forlan mulai menjulang sejak Manchester United merekrutnya dari Independentie pada 2002. Di MU, pemain yang dijuluki Si Badut ini gagal bersinar. Ia kemudian pindah ke La Liga Spanyol bersama Villareal pada tahun 2004 dan sejak tiga musim belakangan memperkuat Atletico Madrid.

     

    Spanyol, penyerang licin yang punya tendangan melengkung yang akurat ini menemukan kembali ketajamannya. Ia sudah mencetak 120 gol bagi Villareal dan Atletico semenjak pindah ke Spanyol. Dengan gol-gol itu, ia dua kali menjadi pencetak gol terbanyak La Liga dan sekali di Eropa.

    Bersama tim nasional Uruguay yang ia perkuat sejak 2002, Forlan telah bermain sebanyak 69 kali dan menyumbangkan 29 gol. Gol terakhir untuk Uruguay ia cetak ke gawang Jerman dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia.

    Meski meraih penghargaan bergensi, Forlan mengaku masih sedih karena gagal membawa Uruguay melaju ke final. “Aku senang dengan penghargaan ini, tetapi sejujurnya, aku sedikit sedih. Kalah di semifinal adlah pukulan yang keras.”

    AFP|FIFA|ARIS M


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.