Tanpa Gol, Final Piala Dunia Masuki Babak Tambahan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lucas Biglia berbenturan dengan Toni Kroos saat laga final piala dunia di Brazil, 14 Juli 2014. Martin Rose/Getty Images

    Lucas Biglia berbenturan dengan Toni Kroos saat laga final piala dunia di Brazil, 14 Juli 2014. Martin Rose/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Final Piala Dunia 2014 antara Jerman dan Argentina tak menghasilkan sebiji gol pun selama 90 menit pertandingan. Kedua tim pun terpaksa menjalani babak tambahan.

    Serupa dengan babak pertama, meski nihil gol, kedua tim terlihat ngotot sepanjang 45 menit babak kedua. Beberapa peluang pun tercipta.

    Pada menit ke-47, misalnya, Messi yang lolos dari jebakan off-side nyaris membawa Argentina unggul. Mendapat umpan terobosan dari lini tengah, pemain Barcelona itu tinggal berhadapan dengan Neuer. Sayang sekali, tendangannya masih melebar di kiri gawang Jerman.

    Jerman tak kalah gertak. Pada menit ke-60, berawal dari umpan silang Philipp Lahm di sisi kiri pertahanan Argentina, Miroslav Klose menanduk bola tanpa mampu dihadang pemain belakang Argentina. Duk! Bola bergulir lemah dan mampu diamankan Sergio Romero dengan mudah.

    Semenit berselang, penggemar Argentina kembali dibuat deg-degan. Martin Demichelis terlalu lama mengontrol bola di daerah permainan sendiri sehingga direbut Klose. Bola digulirkan Klose ke sisi kanan pertahanan Argentina, menuju Thomas Muller.

    Muller lalu melepas umpan tarik ke kotak penalti, menuju Ozil yang tak terjaga. Alih-alih langsung mengeksekusi bola, Ozil terlihat berusaha mengontrol. Tapi kontrol pemain Arsenal itu tak maksimal. Bola mengenai lututnya dan bergulir ke luar lapangan.

    Setelah itu, beragam peluang lain berentetan menghujani gawang Argentina. Jerman praktis menguasai permainan dan mengurung Argentina. Mascherano cs pun bekerja keras. Tapi skor tanpa gol tak berubah.

    ARIE FIRDAUS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.